Maaf ya.. jarang post :'(. Semoga suka deh dengan yang ini..
Author's POV
Astaga ... apa yang ditakutkan Ali benar-benar terjadi. Kecanggungan yang luar biasa sungguh di depan mata. Ali masih saja tersenyum dengan kikuk. Bahkan, Ali sendiri hanya mampu mengatakan, 'Butuh tumpangan?'. Kata-kata yang sangat melenceng jauh dari yang ia rencanakan tadi.
Tak jauh berbeda, Prilly tetap terpaku di tempatnya. Sesekali mengerjap untuk memastikan bahwa penglihatannya kali ini benar. Ya ampun ... siapa sih yang menyangka seorang lelaki tampan dengan mobil hitam mengkilap dengan atap terbuka, menawari suatu tindakan yang membuat gadis manapun meleleh. Prilly masih melihat laki-laki itu tersenyum, entah karena apa. Dan yang dirasakannya sekarang adalah ... waktu terasa melambat begitu saja.
Prilly mengerjap untuk kesekian kalinya. "Gu ... gue?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
Ali tertawa. Lalu mengangguk.
Tidak ada kata-kata apapun. Bibir Ali terasa kelu saat ini.
"Hmm ... mungkin l-lo sal-salah orang kali ...." Kata Prilly kikuk. "Kita kan belum kenal ...."
"Lo Prilly, kan?" ceplos Ali pada akhirnya.
Mata Prilly melebar dan ia berdiri secara tiba-tiba. "Kok tau nama gue?!" tata Prilly keras. Detik berikutnya ia menutup mulutnya sendiri karena merasa malu.
"Masuk."
"Ap ... apa?"
Ali berdecak. "Ayo masuk."
Seakan terhipnotis Prilly melakukannya. Masuk ke mobil kinclong itu dan duduk di samping Ali. Prilly masih diam.
"Lo tadi bilang kita belum kenal, kan?" ucap Ali tiba-tiba. "Oke ... gue Ali dan lo Prilly. Beres. Kita udah kenalan dan itu berarti kita udah saling kenal."
Prilly memandang Ali bingung. Terlalu kaku untuk menjawab bahkan merespon perkataan yang terdengar dingin itu.
Dan jangan salah mengira. Walaupun nada Ali terdengar begitu, tak bisa dipungkiri ... jantung Ali sedang maraton sekarang.
-----
Ali's POV
God damn it!!
Shit!!
Anjirr!!
What the Hell!!
Adakah yang lebih buruk dari kata kata itu?
Oh astaga ... sekarang Prilly benar-benar berjarak kurang dari satu meter dariku. Gadis yang selama ini aku amati dan kuselidiki diam-diam.
Prilly masih diam. Namun setelah aku mengatakan perkenalan itu, matanya menatap lurus ke arahku. Lebih terlihat heran daripada kagum. Mata hazelnya itu membuatku seakan ... terlena. Dan dia menatapku. Hal yang bahkan tidak pernah sekalipun kubayangkan sebelumnya.
"L-lo bukan suruhan pa-papa kan?" katanya terbata. Suaranya tadi sedikit terselip nada ketakutan.
Apa? Suruhan papanya? Papanya aja aku belum tahu sama sekali.
Entah apa, hatiku terasa mencelos saat tatapan itu berganti dengan tatapan ketakutan. Apa aku semenakutkan itu, Prill?
"Bukan," jawabku.
Hening.
Aku membenci saat saat seperti ini. Bukan membenci Prilly. Aku hanya membenci keadaan yang membuatku tidak bisa berkata apapun. Prilly memalingkan muka, melihat ke samping kiri. Lalu aku sendiri hanya berkutat di balik kemudi. Ali ... bukannya lo bisa menaklukkan korban korban lo? Nah ... ini giliran cuma gadis biasa kenapa nggak bisa sih ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Light
FanfictionManusia Iblis, pantas menjadi julukannya. Darah, nanah, keringat, teriakan-sudah menjadi kehidupannya. "Aku akan melakukan apapun semauku. Jika aku bahagia, kenapa tidak?" - Aliando Kenzo Digenendra Semuanya dimulai dari kesalahan, pertemuan tanpa...
