Next_
Disisi lain, langkah cowok itu menuju ke arah rooftop diikuti seseorang, ketika Gevan menghilang dari balik pintu yang menuju ke arah rooftop, sebuah tangan ikut membuka pintu rooftop, dengan cepat sepasang tangan menahannya yang hendak membuka pintu.
Gadis itu menoleh. “Lepasin gak?”
“Dia butuh sendiri” balasnya.
“Bukan urusan lo!” sentak Lia sambil menepis kuat tangan Milka yang masih menahannya.
“Ah, masa sih, terus urusan Gevan, urusan lo?” balas Milka dengan pertanyaan sinisnya. Ia bingung mengapa dirinya masih menerima kalimat itu, bukan urusannya?, wow ucapan yang sangat gila, bahkan satu sekolah tau bagaimana obsesinya Gevan terhadap dirinya, lalu mengapa urusan Gevan bukan menjadi urusannya?.
“Gara-gara lo, Mario masuk rumah sakit.”
“Kok gue?” tanya Milka mengernyit bingung,
“Iya lah, semua itu gara-gara keegoisan lo, sekarang siapa lagi yang mau lo buat dia terbaring di rumah sakit?,_Gevan?”
“Lo suka sama Gevan? Hah?” pertanyaan itu membuat Lia terdiam tak berkutik, sedikit mundur, karena Milka mengambil sebuah langkah untuk maju dengan pertanyaan yang diajukan.
“Gak usah mimpi deh lo!” tambah Milka dengan kalimat dingin, cewek itu dengan kasar ingin membuka pintu rooftop meninggalkan Lia yang masih terlihat kesal.
“Sakit jiwa yah lo,”
Mendengar kalimat dari mulut gadis itu, membuat Milka tak terpancing, ia langsung membuka pintu rooftop dan pergi.
“Jangan salah gerak aja, miring dikit, jalan gue bakal tetap lurus,” batinnya merasakan kebencian yang memanas.
∆∆∆∆∆
Kringgg
Kringgg
Kringgg
Karena jam pelajaran pertama saat itu guru sedang rapat. Kini bel berbunyi menandakan jam pelajaran ke dua dimulai, beberapa guru sudah masuk ke beberapa kelas untuk memulai kegiatan belajar mengajar.
“Kok Milka lama banget yah?”
“Kamu pasti nyari gak benar kan?,” tuduh Diva yang sejak tadi kepikiran cewek itu belum juga kembali.
“Gak benar apanya, cari sendiri makanya, orang gue tadi pusing nyarinya.”
“Tadi aku mau bantuin kamu malah_”
“Apa!, kamu malah asik baca novel loh tadi!”
Mendengar nada bicara Vania semakin sarkastis membuat Diva semakin cemberut.
“Ih kok situ ngegas, Diva gak suka deh,” ucapnya bete sambil mengerucut bibirnya manja.
“Yah, makanya lo_”
“Selamat siang anak-anak…”
Ucapan Vania terpotong saat Bu Nia memasuki kelas.
“Siang Bu”
“Cantik banget ibu hari ini”
“Wah Bu, pakai skincare apa tu?”
“Mulus banget muka ibu”
Kini kedatangan seorang guru muda, cantik plus manis, malah membuat murid kelas XII bahasa mulai salah tingkah, dan malah merayunya layaknya monyet di hutan.
“Mau rayu sampai monyet bisa bahasa manusia tidak akan salting saya,” ucap Bu Nia pada murid-murid cowok yang terus menganggunya.
“Wah, jahat banget Bu, ” tambah Diva tak mau kalah dengan teman-teman kelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BATAS
Teen FictionDILARANG PLAGIAT KUHP Indonesia tentang plagiarisme diatur pada pasal 380 ayat (1) KUHP serta dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal. Hubungan yang tidak pernah baik membuat gadis bernama Milka akhirnya menyerah. Namun siapa...
