NEXT
Disisi lain ketiga gadis itu masih berkumpul di pojokan kelas dekat jendela, mereka mulai bercerita banyak hal, Diva yang mengoceh dengan cowok fiksinya, Vania dan Milka menjadi pendengar setia.
“Makanya gue tu pengen punya cowok yang emang spek wattpad, udah sempurna, ganteng, perhatian, visualnya oke_”
“Tapi halu,” potong Vania membuat Diva seketika terdiam.
Hening……
Hening beberapa detik tawa Milka bergema keras membuat wajah Diva terlihat semakin sedih.
“Hahahaha, astagaa jangan gitu Vania, jahat banget,”
“Ih, lo juga jahat, ngapain ngetawain gue,” protes Diva dengan bibir mengerucut kesal.
“Lah, gue emang gak salah kan?” tambah Vania menambah pembelaan untuk diri sendiri. “Mereka kan, tercipta dari halu lo doang.”
“Tapi lo jangan jujur jujur amat, itu lo terlalu jujur!”
“Kayaknya kepala gue yang batu, bisa bisa pecah nih, gara-gara perdebatan kalian.” Keluh Milka menghentikan perdebatan mereka.
Dengan wajah cemberut yang terukir jelas di ekspresi kedua sahabatnya membuat Milka tersenyum lucu, namun senyum itu hanya sementara setelah sebuah pertanyaan membuat Milka terdiam sejenak.
“Tadi pagi pas lo sama Gevan tiba, tu anak kenapa gak ada semangat hidup, lo berdua berantem?”
Milka sedikit memundurkan tubuhnya memberikan ekspresi bingung.
“Kayaknya semua normal-normal aja deh, kita lagi gak ada masalah soalnya.”
“Ouh”
“Tu, Gion datang,” tunjuk Diva menggunakan dagunya melihat cowok itu baru tiba di depan pintu kelas mereka.
Milka hanya menoleh tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya. “Bentar yah,” ucap Milka membuat Gion mengangguk seakan mereka sedang punya janji, atau Milka sudah paham kalau kedatangan Gion selalu dirinya.
Setelah mendekat ke arah pintu ruang kelas, senyum mereka saling menyapa, “kemarin gimana?, aman?” tanya Gion membuat gadis itu paham dengan maksudnya.
“Aman kok, gue udah terbiasa sama aturan kakek.”
Tentu kekhawatiran terhadap Milka begitu besar membuat Gion tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian, kedatangan dirinya hanya ingin memastikan kondisi Milka.
“Untuk sekarang lo ikut maunya mereka dulu, kalau udah capek, lo lepas, jangan dipaksakan kalau udah gak tahan.”
“Dih, bacot!” sarkasnya tersenyum remeh.
“Keras kepala juga lo, ini kepala atau batu?,” ejek Gion memukul pelan jidat Milka, perlakuan lembut itu membuat gadis itu tertawa lepas begitu saja. “Kayaknya batu cuma belum pecah.”
Tawa keduanya mulai terlihat jelas seakan dunia milik berdua, “mau di pecahkan pakai sesama batu?”
“Woi gila lo!” sedikit kaget membuat Milka mengakhiri rasa terkejutnya dengan tawa. semakin keras sembari ia terus-menerus memukul Gion yang sama-sama tertawa lepas.
Kini keduanya semakin terlihat serasi, “udah gila mereka berdua, ” bisik Diva membuat Vania hanya geleng-geleng kepala.
“Lo gak punya kelas?” sebuah kalimat dari suara yang tidak asing mengehentikan aktivitas mereka.
“Gue tanya sekali lagi, gak ada tempat lain selain datang ke cewek gue?”
Masih diam…
Milka. Yang tiba-tiba terdiam terlihat seperti sedang menahan diri.
“Lo kalau mau kembali ke tanah bilang, biar gue bantuin,” ucap Gevan sedikit mendekati sembari berbisik, kalimat itu bukan membawa kemarahan untuk Gion, namun kebalikan, ia malah tersenyum sinis dengan tatapan remeh.
“Van_” panggil Milka dengan suara yang berusaha dikontrol, agar hal tersebut bisa mengontrol amarah Gevan.
Sedangkan wajah Gevan mulai memerah, bahkan tangannya mulai tak bisa diam, ingin sekali memukul wajah munafik Gion yang berada depannya, jika keberadaan Milka tak berasa di situ, mungkin Gion akan menerima satu pukul gratis.
“Van udah, Gion gak bermaksud apa-apa buat datang ke sini, dia cuma mau nanya keadaan gue aja,” ucap Milka masih berusaha menormalkan keadaan.
“Keadaan apa?, emang lo kenapa?, kenapa gue gak tau?” Gevan mulai bertanya tak ada hentinya sama sekali, cowok itu sedikit menyamping dan menatap wajah gadis itu.
Apa memang dirinya tak sepenting itu?.
“Lo, sepenting apa buat dia cerita ke lo?, yang tau luka dia cuma gue, bukan lo,_ gak usah merasa layak jadi orang yang paling kenal Milka deh, karena lo_”
“GION!” teriak Milka marah hingga menarik perhatian murid lain, termasuk Vania dan Diva yang sedang berada di dalam kelas. “Lo gila?”
“Wow, seruh nih, jadi yang tau cerita dia cuma lo yah?”
Prok....
Prok....
Prok....
Tawa Gevan meninggi ke udara, dengan senyuman, serta tepukan tangannya yang mengundang perhatian beberapa murid di dekat mereka.
“Van, udah, ini di sekolah, bisa gak lo hentikan perasaan cemburu lo yang gak jelas itu!” ucap Milka menimbulkan senyuman penuh kemenangan dari wajah Gion.
“Perasaan cemburu yang GAK PENTING?, bisa dong cantik, selamanya juga bisa malah” balas Gevan dengan tekanan kalimatnya, sejujurnya ia sedikit mematung beberapa detiak lantaran tak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut pacarnya sendiri.
Kini saatnya logika harus bertindak, walau perasaan sebenarnya, stres? gila? frustasi?, depresi?, bacot ah.
Semua itu menyatu secara tiba-tiba.
Masih menjadi pertanyaan mengapa orang yang paling ia sayang, bahkan yang paling membuatnya berharap lebih, gadis yang paling ia jagai selama ini, malah mengatakan hal yang demikian?.
“Beb aku gak berm_”
“Fuck lah!” sentaknya dan pergi begitu saja dengan perasaan kacau. Aku? Wow, kini cara pengucapannya berubah setelah mengatakan hal bobrok.
Keheningan terjadi cukup lama, setelah Gevan pergi, sungguh ia cukup tau diri, merasa kalah di depan Gion, bahkan Milka sekarang tidak memihaknya sama sekali.
Dengan situasi yang ada, Gion mulai memanfaatkan kesempatannya. “Lo gak salah, sesekali lo emang harus bantah, jangan jadi cewek yang terus tunduk sama cowok Ka.”
Milka terdiam tak mempedulikan ucapan Gion. Pikirannya masih berkecamuk merasa bersalah dengan ucapannya terhadap Gevan.
Apa Gevan semarah itu?. Sangat bodoh jika pemikiran itu muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
Fiksi RemajaDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
