Bab 9

38 18 8
                                        

Next_

"WOI!"

Sesaat kemudian datang tujuh orang anggota mereka, melerai pertikaian keduanya, dengan jelas terlihat kondisi Mario sangat parah, karena cowok itu tak benar-benar membalas pukulan Gevan sama sekali.

Disisi lain nafas Gevan memburu seakan jantungnya berdetak cepat.

"Bodoh lo, kenapa gak balas, HAH?" teriak Gevan tak terkontrol memaksa Mario untuk membalas pukulannya.

"Luapin aja emosi lo setan!" sentak Mario namun Gevan tak membalas apa-apa.

"Lo berdua, antar Mario ke kamar, obatin lukanya," Perintah Gibe sebagai salah satu teman balap mereka dan langsung diikuti anggota intinya.

Perlahan-lahan cowok itu berjalan mendekati Gevan, yang masih terdiam, kemudian ia memegang pundaknya.

"Gue paham perasaan lo, tapi yang menjadi tugaso adalah, menjaga hubungan lo baik-baik, namun jika memang sudah tidak bisa di genggam, berarti dia tidak ditakdirkan untuk lo gengam," dengan santai Gibe menepuk pelan pundak temannya, berharap kalimatnya bisa di cerna dengan baik.

"Sebelum lo bertindak jauh, besok lo tunjukin foto itu ke cewek lo, minta penjelasan, kan beres," tambah Fajar kembali duduk diikuti Gevan, sedangkan Gibe sudah kembali masuk sejak tadi setelah mengucapkan kalimat tersebut.

"Pergi!, gue butuh sendiri," usir Gevan membuat Fajar membulatkan mulutnya sempurna.

"Anjirlah, orang gue tadi di sini, lo yang pergi lah! " bantah Fajar malas, namun tiba-tiba mendapat hadiah dari Gevan sebagai tatap mengancam.

"Udah ah, gue pergi," putus Fajar mengalah, melangkah kambali masuk, di tuntun dengan mata Gevan yang terus melotot tajam, hingga Fajar menghilang dari pandangannya.

Dalam diam, malam semakin larut, bintang pun semakin terang, semakin banyak yang mulai terlihat. "Lo benar-benar luar biasa saat gue gak sedang bersama lo, Ka," kalimat yang di akhiri dengan senyum hampa benar-benar melukai hatinya."Padahal itu cuma elusan di kepala, tapi kenapa lo merasa tenang?"

"Gue bahkan berkorban lebih dari itu, semuanya gak pernah di anggap, hari ini gue menyakiti sahabat gue demi meluapkan emosi gue."

"Tapi yah udahlah, emang udah gini jalannya." Batinnya terus tersenyum kecut.

======

Seperti biasa di hari itu, keadaan benar-benar berjalan normal, bahkan Gevan menjemput Milka seperti biasa, kini dirinya hanya melamun di atas motor di depan rumah gadis itu, menunggu kedatangan Milka, beberapa menit kemudian gadis itu keluar dari rumahnya.

Dari atas motor, senyum Gevan sudah terukir, namun ada yang beda, cowok itu hanya mengamati langkah Milka berjalan mendekat ke arahnya tanpa ekspresi.

"Maaf lama,"

"Gak apa-apa," balas Gevan tersenyum tipis, sambil memberikan helm, membuat Milka menerimanya, gadis itu kemudian naik ke atas motor, tanpa bicara sepatah katapun, Gevan mulai beranjak pergi dari halaman rumah.

Keheningan melanda, mungkin karena di atas motor, tapi aneh, Gevan menyetir dengan sangat tenang, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, ini benar-benar sangat normal, tidak seperti biasanya cowok itu ngebut dengan kecepatan tinggi, apalagi ini sudah pukul tujuh pagi, biasa cowok itu takut jika gerbang di tutup.

Tapi mengapa?, seakan batin Milka ingin memecahkan teka-teki itu.

Walau dengan kecepatan sedang, gerbang masih terbuka, hingga motor mereka berhasil masuk, ketika kedua murid itu tiba diparkiran, terlihat Vania dan Diva menunggu kedatangan sahabatnya.

"Lama banget sih, untung Pak Yefta belum suruh ke lapangan," omel Diva yang sambil melihat Milka yang sudah turun dari motor.

"Aku masuk dulu yah beb," pamit Milka di balas anggukan kepala dari Gevan tanpa membalas dengan kata.

Ketiga gadis itu dengan senang berjalan berirama menuju kelas, gerakan mereka tak lepas dari pandangan Gevan sejak tadi, hingga ketiganya menghilang dari pandangannya.

"Diam-diam mulu kayak patung hidup," gumam seseorang yang kini berada tepat di sampingnya, sedikit terkejut hal itu membuat Gevan menoleh dengan cepat.

"Tatapan lo aneh banget hari ini, kayak ada yang beda," ucapan Lia seketika membuat Gevan tersenyum. "Senyum lo juga beda," tambah Lia membuat senyum Gevan kembali pudar.

"Bacot lo!" sarkas cowok itu berlalu pergi begitu saja.

Lia hanya terdiam melihat Gevan menghilang dari pandangannya, cewek itu kemudian beranjak dari tempatnya, mengingat dirinya memang sekelas sama Gevan.

Next_

BATASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang