A/N:
Part ini penting. Jangan dilewatkan walaupun itu sedikit. Amati setiap bagian cerita. Seperti judul, karena ini adalah awal dari semuanya ....
-
-
-
-
-
.
----------------------------
Tidak ada kertas yang benar-benar bersih. Yakinlah, pasti ada hal yang tersembunyi di balik itu semua.
----------------------------
Suasana Kota Jakarta masih seperti biasanya. Ramai, tidak peduli kalau saat itu masih pagi buta.
Beruntung rumahnya berada di kawasan sepi. Walau tak bisa dipungkiri, akan menjadi sangat ramai jika bertepatan pada hari Sabtu alias malam minggu. Hari tempat banyak keluarga menghabiskan waktu luang mereka di luar rumah. Bahkan hanya sekedar jalan-jalan untuk menikmati udara malam. Juga hari dimana para pasangan muda menikmati hubungan manis mereka.
Rumah itu sederhana. Minimalis, bertingkat dua. Dengan cat abu-abu tua dengan kombinasi warna merah maroon membuatnya terlihat manis, namun tetap enak dipandang. Dalam arti lain tidak berlebihan.
Berpagar besi hitam tinggi seperti rumah minimalis pada umumnya. Terdapat taman kecil dengan rerumputan yang dirawat setiap hari. Juga kolam ikan koi berukuran sedang dengan banyakbatu asli berwarna hitam agak mengkilap di sekeliling kolam. Seakan kurang puas, gazebo kayu warna coklat tua juga dibangun untuk menambah kesan keasrian.
Matahari masih malu-malu menampakkan wujud. Namun, warna jingga pagi hari membuat suasana yang kala itu disertai angin sepoi-sepoi menjadi semakin sempurna.
Kopi susu panas mengepul menyita perhatian pemuda itu. Sebatang rokok terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. Badan gagah atletis itu sepenuhnya bersandar di pembatas kayu gazebo. Sesekali dia menghisap rokoknya pelan, menghembuskannya dengan sama pelannya. Menikmati saat-saat pagi hari dengan nikotin itu sangat nikmat, tidak peduli jika itu merusak paru-paru.
Menarik sekali, pikirnya.
Pemuda itu tersenyum miring. Matanya tetap memandang asap mengepul kopi susu seolah hal itu pertunjukan yang sangat menarik.
Sontak saja, pikiran pemuda itu tersedot ke memori satu hari yang lalu.
Sial sekali hidupnya. Meeting dibatalkan begitu saja. Kata mereka perusahaan yang bekerjasama itu tidak bisa menghadiri meeting karena ada urusan sangat penting. Terpaksa meeting itu diundur dan dilaksanakan dua hari lagi.
Masih berumur sembilan belas baru jalan dan juga baru lima bulan lulus SMA di umurnya yang kedelapan belas yang berakhir dua hari lalu, mengurus perusahaan Ramajaya Corp bukanlah hal yang mudah. Dan pada meeting kedua —pada meeting pertamanya sukses berat hingga Papanya memercayakan dia sebagai pemimpin asli perusahaan menggantikan papanya— tanpa aba-aba sama sekali pihak perusahaan yang akan diajak bekerjasama membatalkannya begitu saja. Hal ini tentu saja membuatnya geram.
Suntuk, pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan kantor sebentar. Hanya sekedar melepas penat.
Mobil CR-V putih miliknya membawanya menuju kawasan taman bernama Ranaindah. Sebenarnya taman itu sering menjadi sasaran empuk keluarganya untuk berpiknik mengingat hamparan rumput luas terawat yang ada di sana. Jadi, menurutnya untuk ke Ranaindah menjadi pilihan terbaik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Light
FanficManusia Iblis, pantas menjadi julukannya. Darah, nanah, keringat, teriakan-sudah menjadi kehidupannya. "Aku akan melakukan apapun semauku. Jika aku bahagia, kenapa tidak?" - Aliando Kenzo Digenendra Semuanya dimulai dari kesalahan, pertemuan tanpa...
