NEXT....
“Menurut kamu, hubungan itu lebih baik berakhir dengan pertengkaran, atau berakhir dengan keheningan?”
Perjalanan menelusuri koridor rumah sakit, membuat mereka memikirkan jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan begitu saja, hingga saat mereka hendak sampai ke lobi rumah sakit, tak ada yang menjawab pertanyaan Lia, semua diam dalam hening.
Lia dan Pelangi berjalan beriringan di belakang, sedangkan ketiga cowok itu berjalan beriringan di depan keduanya.
Gevan menghentikan langkahnya mengalihkan pandangannya ke arah belakang, dimana kedua gadis itu masih setia mengikuti langkah ketiga cowok yang ada di depan.
“Lia, lo gak perlu ikut, ada gue sama Fajar yang bakalan nganter Mario pulang.”
“tapi gue mau ikut, gimana dong?.” balas Lia dengan keras kepalanya.
“Emang kaka gak di marahin orang tua kalau ikut?,” tanya Pelangi memastikan.
“Gak, papa sama mama aku gak peduli juga kok,” balas Lia membuat Pelangi mengangguk paham. “Ya udah, bareng Kak Lia aja.”tambah Pelangi.
“Yaudah ikut aja, nanti gue yang nganterin pulang, lagian ini masih magrib,” ucap Fajar memutuskan di balas anggukkan kepala dari Gevan.
“Okey.”
∆∆∆∆
Saat itu sore menjelang malam, terlihat dua anak muda yang masih menggunakan seragam, keluar dari sebuah gedung.
Lampu-lampu kota sudah mulai menyala menerangi tempat itu, pertanda malam itu akan tiba.
“Malas banget belajar tentang bisnis-bisnis gitu, di karna inilah, itulah, hitung ini itulah, kok jadi banyak banget.”
Keluh gadis sejak tadi, dengan wajah cemburut, sepanjang langkah mereka menuju parkiran.
“Harusnya ini kesempatan buat lo, untuk ambil alih bisnis orang tua lo kambali, ” ungkap Gion membuat gadis itu memutar bola matanya melerok ke arahnya.
“Gue punya mimpi, dan gua juga orangnya gak ambisius buat hal itu, ada kakek gue kok” balasnya acuh.
“Tapi lo gak apa-apa?,” tanya Gion menatap gadis itu dengan sendu.
Ia berpikir jika Milka pasti sangat sedih saat keluarga besarnya yang mengambil alih bisnis orangtua gadis itu.
Padahal seharusnya gadis itu yang mendapat warisan orangtuanya sendiri.
“Bahkan kalau papa sama mama masih ada, mereka akan selalu dukung pilihan gue kok. ” balasannya membuat Gion mengerti dengan apa maksudnya.
Tidak ingin terlalu jauh membahas masalahnya Milka berusaha mengalihkan pembicaraan. “Hubungan lo sama Karlin gimana?.”
“Kita tunangan cuma karena bisnis, lagian dia juga suka sama orang lain.”
“Gaje banget lo berdua, mau tunangan juga,” gerutunya membuat Gion tertawa kecil.
“Nikah aja bisa cerai, apalagi ini aja belum tunangan.”
“Hufff benar sih.”
“Ayuk, ” putus Gion mengakhiri percakapan mereka dan mengajak Milka naik ke atas motornya segera.
Sepanjang jalan tidak ada percakapan, keduanya melewati taman kota, gedung pencakar langit, keheningan terjadi sepanjangn perjalanan, kini entah apa yang diinginkan, Milka menyuruh Gion menghentikan motornya.
“Gion berhenti dulu,”
“Kenapa?”
“Yah berhenti dulu, cepat!” gadis itu terus memaksa tak henti.
Gion menghentikan motornya di pinggir jalan dekat taman kota, namun belum sepenuhnya berhenti, gadis itu sudah berusaha turun, ia sedikit berlari mengejar seorang pria tua berusia sekitar 45 tahun, sedang menjual berbagai macam boneka.
“Pak, boneka yang baby shark yang ini berapa?” tanyanya menunjuk salah satu boneka ikan hiu berwarna biru dan kuning.
“Astaga, karena boneka doang?” gumamnya dari belakang.
“harganya 50 ribu.”
Gadis itu masih melihat-lihat warna yang lain. “Saya ambil dua yah pak, ” ucap Milka sambil mengambil dua boneka.
Ia kemudian meminta bantuan Gion yang sudah mendekat ke arahnya memegang bonekanya, sambil tangannya bergerak membuka tas sekolah.
Semakin lama tangan yang bergerak celingak-celinguk dan berhenti sejenak dan yah Milka menarik nafasnya dalam-dalam.
Hufffff………..
Melihat itu Gion paham, ia mengambil dompetnya dan membayar. Soal boneka, tanpa berkata apa-apa, Gion menyerahkan kedua boneka itu kembali ke tangan Milka dan menyerahkan uang dua lembar warna biru kepada penjual.
“Sorry,” satu kata dari gadis itu membuat Gion tersenyum tipis.
“Gak apa-apa, gue suka,”
“Maksudnya?”
“Gue suka lo ngerepotin gue,” ekspresi Gion terlihat jelas, betapa senangnya dia saat itu, ekspresinya benar-benar tak bisa berbohong, ia bahagia melihat gadis itu sangat senang ketika memeluk dua boneka itu.
Tubuh Milka mematung saat elusan kecil di kepalanya membuat ia menatap cowok itu dalam.
Elusan lembut yang ia rasakan membuat Gion tersenyum senang. “Gue pengen kita kayak gini terus,” ucap Gion serius membuat Milka terdiam.
Dalam diam itu Milka berusaha menetralkan hatinya yang bergejolak, ia tak ingin jauh terlarut dengan perasaannya, walau sudah terlanjur.
“Udah ah, jalan yuk.” putusnya melangkah pergi meninggalkan Gion yang masih tersenyum tenang.
Gadis itu melangkah terlebih dahulu ke arah motor yang terparkir di pinggir taman kota.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul stengah tujuh malam. Gion melangkah mengikuti Milka dari belakang.
Dari kejauhan, seseorang sedang melihat mereka sejak tadi, ia bahkan tidak tersenyum, tidak marah, tidak ada ekspresi yang bisa di baca pada wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
Teen FictionDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
