NEXT___
Masih merasa bersalah atas kejadian tempo hari, kini Gevan dan Pelangi sedang berada di rumah sakit menjenguk Mario yang sedang di temani Fajar.
Pelangi yang membawa buah-buahan, mengikut langkah kaki kakanya dari belakang, sekarang posisi mereka sudah di depan pintu kamar Mario di rawat.
Merasa Gevan sangat lama membuka pintu, kini Pelangi dengan gesit memegang gagang pintu dan membuka kamar tersebut. Terdapat ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh bersamaan.
"Hai kak, " sapa Pelangi tersenyum cerah, menatap ketiga orang yang sedang berkumpul.
"Hai Pelangi, kamu adiknya Gevan yah?" sambut Lia, sekilas menoleh kebelakang dimana terdapat Gevan yang masih berdiri.
Mendengar pertanyaan Lia, gadis itu tersenyum sambil mengangguk.
"Udah sembuh kenapa gak keluar-keluar rumah sakit?," sambar Gevan tanpa menanyakan kabar, karena sangat terlihat jelas kedua sahabatnya sedang fokus dengan gedget masing-masing.
"Belum puas gue," balas Mario cuek.
"Masih pengen jadi pasien biar gak masuk sekolah katanya, " tambah Fajar membenarkan maksud dari kalimat Mario.
"Gue bisa bantuin, biar lo tetap jadi pasien. "
"Gak usah kumat lo!" bentak Mario melontarkan tatapan kesal ke arah cowok itu.
"Lo juga gak usah kumat!" timpal Fajar melempar gulungan tisu ke arah Mario.
Gevan hanya cengigisan menggeleng pasrah saat melihat kelakuan kedua sahabatnya. "Untung gue, kalau gak, ya kali lo jadi pasien."
"Ia si paling jahat," tambah Lia ikut menimbrung.
"Mulut kaka jahat banget deh," tambah Pelangi menatap tak suka ke kakaknya.
"Tapi baik kan," balas Gevan membela diri tersenyum smirk menatap adiknya, sedangkan yang di tatap, terlihat sangat kesal.
Merasa perdebatan mereka sejenak berhenti, gadis itu kembali punya kesempatan untuk bicara.
"Kak, Pelangi bawain buah nih," gadis itu sedikit melangkah menyerahkan buah-buahan itu ke arah Mario. Namun_ ada si tukang rakus yang memantau keadaan.
Cussss...... tangggg (buah-buahan itu berpindah pangkuan)
"Buat gue aja, soalnya Mario udah sembuh," dengan cepat Fajar mengambil buah-buahan itu dari tangan Pelangi, tanpa menunggu waktu lama, kini buah-buahan itu berpindah tempat ke tangan Fajar.
Ya dia Fajar, selalu cemburu ketika Pelangi harus lebih mempedulikan Mario.
"Eh, apa-apaan lo, dia bawain buat gue, kenapa lo yang panas buat nerima?," sambar Mario melontarkan tatapan tajam dan ekspresi cemberut.
"Tapi itu buat orang sakit, emang kaka sakit?" tanya Pelangi membuat Fajar tersenyum jahil.
"Ia lah, gue lagi sakit jiwa, "
Gevan menggeleng pasrah. "Pantasan jiwa lo gak tenang-tenang."
"Jangan habisin, gue juga mau,"
"Astaga itu buah doang, kalian kayak lagi rebutan sate kambing," tutur Lia tak habis pikir.
"Siapa yang rebutan?, situ yang rakus!" timpal Mario tak mau kalah.
"Ah, jangan gitu kak kasian," tambah Pelangi dengan ekspresi polosnya.
Sekarang gadis itu berada di lingkup pertemanan kakaknya yang isinya otak miring semua, cerewet tanpa henti, cewek maupun cowok, sungguh suasana yang sangat hangat di hari itu.
"Lo gak ada latihan hari ini?" tanya Gevan menatap Lia.
Gadis itu terdiam bingung, selang beberapa detik, "Lo nanya gue?"
"Gak, gue nanya sosok di belakang lo"
"Dih, IndiHome lo?"
"Indigo kak" tambah Pelangi membenarkan.
"Baru pulang, gue smaa Tasya, bareng sama anak-anak kelas bawah"
"Milka?" tanya Gevan mengernyit bingung.
"Kata Tasya dia pulang bareng Gion"
Gevan menegang.
Mario dan Fajar, saling melempar pandangan seketika.
"Hari ini jadwal gue pulang keluar rumah sakit," Mario mengingatkan.
"Dan gue gak mau jadi pasien," tambah Fajar tak mau jadi korban.
Gevan terlihat tenang, tak ekspresi, ia mulai terlihat biasa. "Pelangi, kamu ada les hari ini?"
"Hari ini cuma Les balet kak."
Bunyi gagang pintu di ruang rawat Mario terbuka, membuat seisi ruangan menoleh, kedatangan seorang dokter muda dan seorang perawat membuat beberapa anak muda di dalam ruangan itu melontarkan senyum, sedikit mundur memberikan ruang gerak untuk dokter, kini Mario di nyatakan bisa pulang, karena kondisi yang sudah mendukung.
"Terimakasih dok," ucap Gevan dan Mario bersamaan.
"Kak Mario sebenarnya sakit apa?" tanya Pelangi dengan polosnya.
"Yah, di pukul kakak ka_" ucapan Lia terhenti, setelah dengan tiba-tiba, Fajar menyenggol pelan tangannya, di lanjutkan dengan tatapan tajam dari Gevan.
Cowok itu sedikit panik kalau Lia sampai keceplosan, bisa jadi dirinya akan di marahi habis-habisan, kalau Pelangi tau dan melaporkan semuanya kepada orangtua mereka.
"Di pukul kakaknya, kak Mario?"
"Jahat banget sih, kok bisa sampai segitunya, kasian, walaupun dia kakak, gak seharusnya dia memperlakukan kak Mario seperti ini" lanjut Pelangi terus mengoceh panjang dengan ekspresi sedihnya.
"Iya, dia emang jahat, itu karena kerjanya bucin mulu, jadi gimana dia mau peduliin orang terdekatnya?" balas Mario membuat Lia dan Fajar berusaha menahan tawa, sedangkan Gevan yang mendengar sindiran itu menarik nafasnya dalam.
"Emang benar kata orang, bucin membuat segalanya menjadi buta,"
"Ia benar banget, bucin akut malah."
"Tapi pacarnya baik yah kak?"
"Baik banget, " jawab Fajar dan Gevan bersamaan.
"Dih, biasa aja, suka tiba-tiba sinting dia, " Lia berdesis tak suka, membuat keempat orang itu menoleh ke arahnya.
"Iya yah"
"Tanya aja sama kakak kamu, dia kenal kok" tambah Lia, mendapat tatapan ancaman dari Gevan, namun sepertinya tak mempan untuk seorang Lia.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
Teen FictionDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
