BAB 6 Baikan ah😁

51 26 26
                                        

HAPPY READING

Hufftt Mari Baca

VOTE DULU DONGS....

Dengan tatapan, tajam seakan masih di kuasai kemarahan, membuat banyak siswa yang sedang berlalu lalang di sekitarnya menatap takut, tapi hampir 80% menatap kagum karena ketampanannya yang tak bisa memberikan kebosanan di setiap penglihatan para kaum hawa di SMA Galaxi.

Ternyata mencari sosok Milka Stephanie Azherlhia sangatlah mudah untuknya, gadis itu sepertinya memang ingin pulang, Milka berdiri di dekat salah satu pohon, terlihat dirinya seperti sedang memesan driver online, yang membuat wajahnya sesekali melihat ke arah ponsel, dan benar-benar terlihat kesal, namun kadar kecantikannya tak pernah berkurang bagi seorang Gevan.

Cowok itu tersenyum nakal penuh arti terus berjalan mendekati gadis yang masih setia berdiri di bawah pohon.

"Hai sayang," suara dingin dengan senyum smirknya, terlontarkan, sembari tangan Gevan menarik sebuah ponsel dari tangan Milka secara mendadak, di saat gadis itu masih setia fokus dengan ponselnya.

Menyadari itu, Milka dengan kesal dan berusaha merampas kembali, namun sayangnya, Gevan mengangkat tangannya meninggi, membuat Milka susah menggapai ponselnya sendiri saat cowok itu mengangkat tinggi ke udara, mengingat Gevan memiliki tubuh yang tinggi, membuatnya tetap kesusahan.

"Apaan sih Van, gue mau balik, driver gue bentar lagi datang, balikin dong!" ucap Milka merengek seperti anak kecil yang terlihat seperti meminta mainannya dikembalikan, raut wajah kesalnya justru membuat Gevan tertawa lucu, karena sikap Milka cukup menggemaskan, yah, walau kadang pacarnya itu bisa menjadi setan secara tiba-tiba.

"Oh, jadi setelah pdkt sama Gion, beralih ke sopir driver, mau gue buat babak belur juga tu sopir?"

Milka benar-benar di uji kesabarannya sekarang, gadis itu hanya berusaha tenang di depan Gevan dan menarik nafasnya dalam-dalam, "pliss, ponsel gue balikin,"

"Eh bukannya lo ada kelas dance?" tanya Gevan mengingatkan serta mengalihkan pembicaraan.

Milka memang bergabung dengan kelas dance di sekolahnya.

"Gue, ijin_ sini ponsel gue!" balas Milka masih dengan gesit berusaha mengambil ponselnya.

"Gak bisa sayang, kalau masih maksa, gue sita ponselnya, mau?" pertanyaan yang di lontarkan cukup dingin seakan cowok itu sedang menekan setiap kalimatnya, kedua mata Gevan benar-benar natap Milka secara intens.

"Taik lah!" batinnya pasrah dengan situasi.

Melihat respon Gevan seperti itu, Milka benar-benar frustasi, gadis itu menghentakan kakinya kasar, berjalan ke sana kemari.

"Arrrrrrgh," geramnya frustasi.

Gevan yang sejak tadi melihat pacarnya terus menggeram frustasi, justru membuatmnya tersenyum senang, penuh kemenangan.

"Napa sayang?, kok cemberut mulu sih," suara lembut Gevan benar-benar kembali hampir meruntuhkan benteng pertahanan Milka, cowok itu dengan gerakan lembut nya mengelus pipi pacarnya yang mulus, berusaha membuatnya tenang. Sedangkan Milka apakah gadis itu baik-baik saja?.

"Gila nih orang, tumben-tumbenan." batinnya dengan tatapan yang membingungkan.

"Aku gak gila sayang, emang salah bersikap lembut sama pacar sendiri"

"Ha!"

Milka sedikit kaget dengan kalimat Gevan yang menggunakan kata aku dalam bicaranya.

Gevan tersenyum tipis, menatap pacarnya secara intens, masih merasa lucu, lantaran ekspresi cemberutnya malah membuat wajah gadis itu menggemaskan. Sedangkan ekspresi Milka, tidak menjauh dari kata cemberut.

"Udah berani ngambek yah?," dengan lembut Gevan mengelus rambutnya sesekali sambil menepuk-nepuk pelan.

"Ih, dasar!" sarkas Milka memukul manja, dada bidang cowok itu.

Gevan tersenyum tipis menatap wajah gadis itu dengan tatapan matanya yang lembut.

