BAB 12

30 16 16
                                        

NEXT.....

Bel pulang sekolah berbunyi sejak tadi, terlihat dua gadis sedang serius membahas latihan mereka di sore hari nanti. “Gue udah buat jatwal latihan dance.”

“Okey,” balas Milka masih fokus membuka ponselnya, kemudian ia menunjukkan sebuah vidio memperlihatkannya pada Tasya. “Kalau gue gabungin gerakannya seperti ini, koreografinya masuk gak yah?”

“Lumayan sih, nanti gerakan pas mereka balik, agak di putar dikit kakinya ke depan, soalnya dua kakinya gak kelihatan pas mutar,” saran Tasya masih fokus menonton vidio dance dari Milka.

“Permen Milkita, balik yukkk…..” teriak Diva dari kejauhan dengan ekspresi wajah yang memohon, seperti sedang membujuk.

“Lo kali yang permen,” sarkas Vania judes menatap sinis sahabatnya, jangan lupa, itu memang sebuah kebiasaannya, disaat Diva aktif pada mode manja.

“Kalian balik duluan aja yah, gue lagi ada keperluan sama Tasya, jadi gue balik sama dia nanti,” ucap Milka menjelaskan, menolak ajakan kedua sahabatnya.

“Okey, bye bye”

“Yaudah kita duluan yah,” pamit Vania sambil menarik tangan Diva dengan lambaian tangan ke arah Milka.

Kemudian bagaimana dengan Tasya?. Mereka memang bukan sahabat, gadis itu hanya partner Milka saat latihan, itulah alasan mengapa Vania dan Diva tidak terlalu memedulikan keberadaan gadis itu.

“Kamu tau tempat latihan yang baru kan?, aku udah kirim alamatnya ke kamu loh”

“Kita gak jadi latihan di sekolah?” tanya gadis itu memastikan. “balasnya cuek, Milka hanya mengangguk tersenyum.

Hari sudah menuju sore, waktu sudah menunjukkan pukul 15;12, membuat keduanya beranjak pergi, dari tempat mereka.

Belum terlalu jauh langkah mereka hingga parkiran, suara Gevan membuat keduanya terhenti. “Milka?”

“Kenapa?” seakan sadar dengan suara itu, Milka merespon seperti biasanya.

“Gue panggil Milka kenapa lo yang balik?” cetus Gevan menatap sinis ke arah Tasya.

Gadis itu diam tak merespon, terlihat diam tak suka. “Gue duluan,” kini Tasya pamit menatap Milka, setelah itu ia kembali menatap tak suka ke arah Gevan.

“Pulang barang gue,” putus Gevan tanpa basa-basi.

“Lah kan gue bareng Tasya,”

“Dia udah duluan kan?”

“Iti dia tunggu di mobil,” balas Milka sambil menoleh ke arah mobil Tasya.

“Tumben”

“Gue ada perlu soalnya, kita latihan dance. ”

“Okay hati-hati,” setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Gevan pergi begitu saja ke arah motornya, pergerakan cowok itu tak lepas dari pandangan Milka, hingga Gevan berlaju keluar dari lingkungan sekolah, membuat dirinya masih mematung dari tadi.

Drrrrrrrrrttt

Bunyi dering telfonnya mengalihkan pandangannya, panggilan masuk itu ternyata dari Tasya, tanpa mengangkat, Milka berjalan ke arah mobil Tasya, tepat saat membuka pintu mobil Gion berlari seperti sedang di kejar anjing, berlari ke arah Milka.

“Bentar Mil”

“Di kejar hantu sekolah lo?” tanya Milka bingung.

“Jangan tanya dulu, gue masih atur nafas biar bisa ngomong,”

“Lah ini kan__ lo lagi ngomong”

“Pulang bareng gue,”

“Gue gak bisa_”

“Ini kakek lo telfon Mulu dari tadi buat antar lo ke_”

Drrrrrrrrrttt

“Bentar,” penjelasan Gion terpotong saat seseorang menelponnya.

“Hallo Kek”

“Kakek udah minta tolong sama Gion buat antar kamu ke tempat les, kamu harus ketemu sama guru les kamu sekarang.”

“Iya kek”

Tut

Lagi-lagi sesuatu yang tak diinginkan terjadi, gadis itu cukup pasrah dengan keadaannya sekarang.

Milka bersandar ke mobil Tasya memejamkan matanya beberapa detik, hingga akhirnya helaan nafas yang panjang terdengar jelas.

“Gue gak perlu jelasin ke lo, kenapa datang ke sini kan?,” tanya Gion setelah tau gadis itu menerima telfon dari kakek Albero.

“Hm,” balas Milka bergumam.

Milka sedikit menunduk, menoleh ke arah Tasya yang masih di dalam mobil. “Tasya, gue ada keperluan dikit, ini penting, setelah selesai, gue janji langsung nyusul,”

“Iya orang sibuk,” balasnya tenang.

“Okay, thanks yah, bye!”

Perasaannya semakin tidak enak, namun sudah tak ada cara lain. Ia hanya mencoba untuk patut.

BATASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang