Sebelum nya mohon maaf untuk pembaca karena bareng up hehe
Chapter kali ini gk ada kata sedih ya.
Hubungan aken dan juga naken saat ini sudah sangat baik, hanya sedikit bumbu pertengahan kecil yang di mulai dari alen. Saat ini kehamilan alen masuk 6 minggu masih terlalu kecil dan rawan keguguran. Masih belum nampak di perut kecil alen saat ini, hanya 4 orang saja mengetahui jika alen hamil, alen juga belum memberi tahu pada Jane karena takut Jane akan menjauhinya lagi.
Kalau tentang Leon saat ini dia sangat positif pada alen dan bayi nya, apalagi ayahnya seseorang dokter yang selalu mewanti wanti alen dan juga leon.
Untuk naken saat ini selalu menuruti kemauan apa yang diminta oleh alen. Meski yang di minta oleh alen sedikit tidak masuk akal, akan tetapi demi pujaan hati naken siap menerima dan menuruti kemauan alen. Seperti halnya saat ini mereka, alen Jane naken leon dan zayn duduk dikantin.
"Aku ingin mie pedes pokoknya" Pinta alen yang duduk di samping naken yang menghela nafas kasar bukan karena capek dengan sifat alen, naken tidak mau menuruti kemauan alen karena kesehatan alen sedikit menurun.
"Tidak pesan yang lain saja ya" Alen mendengus kesal mendengar penutur an naken. Alen melihat leon yang sedari tadi hanya diam saja.
"Alen makan nasi soto ayam aja sama Jane" Tawar Jane. Alen memikir sebentar lalu mengangguk.
Beberapa menit setelah menunggu, pesanan pun dateng. Saat naken ingin menyuapi alen, alen memalingkan wajahnya menolak suapan naken karna masih kesal melarang kemauan nya. Alen berdiri pergi menuju leon duduk di samping nya memintan untuk menyuapinya. Leon hanya diam saja tanpa ikut campur toh ia tidak ikut ikut. Naken menatap alen yang marah padanya menghela nafas pasrah.
Setelah makan di kantin mereka menuju kelas masing-masing karena kedua manusia imut itu tidak mau di antar menuju kelasnya.
____________
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, seolah dicat dengan sapuan kuas raksasa yang menghamparkan gradasi oranye, merah muda, dan ungu lembut. Alen berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu dengan sabar sambil sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan poni rambutnya yang sedikit basah karena keringat setelah pelajaran yang sedikit menguras tenaga di jam terakhir.
"Alen!" Suara merdu itu membuatnya menoleh. Naken berlari kecil menghampirinya, tas ransel biru navy-nya bergoyang mengikuti langkahnya. Rambut panjangnya yang diikat setengah berkibar-kibar, dan senyumnya yang cerah membuat hati Alen menghangat. Entah kenapa kekesalan padanya perlahan menghilang yang di sambut dengan senyuman naken. Inilah yang membuat alen merasa hangat jika bersama naken
"Maaf alen, tadi ada tugas dari Pak Budi yang harus dikumpulkan dulu," ujar Naken sambil mengatur napasnya.
Alen tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Aku juga baru saja keluar kok."
Mereka pun mulai berjalan beriringan, tanpa melepas gengaman tangan mereka, dan meninggalkan keramaian gerbang sekolah yang masih dipenuhi siswa-siswa lain. Rute pulang mereka memang searah, melalui jalan setapak yang diapit pepohonan rindang di sisi kanan dan sawah yang menguning di sisi kiri. Ini adalah momen favorit mereka berdua—pulang sekolah bersama, berbincang tentang hari yang baru saja mereka lalui. Tentang bagaimana tantangan yang dialami oleh alen. Entah penderitaan nya akan selesai pada waktu singkat atau panjang.
"Bagaimana ulangan matematikamu tadi, apakah mengalami kesulitan, apakah perutmu sakit lagi hmm?" tanya Naken sambil melirik Alen.
Alen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lumayan susah juga. Soal nomor lima membuatku berpikir lama. Tapi aku sedikit di beritahu oleh Jane, perut ku juga tidak sakit lagi, Kamu naken bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
"JANE & ALEN"
Teen Fiction"Jane suka sama Zayn" Zayn tersenyum bahagia •••••••••••••••••••••••••••••• "Gw itu gk suka sama elo , gw jijik sama Lo homo sialan"teriak Alen marah naken "Terserah lo ,Kalau lo emang jijik sama gw ,gw GK akan bantu...