Namun_

Sungguh aneh, Milka benar-benar merasa berbeda sekarang, mengapa Gevan mendadak begitu sangat lembut padanya?. Seharusnya cowok itu memarahinya setelah dia ditemukan berduaan bersama Gion di rooftop, tapi mengapa sikap Gevan berubah drastis?.

Ini benar-benar aneh, definisi wajah elang berperilaku hello kitty.

Bingung dengan diamnya Milka, Gevan mengernyit aneh. "Ngelamun apa sih beb?," tanya cowok itu dengan tangan yang tidak diam, malah menyisihkan sedikit rambut Milka di bagian pelipis bergeser ke belakang telinganya.

Demi apapun Milka seketika menegang, ini sudah ke sekian kalinya dalam beberapa menit, dirinya menerima perlakuan lembut pacarnya di luar ekspektasi, rasanya ingin menangis akibat perlakuan Gevan membuatnya tak sanggup berdiri, jika diumpamakan dirinya adalah es cream, pasti tubuhnya sudah mencair walau di dalam kulkas.

Cowok itu memang tau apa yang membuatnya tenang, Gevan selalu tau semua yang membuat Milka merasa nyaman, walau terlalu seram di mata banyak orang, banyak hal yang membuat Milka memilih bertahan bersamanya hingga sejauh ini.

Tiba-tiba dengan lembut, Gevan merangkul pacarnya menuju parkiran, sesekali mengelus-elus rambutnya dengan lembut.

"Beb, jangan berantem lagi yah?" memanfaatkan kesempatan yang ada, gadis itu coba membuka suara mengingatkan.

Tak membalas, Gevan menghentikan langkahnya dan menatap dingin ke arah pacarnya.

Menyadari hal itu Milka cemberut memohon dengan tatapan sedih dengan bibir yang mengerucut manja. "Maaf."

"Tergantung kamu sayang," bisiknya sembari tangannya yang terulur mengusap kembali rambut pacarnya. Dirinya merasa tenang lantaran ia berpikir akan di marahi.

Milka melirik Gevan, lalu menepuk dada bidang cowok itu dengan pelan. "Ih, tumben pakai kamu ngomongnya"

"Gak boleh emang?"

Milka benar-benar terlihat tenang namun walau hatinya sedang bergelojak ingin jungkir balik sekarang, mereka benar-benar mudah berdamai setalah kejadian tadi. "Boleh dong heheheh," balasnya cengingisan melontarkan ekspresinya yang menggemaskan dengan senyuman yang membuat kedua matanya hampir tak terlihat.

"Gemesnya," ucap Gevan berhasil membuat Milka benar-benar tak berdaya dengan tatapannya yang sejak tadi tak beralih dari wajah pacarnya, siapa sangka Milka benar-benar diposisi yang tak bisa di alihkan, dirinya benar-benar terjebak dengan kegilaan Gevan yang membawanya jauh, kenyamanan itu, bahkan membuat gadis itu tak ingin keluar dari dunianya bersama Gevan.

Setelah tiba di parkiran Gevan mengambil helm dan mengenakan, di kepala ceweknya dengan lembut, "Beb?" panggil Milka dengan nada lembut.

"Hm?"

"Jangan berantam lagi yah?"

"Bisa sih, tergantung kamu beb, kalau gak dekat-dekat dia yah, amanlah."

"Tadi dia ruang BK gimana?"

"Aman"

"Aman apanya, anak orang hampir koma,"

"Untungnya koma, daripada gue kasi titik, terus dianya langsung kembali ke tanah kan?"

"Beb, kalau ngomong di filter dulu kalimatnya bisa gak?"

"Iya cantik," dengan pelan, Gevan memukul helm yang sudah di kenakan gadis itu.

Bahkan jika semesta tak merestui kita, aku akan bertahan sampai semesta benar-benar merestui, tatapan Gevan seakan melontarkan sebuah kalimat diselimuti sebuah janji.

Kedamaian benar-benar mendukung kondisi Milka saat ini, gadis itu dengan baju piyamanya bergambar bear, sedang bersantai di balkon kamar sambil mengerjakan tugas bahasa Indonesia membuat naskah drama. Dengan gerakan tangannya, sesekali gadis itu meneguk susu coklat buatan Bi Rina asisten rumah tangganya. Walau hidup sendirian, jujur ia tetap di atur oleh kakek Albero, sampai gaji ART, supirnya bahkan hidupnya sendiri tetap di perhatikan.

BATASCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang