BAB 15

9 4 3
                                        

NEXT__



Drrrrrrrrrt

Drrrrrrrrrt

Drrrrrrrrrt

Bunyi getaran sebuah ponsel,  yang sejak tadi tidak bisa diam, sepertinya panggilan masuk tak kunjung di respon oleh sang pemilik.

“Shit!, bisa gila gue!”

Gevan kembali menekan panggilan keluar, namun belum juga ada tanda-tanda gadis itu angkat mengangkat telfon masuk di ponselnya.

Masih dengan tubuh di balut handuk putih, gadis itu keluar dari kamar mandi, mengambil ponselnya yang masih bergetar ia segera mengangkat panggilan masuk itu setelah mengetahui nama yang tertera di layar ponsel.

“Hallo?”

“Ngapain aja lo! lama banget angkatnya, sibuk lagi sama cowok sialan lo itu?, hah!”

Sudah di duga, Gevan akan selalu seperti ini, kadang jadi buaya yang lemah lembut, kadang jadi buaya buas. Harus butuh extra sabar menghadapi cowok satu ini.

Huuuuuff

Milka berusaha menarik nafasnya dalam menenangkan diri beberapa detik sebelum merespon.

“Gue baru selesai mandi, lo bisa gak jadi orang normal dalam satu hari?,”

“Lo kalau gue lepasin gitu aja, makin buas yah?”

“Eh, tu mulut di jaga yah, lo kira gue hewan buas?”

“Udah selesai mandi lo?”

“To the point!” teriaknya membentak memperdengarkan nada yang penuh amarah.

“Gue jemput.”

“Ha!”

Tut

“Arrrgghh sial!” geramnya frustasi dengan kuat, jari-jemarinya mengenggam erat ponsel itu, ia hendak ingin melempar ke tembok, namun selalu tak bisa, ia mengerang frustasi, sungguh satu kesalahan baginya karena sejak awal ia merasa sudah salah memulai hubungan ini, walau kadang sikap manis Gevan selalu ia terima, tapi entah kenapa, dengan tempreman yang sudah di nilai buruk oleh dirinya sendiri tak bisa luput begitu saja.

“Hidup gue kenapa lagi sih_” keluhnya terus menerus sejak tadi, Milka kemudian mencari beberapa pakaian yang hendak dikenakannya.

Tok tok

Bunyi ketukan pintu, membuatnya merespon dengan nada penuh kekesalan,“masuk!!”

“Hai cantik, emosian amat lo!” sapa seorang gadis dengan nada menggoda, gadis yang memiliki mata sipit dan tajam, ia masuk dengan senyum tipisnya.

Melihat kedatangan Karlin yang tiba-tiba di kamarnya membuat Milka benar-benar membutuhkan banyak oksigen sekarang, gadia itu datang di saat yang tidak tepat, entah apa tujuan kedatangannya, Milka hanya bisa mendesah pasrah.

“Gimana?, menyenangkan jalan sama calon tunangan gue?”

“Gue punya cowok!” timpal Milka melontarkan tatapan tak suka.

Langkah Karlin perlahan-lahan berjalan manja ke arah ranjang, tangannya meraih dua boneka baby shark. “Ututututu dapat hadiah dari tunagan gue nih,” ejek Karlin tertawa keras seakan menikmati leluconnya sendiri.

“To the point deh, mau lo apa ke sini?”

“Gue suka kepekaan lo!” Karlin tersenyum puas.

“Cepat, gue gak punya waktu!” cetus Milka sambil meriasi wajahnya di depan meja rias.

BATASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang