Chapter 7 (Prilly's Special Part)

12.2K 1.1K 15
                                        

Lima belas menit yang lalu aku sampai rumah.

Bisa ditebak. Memang aku lebih bahagia berlama lama di taman itu daripada harus pulang di Rumah besar bak neraka ini. Jika ada yang lebih buruk dari kata 'Neraka', mungkin aku dengan senang hati menjadikannya perumpamaan.

Keadaan rumah persis seperti biasanya. Seperti kuburan. Sepi.

Sejak kematian Mama tiga tahun lalu karena adik-Mama, Papa, dan Aku dulu memang akan mempunyai anggota keluarga Praja yang baru. Tapi sayangnya Tuhan berkata lain. Pada kehamilannya yang ke lima bulan, Mama keguguran karena tidak sengaja jatuh waktu di kamar mandi. Mama kehilangan banyak darah dan kenyataan menghempaskanku menuju jurang terbawah.

Mama yang sangat kusayangi dan bahkan adik kecil yang belum kuketahui jenis kelaminnya, pergi selamanya. Sejak setelah Mama dan badan adik kecilku yang belum sepenuhnya sempurna dimakamkan secara berdampingan, Papa yang awalnya ramah, humoris, yang sudah kuanggap seperti pahlawanku, tiba-tiba menjadi sangat dingin. Sejak itu sampai sekarang Papa menjadi workaholic. Sering meninggalkanku ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk mengurusi cabang Praja Corp yang selama ini Ia urus dan Ia pimpin. Dan aku sadar, Papaku bukanlah papaku yang dulu lagi. Kenyataan begitu pahit. Bahkan aku sekarang hampir mengganggap diriku sudah tidak mempunyai sosok papa.

Hingga sempat terbersit pikiran untuk....

... menyusul Mama dan adik kecil di surga.

Sudahlah. Enyahlah. Aku tidak peduli dengan masa lalu sial itu.

Setelah lama terdiam, aku teringat Ali.

Mendadak aku merogoh saku rok putih abu
-abuku. Uang dua ratus ribu nya masih utuh. Mungkin aku harus mengembalikannya lain hari jika bertemu dengannya lagi. Semoga saja.

Aku tertawa. Bahkan untuk namanya aku sendiri belum sepenuhnya mengerti. Aliando Ken ... lalu? Lanjutannya? Haha. Lucu sekali. Kubiarkan orang asing itu mengetahui namaku secara lengkap. Tetapi aku? Sungguh bodohnya diriku atau memang takdir belum mengijinkan. Aku belum sepenuhnya tau nama lengkapnya. Kesialan tragis.

"Nak Prilly, tumben sudah pulang? Biasanya juga setengah lima sore baru pulang ...." Mbok Inah meletakkan segelas susu di nakas. Kebiasaan nya ketika mengetahui aku sudah pulang. Oh terkutuklah aku kepada sosok ibu keduaku ini. Waktu Mbok Inah masuk kamar saja aku tidak menyadarinya.

Aku tersenyum kecut. "Maaf, Mbok. Prilly nggak tau kapan Mbok masuk kamar tadi. Pasti Mbok udah panggil panggil Prilly ya? Prilly keasyikan melamun. Jadi nggak denger deh," sesalku. Ya, hanya dengan Mbok Inah aku bisa merajuk seperti ini.

Mbok Inah ikut duduk disampingku. disamping tempat tidur. Biarpun Mbok Inah hanya pembantu dirumah, bahkan senyumannya terasa begitu menenangkan. "Iya. Tadi Mbok sudah manggil Nak Prilly lima kali. Tapi nak Prilly-nya ndak dengar. Ya udah, Mbok Inah masuk aja. Kamu lagi ngelamunin apa, toh?"

Aku menggembuskan nafas. "Prilly ...." aku terdiam. "Kangen mama, Mbok," lanjutku. Dapat kudengar sendiri kalau suaraku tercekat.

Hening. Setelah itu aku dan Mbok Inah sama-sama terdiam.

Tiba-tiba saja tangan Mbok Inah merangkulku. Sekali lagi Mboj Inah tersenyum. "Mbok yakin, nak Prilly bisa menghadapi semuanya ...."

Aku menggeleng. "Tapi Prilly nggak sanggup, Mbok. Prilly nggak sanggup. Di dunia ini yang Prilly rasakan hanya sepi. Prilly sendirian ...."

"Siapa sih yang bilang kalo Nak Prilly sendirian?" tanya Bi Inah.

Aku menghembuskan nafas. "Prilly ...."

"Kenapa nak Prilly menganggap kalo nak Prilly sendirian?" tanya Mbok Inah lagi.

Bagaimana tidak? Setiap hari sepi. Ditambah hidupku yang terlalu monoton.

Black LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang