Author's POV
"Jadi, weekend rencana lo bakalan ke mana, Prill?" tanya Lora.
Dhena dan Lora sepakat untuk menemani Prilly sampai pulang. Maksudnya, mereka sepakat untuk menemani Prilly sampai benar-benar sudah memperoleh bus dan sampai rumah dengan selamat. Hitung-hitung mereka minta maaf sama Prilly. Kenapa? Selama mereka terlalu sering pulang duluan karena mementingkan kepentingannya sendiri dan membiarkan Prilly sendirian.
Mereka bertiga sekarang sedang nongkrongdi tempat gado-gado Mang Riman yang berada pas di depan sekolah. Lora dan Dhena sama sekali tidak terpaksa untuk menemani Prilly yang notabene seperti sangat takut terhadap rumahnya sendiri itu. Bahkan Lora dan Dhena aja sampai pernah punya pikiran, "apakah rumahnya itu berhantu ya?"
Prilly menatap kosong gado-gadonya. "Ngurung diri dikamar lagi, maybe?"
Dhena memasukkan sepotong lontong ke dalam mulut yang sebelumnya masih penuh. "Ha amphun, Prhill. Hahian amhat sih lho?"
Prilly diam. Merenung.
Mendengar Dhena berkata begitu, Lora spontan memelototi Dhena kejam. Posisi Prilly yang berada di tengah-tengah mereka membuat Prilly tidak menyadari adanya perang mata di sana. Melihat dipelototi seperti itu, Dhena balas menatap seolah berbicara maafin-gue-nggak-sengaja.
Merasa tak enak, mendadak Dhena menelan lontongnya bulat-bulat. "Maaf, Prill. Bukan maksud gue buat ...."
Prilly tersenyum. Sepenuhnya fake. "Iya. Nggak papa kok. Emang takdir gue begini, kan?"
Mendengar jawaban Prilly, Dhena langsung menatap Prilly yang menunduk dengan pandangan menyesal. Ia beralih menatap Lora yang sedang menatapnya penuh amarah. Sekali lagi Dhena hanya memperlihatkan tatapan permintaan maaf yang amat sangat di sana.
Sebenarnya Dhena dan Lora sudah mengetahui seluk beluk Prilly sepenuhnya. Mulai dari kematian Mama dan adik kecilnya dua tahun lalu, juga Papanya yang sekarang menjadi workaholic. Sepenuhnya Prilly yang bercerita secata langsung. Semuanya sampai ke detail-detailnya.
"Hmm ... gimana kalo hari minggu nanti lo sama Dhena ke rumah gue aja?" tanya Lora tiba-tiba. Bermaksud untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. "Kan gue punya banyak koleksi film tuh di laptop. Kita liat bareng-bareng."
Dhena menyambut antusias. "Boleh juga tuh ide. Gimana, Prill? Mau nggak?"
"Liat nanti aja deh," jawab Prilly.
"Jangan gitu dong, Prill. Gimana kalo nanti malam lo nginep di rumah gue aja, sama Dhena juga? Biar besok kita bisa jogging bereng bareng. Plus, nanti malam kita main-main juga. TOD-an, ngemil bareng Pokoknya asyik. Dijamin," usul Lora lagi.
Prilly mendongak. "Dilihat nan—"
"Permisi, Mang? Gado-gadonya satu ya? Makasih."
Mata mereka –—Prilly, Dhena, Lora— yang notabene duduknya di dekat gerobak Mang Riman melihat perempuan yang datang tiba-tiba tadi.
"Eh, Prill? Kayaknya itu adek kelas deh. Manis banget orangnya," bisik Dhena.
"Kalo dilihat tuh anak masih kelas satu deh, Prill. Masih imut imutnya," bisik Lora ikutan.
Prilly menatap keduanya jengah. Kadang Prilly sempat berpikir. Apakah kedua sahabatnya ini kembar? Perasaan apa-apa kompak banget. Bahkan ngomongin anak orang aja kompak. Sehati. Biar anak itu umurnya enam tahun kek, tiga puluh lima tahun, apa pedulinya? Terhadap hidupnya sendiri pun Ia tidak peduli.
"Permisi, Kak ...."
Suara itu membuat Prilly, Lora, bahkan Dhena, mendongak.
"Iya? Ada apa dek?" Prilly merespon duluan. Tentu saja dengan senyum yang fake. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Light
FanfictionManusia Iblis, pantas menjadi julukannya. Darah, nanah, keringat, teriakan-sudah menjadi kehidupannya. "Aku akan melakukan apapun semauku. Jika aku bahagia, kenapa tidak?" - Aliando Kenzo Digenendra Semuanya dimulai dari kesalahan, pertemuan tanpa...
