----
Ali's POV
Aku termenung. Sendirian berdiri di balkon apartemen. Merasakan angin senja menerpa wajahku.
Aku memandang kebawah. Lalu lintas tetap seperti biasanya. Ramai, dan cenderung macet.
Selama dua hari ini aku selalu di rumah. Lima jam lebih mengurung di kamar setiap harinya. Hanya keluar kamar jika Aldo datang berkunjung. Setelahnya, karena bingung apa yang harus dilakukan, kegiatanku dengan gampangnya diakhiri oleh tidur yang bahkan tidak bisa nyenyak sedetikpun. Untung saja Mr. Edy bos antikku itu mau diajak berkompromi karena memperbolehkan aku cuti selama yang aku mau, asal jangan lebih dari satu minggu. Alasannya, agar dia tidak terlalu repot dan ada teman supaya tidak kesepian. Begitulah.
Terkadang aku berpikir, mungkin oleh Tuhan aku dikutuk. Ingin aku mempertanyakan kenapa, tetapi sepertinya hal itu memang pantas diberikan mengingat kelakuanku selama ini yang menumpas nyawa orang seenaknya sendiri.
Setiap aku terlelap—God fuck it! Bahkan ketika memikirkannya saja, aku tidak bisa jika tidak mengumpat sekali dua kali.
Setiap kali aku terlelap, mimpi itu, mimpi yang dulunya adalah kisah nyata pahit tentang masa kecilku, hadir lagi setelah sekian tahun aku dapat melupakannya. Tentang semuanya yang bahkan kini aku dapat mengingatnya kembali, secara detail.
Goblok.
Aku dapat menjadi pribadi yang dingin, kejam, tidak berperasaan dan bisa membunuh seseorang kapan pun itu, karena masa laluku. Nyatanya, hal itu semakin ke sini semakin memperburuk setiap sendi hidupku ketika aku teringat.
Kenyataan pahit lain ....
... Black Light ini dulunya adalah penghuni Panti Asuhan.
Siapa yang menyangka orang penuh dosa sepertiku ini dulunya berada di panti asuhan? Tempat yang terkenal dengan jiwa sosial yang baik, juga asuhan dari ibu panti yang sangat dermawan. Di sinetron maupun film yang memunculkan adegan panti asuhan selalu saja semuanya terlihat melebihi kata baik. Sempurna. Anak-anak dengan didikan yang santun. Anak-anak tanpa orang tua kandung dengan wajah polos. Anak-anak yang penurut.
Tapi apa? Sebenarnya tidak juga selamanya seperti itu.
Untuk apa aku dibesarkan di tempat —yang menurutku— terlampau sakral jika masa depanku dapat menjadi sangat kotor seperti ini? Sungguh. Tidak ada gunanya. Sama sekali. Pada akhirnya, memang hanya aku sendiri yang berhak menentukan semuanya. Bukan Ibu Panti, apalagi lingkungan pergaulan.
Dan lagi, apakah itu salah satu kepedulian orang tuaku yang brengsek itu atau bukan, aku tidak mengerti. Bukankah lebih baik aku ditinggalkan saja jika mereka benar-benar tidak berniat mengasuhku bahkan sama sekali tidak berniat memiliki aku. Bukan di panti asuhan, lebih baik aku ditinggalkan di salah satu rumah sakit atau di mana pun itu asal aku dapat mati dengan cepat dalam keadaan yang masih suci. Biar saja mereka yang menanggung dosa-nya. Toh, kalau dulu memang begitu kejadiannya, aku bisa mati secara suci, tanpa dosa, dan juga tanpa ikut menanggung akibat karena perbuatan orang tuaku yang sama brengsek nya itu.
Disisi lain, sekarang aku adalah manusia paling terkutuk. Karena apa? Aku sudah berani mengatai orang tuaku sendiri 'berengsek'. Walaupun itu tidak secara langsung juga. Mungkin suatu hari nanti? Aku senantiasa menunggu.
Sekarang, bagaimana kabarmu Aliando Kenzo Digenendra? Apakah kabarmu baik? Nyatanya, kamu masih haus akan darah manusia. Sudah berapa banyak nyawa melayang, Li? Mari riset. Bahkan dirimu sendiri tidak ingat.
Again, goblok.
Nyatanya, aku adalah manusia paling kotor. Penuh dosa. Really fucking mad.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Light
FanfictionManusia Iblis, pantas menjadi julukannya. Darah, nanah, keringat, teriakan-sudah menjadi kehidupannya. "Aku akan melakukan apapun semauku. Jika aku bahagia, kenapa tidak?" - Aliando Kenzo Digenendra Semuanya dimulai dari kesalahan, pertemuan tanpa...
