Bab 2 Tantangan baru

103 42 35
                                        

Kalau pas liat typo jangan lupa komen yah

Happy Reading

Milka dengan rambut sebahu menjepit dua buku paket Sastra Indonesia di dadanya. Langkahnya menyusuri koridor sekolah terasa lebih berat dari biasanya. Kepalanya penuh, memutar ulang pertikaian dengan Gevan yang seakan tak pernah benar-benar selesai.

"Lo kenapa, Mil?" Sebuah suara muncul dari belakang.

"Biasa," jawab Milka singkat, tanpa menoleh.

"Gevan lagi?"

Gion berdiri di sampingnya kini, sorot matanya tak menyelidik—lebih ke khawatir.

Pertengkaran hebat itu terjadi kemarin. Tapi anehnya, jarak antara Milka dan Gion tak pernah benar-benar ada. Gion Bramasta murid pintar SMA Galaxy, penuh prestasi, selalu tenang. Seseorang yang tanpa sadar memberi Milka rasa aman, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari Gevandra Saputra.

"Ya. Siapa lagi," balas Milka datar. Gion menghela napas.

"Gue cuma mau bilang... hati-hati, Mil. Lo nggak bisa terus hidup ditengah orang yang nggak bisa ngontrol emosinya."

Udara mendadak terasa dingin.

"Ngomong apa lo?" Suara itu datang dari arah lapangan. Dingin. Tajam. Gevan berdiri beberapa langkah dari mereka, mengenakan kaos basket, rahangnya mengeras. Tatapannya menancap ke Gion.

Gion hanya menoleh sekilas. Sinis. "Kena?"

"Coba ulang!"

Tangan Gevan mengepal.

"Van, urusannya sama lo apa?" Milka melangkah maju, refleks mendorong dada Gevan pelan saat cowok itu semakin dekat. "Gue yang ngobrol."

Namun Gevan tak peduli. Tangannya sudah lebih dulu mencengkram kerah seragam Gion dengan cepat.

"Lepasin!" Milka panik, meraih pergelangan tangan Gevan, berusaha menariknya.

"Lo itu masalah, Van," ucap Gion tenang, justru semakin menusuk. "Sekolah rugi gara-gara sikap lo. Fasilitas rusak, masalah datang terus. Lo pikir itu keren?"

Senyum Gevan miring. "Ngaca dulu sebelum ceramah."

"Cukup!" suara Milka meninggi. "Lo mau kejadian kemarin terulang?"

Cengkeraman itu akhirnya terlepas.

Gion merapikan seragamnya perlahan, senyum tipis masih terpatri.

Namun belum sempat Milka bernapas lega.

"Lo ikut gue." Tangan Gevan menarik pergelangan Milka.

Gevan berhenti mendadak. Ia menoleh tajam, rahangnya mengeras. Milka menatap penuh amarah. "Gak usah sok kaget," ucapnya dingin.

"Kaget apaan?, kepandean lo!"

Nafasnya masih memburu penuh amarah. "Apapun yang lo lakuin, gak bakal ngubah pandangan gue tentang lo."

Milka mengerjap. "Hah? Maksud lo apa sih,_Van?"

Gevan tersenyum miring. "Deket-deket sama dia."

Milka terdiam sepersekian detik. "Cara lo nyari perhatian?," lanjut Gevan, suaranya rendah tapi menusuk. "Lo kira gue gak lihat?" Ia menatap Milka lurus.

"Ngemis?" tambah Gevan.

Milka menegang. "Gue? Ngemis?" Ia mendengus pendek. "Lo gila yah?"

"Bilang aja," sahut Gevan cepat. "Kalau lo udah bosen __"

BATASCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang