Back Again.......
Saat ini, hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang bergema di meja makan. Suasana ini terasa sangat asing bagi Milka. Dulu, semasa orang tuanya masih hidup, ia jarang sekali ikut berkumpul bersama keluarga besar. Namun kini, apa daya? Ia harus menggantikan peran itu.
Tak ingin hidup sebatang kara, gadis itu berusaha mempererat tali kekeluargaan. Meski begitu, di sisi lain, ia juga belum mampu melepaskan diri dari genggaman Albero Dewarnata.
"Bagaimana sekolah kamu, Milka?" tanya Kakek sambil terus menikmati makanannya. Meski terdengar santai, nada suaranya tetap serius.
"Semua baik-baik saja, Kek," jawab Milka tenang.
Albero mengangguk pelan, lalu meneguk segelas air putih.
"Ikut ekskul apa di sekolah kamu?" tanya Riani, suaranya terdengar seperti menyimpan maksud tertentu.
"Dance," balas Milka singkat, sambil tangannya terus memainkan sendok makan di piring.
Beberapa anggota keluarga sontak menoleh ke arahnya.
Devan, dengan dahi mengerut, akhirnya angkat bicara.
"Dance?"
"Kamu yakin dengan itu? Kenapa harus dance? Apa yang bisa kamu dapat?" tanya Devan, menatap Milka tajam seolah ingin menggali alasan di balik pilihan gadis itu.
"Tante juga setuju sama om kamu," timpal Rania, ibu Karlin. "Mendingan kamu berhenti dari ekskul itu dan mulai belajar bisnis seperti Karlin."
Ucapannya membuat Milka kehilangan selera. Ia menunduk. Mulutnya enggan mengunyah, apalagi menelan.
"Bagaimana, Pa? Usulan saya benar, kan?" tanya Rania dengan penuh harap, menatap Albero.
Albero memperbaiki posisi duduknya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar.
"Nanti kamu hubungi guru les. Minta dibuatkan jadwal belajar," ujarnya tegas. Tak ada ruang diskusi itu perintah.
Milka terdiam. Ia menggenggam kuat garpu di tangan kanan dan meremas gaunnya dengan tangan kiri. Tak habis pikir, kenapa keluarga Karlin begitu suka mengatur hidupnya.
Di seberang meja, senyum penuh kemenangan perlahan terukir di wajah seseorang. Namun di sisi lain, tatapan Gion menyiratkan belas kasihan. Ia tak mampu melepaskan pandangannya dari Milka.
Gion ada di situ bukan tanpa alasan. Orang tuanya adalah mitra bisnis terdekat keluarga Albero, membuat Gion cukup "pantas" berada di lingkaran keluarga besar itu.
Melihat Milka yang tertunduk, Refli yang adalah ayah Gion kini ikut bersuara.
"Saya bukannya mau ikut campur, tapi bukankah belajar bisnis itu bisa membantumu melanjutkan usaha orang tuamu nanti?"
Milka tetap diam. Ia tak ingin menjawab terlebih dipaksa.
Lalu ia angkat wajahnya. Dengan suara pelan tapi tegas, ia berkata:
"Saya punya pilihan, Kek."
Ucapannya menghentikan semua gerak dan suara di meja makan. Semua mata kini tertuju padanya.
"Saya hanya ingin melakukan apa yang memang saya suka, bukan apa yang saya benci," lanjut Milka, kata-katanya menekan, tiap suku kata mengandung keteguhan.
Namun suara dingin Albero segera memotong.
"Saya punya hak, dan saya tidak terima bantahan."
Milka menarik napas dalam.
"Kek...."
"Tidak ada bantahan, selagi itu sudah menjadi keputusan mutlak yang saya buat," potong Albero keras, suaranya menutup semua celah untuk berpendapat.
Maaf jika Milka harus membantah, batin gadis itu, kecewa. Ia menunduk dalam, meremas lebih keras garpu dan gaunnya. Tak ada tempat untuk dirinya yang bebas di meja makan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
JugendliteraturDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
