Chapter 8 (Ali's Special Part)

10.3K 1.1K 23
                                        

| Mengingatmu, pikiranku melayang dengan paksa. Apakah cinta juga berpengaruh pada identitas? |

•••

Ali's POV

Sudah terlambat!

God please fuck it!

Aku meraup wajah kesal.

Mayat Doni Alexas terlanjur dibawa kerumah sakit tepat sebelum aku datang. Aku hanya bisa menatap nanar ketika mayat lelaki busuk itu dibawa pergi oleh ambulans lengkap dengan sirine menyala keras.

Sial.

Goblok, goblok, goblok!

Berbagai makian kini ada dalam batin tanpa bisa aku tahan lebih lama lagi. Holy shit, aku terlambat beberapa menit saja, tapi semudah itu aku kecolongan. Rasanya sia-sia saja setelah membabi-buta di jalanan dengan kecepatan lebih dari 80 km/jam. Walupun sebenarnya penuh perhitungan hingga bisa mendarat mulus di sini. Karena kalau tidak, mungkin nyawaku sudah melayang dengan damai di neraka.

Bisa dilihat? Usahaku sia-sia.

Pertama, melewati jalan sepi bahkan termasuk jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu mobil, dengan harapan bisa mempercepat laju waktu.

Kedua, hampir saja aku menyerempet perempuan SMA berkerudung yang menaiki sepedanya.

Ketiga, sampai di TKP? Aku justru tidak memperoleh apa-apa. Bego. Ini yang aku tidak begitu suka. Walaupun jarang sekali terjadi, 1:50 bisa saja perhitunganku meleset.

Agak kurang guna juga aku di sini, tapi mengingat tujuan awalku hanya untuk memastikan jika permainanku benar-benar bersih, maka aku harus memeriksa langsung di tempat kejadian, membuktikan dengan mata kepalaku sendiri.

Setelah memarkir mobil tepat di belakang mobil polisi —oke, gue nantang diri sendiri— aku menembus kerumunan. Lucu juga memarkir mobil hitam mengkilapku di belakang mobil polisi yang menurutku biasa biasa aja itu. Tapi masa? Seorang Aliando Kenzo Digenendra nggak berani? Ini nantang nyali baja, bro! Dan pertanda? Nyali gue bener-bener baja. Percaya nggak percaya terserah elo semua. Gue nggak peduli.

Aku tetap menembus kerumunan orang orang itu. Agak sulit sebenarnya, mengingat berapa banyak orang yang berkerumun. Persis seperti sebuah gula yang tercecer, kemudian semut-semut mengerumuninya seperti harta karun berharga. Aku tertawa dalam hati. Sadar tidak sadar, aku sudah termasuk dalam golongan semut-semut tidak berguna itu. Yang kenyataannya mencari harta karun berharga. Penyelamat hidupku sendiri.

Goblok!

Refleks, tangan kananku menutup hidung dan mulut. Sialan! Seberapa banyak dosa Alexas hingga udara berbau sangat busuk seperti ini Damn!

Setelah memaksakan diri menembus kerumunan manusia, dan sukses bernego sedikit dengan polisi yang berjaga di dekat garis kuning terbentang, akhirnya aku sampai tepi jurang. Agak jauh tentunya.

Setelah kulihat, baru tahu juga. Ternyata jurang itu dalam dan curam.
Aku tertawa dalam diam. Dasar Ali, manusia busuk. Entah kenapa aku justru merasakan kebahagiaan tiada tara melihat bekas darah tercecer mengenai dedaunan di bawah sana.
Terbukti, hatiku telah mati. Ditelan keterbelakangan mental psiko yang menjadi penghiburanku selama ini. Manusia bodoh yang haus darah.

Membuang tubuh manusia ke sana? Nyali yang sangat bagus. Bayangkan saja ketika tubuh manusia itu berguling, tertusuk-tusuk ranting, menggores tubuhnya dan menimbulkan luka baru menganga. Astaga, bukankah itu indah sekali?

Aku menoleh ke kanan. "Permisi, Pak. Kalau saya boleh tahu, kapan mayat Doni Alexas ditemukan?" tanyaku pada polisi terdekat. Walaupun aku sudah mengetahuinya lewat berita. Tapi tetap saja. Bertanya secara langsung lebih memuaskan.

Black LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang