Happy Reading
Matahari sore menyinari perjalanan mereka di sepanjang jalanan kota, sambil menikmati, Milka merasa cukup tenang dengan udara yang mendukung, melihat banyak gedung pencakar langit, melewati beberapa taman kota, hingga tanpa sadar mereka sudah masuk ke gang-gang kecil.
Selama dua puluh menit perjalanan dari sekolah hingga rumahnya, kini cowok itu menghentikan motornya tepat di depan rumah Milka.
Dengan bantuan pundak Gevan, gadis itu berusaha turun, lalu kedua tangan Gevan bergerak membuka pengait helm yang digunakan Milka.
"Maksudnya apa tadi?" tanya Gevan tiba-tiba membuat gadis itu menunjukkan ekspresi bingung, "apaan?," balas Milka sembari merapikan rambutnya, setelah helm dilepas.
"Lain kali?" Gevan tertawa miris, "lain kali lo bilang?" cowok itu mengulangi kalimatnya membuat Milka semakin bingung.
"Maksudnya?"
"Tadi lo berdua buat perjanjian di depan gue, itu maksudnya apa?"
"Perjanjian apaan sih, gue gak paham!" ucap Milka sudah dengan marah.
"Lain kali yah GION!" tekan Gevan pada kata Gion. "Lo buat perjanjian sama dia di depan gue buat pulang bareng kalau gue gak ada?"
"Astagaa, Van, hal sekecil itu ngapain dipermasalahkan sih, itu gue cuma buang bahasa doang!"
"Selagi gue baik, tolong lo bersikap baik juga, karena kalau lo udah buat gue berubah, penyesalan jadi bagian lo" tekan Gevan dengan ekspresi serius serta nada bicara yang serius.
"Lo ngancem?, lagian lo baik sejak kapan?"
"Gue cowok, gue tau maksud Gion deketin lo terus," sambil mengatakan kalimat itu, Gevan bergerak menaikan standar motornya, sembari mengaitkan pengait helm.
Brumm...
Brummm...
Motor Gevan berlalu begitu saja, beranjak pergi dari depan rumah gadis itu, sedangkan Milka masih berdiri menatap motor Gevan yang menghilang di ujung gang.
Milka yang sedang memandang dari jauh menarik nafas legah, seperti ada beban yang terlepas selepas kepergian Gevan.
Room chat
Gion : Udah sampai?
Udah kok.
Gion : Lo nggak apa-apa kan?
Aman.
Gion : Malam ini gue mau ke gramedia, mau ikut gak?
Nanti yah, gue gak bisa.
Gion : ya udah gpp.
Selesai, chattingan dengan Gion, Milka melempar kasar ponselnya ke atas kasur, tak ada niat yang muncul untuk menanyakan keadaan Gevan, atau mengecek kabarnya apakah sudah tiba atau belum.
Gevan kini tiba di rumah penuh kelelahan, "Sore mom," sapanya setelah memasuki rumah.
"Baru pulang?," tanya Ranti setelah melihat putranya baru pulang dengan seragam yang berantakan seperti biasa, layaknya baru selesai berantem, padahal memang seperti itu gaya berpakaiannya.
"Iya, Gevan habis nganterin Milka," ucapnya sembari mendekati Ranti dan mencium punggung tangan mamanya.
Gevan sedikit berbohong, karena setelah mengantar Milka, dirinya sempat pergi ke makam orang tua Milka, sejujurnya, ia cukup dekat dengan keluarga gadis itu, karena sebelum kepergian orang tua Milka, hubungan mereka sudah cukup dekat terlebih dahulu, dengan Gevan yang berstatus sebagai teman dekat pada saat itu, hal itu membuat dirinya sering mampir ke rumah Milka.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
Teen FictionDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
