HAPPY READING
>>>
"Ada dua anak yang lahir dari luka yang sama; satu memilih menjadi cahaya, satu mengabdikan diri pada gelap."
—by kasaa
Beberapa tahun lalu…
"Lo tuh beban banget! Jalan kaki dari rumah ke sekolah aja ngeluh. Nyusahin, Galaxy!"
Bentakan Kairav meledak begitu saja. Wajahnya memerah, penuh emosi. Galaxy, adiknya, hanya bisa menunduk—menerima setiap kata seperti duri yang menancap pelan.
"Kalo mau berangkat, naik kendaraan umum juga bisa. Lo punya uang! Kalo begini terus, gue yang repot. Gue ada presentasi pagi ini, tahu nggak?!"
Kairav terus memaki, sementara Galaxy diam, seperti sudah kebal namun tetap terluka.
Di sisi lain, seorang pemuda seumuran Galaxy tengah berlutut di depan sebuah gundukan tanah yang masih baru. Tubuhnya berguncang, sesenggukan tak tertahan. Bajunya yang putih tampak kontras dengan tanah merah yang lembap, seakan memperjelas betapa hancurnya dunia yang ia punya.
Wajahnya sembab, basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti. Napasnya berat dan terputus-putus, seperti setiap tarikan dada membawa rasa sakit baru.
"Ayahhh… apa Sam nggak berhak bahagia?" suaranya pecah, hampir tak terdengar. "Sam cuma punya Ibu… Yah… cuma itu…"
Setiap kata meluncur seperti serpihan kaca dari tenggorokannya—pelan, lirih, namun menyesakkan. Dalam kalimat kecil itu, tersimpan makna yang jauh lebih besar dari usia seorang anak.
"Aku tidak rela. Nyawa harus dibalas nyawa? Kenapa yang pergi harus Ibu?"
Siapa pun tahu: tak ada yang rela kehilangan orang yang disayang sepenuh nyawa.
Tak ada. Termasuk bocah itu.
Dialah Samudra Aglax Kailand—anak kecil yang seharusnya tumbuh dengan tawa, namun malah dipaksa memahami pahitnya dunia lebih cepat dari siapapun. Dan dari lubang luka itu, tumbuh satu hal yang akan membentuk dirinya kelak:
Ambisi untuk membalas dendam pada keluarga ayahnya.
Pada pihak yang ia yakini merebut satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Di belakangnya, seorang pria mendekat pelan. Tangan kasarnya diletakkan lembut di bahu Samudra. Ayah sambungnya—sosok yang tersisa untuk menjadi tempatnya bersandar.
“Nak,” ucap pria itu dengan suara serak namun hangat, “dunia boleh jahat sama kamu. Dunia boleh nggak adil. Tapi Ayah… Ayah akan selalu ada di sini.”
Samudra menunduk, menggigit bibir, mencoba menahan isak yang kembali pecah.
“Lari lah, Sam. Kejar apa pun yang menurutmu harus kamu dapatkan.”
Kata-kata itu, yang seharusnya menenangkan, justru berubah menjadi bahan bakar bagi luka di hati Samudra. Tanpa ia sadari, dukungan pria itu juga berarti merestui api dendam yang mulai tumbuh dalam diri anak itu—api yang kelak akan membentuk siapa Samudra sebenarnya.
Dan hari itu, di depan gundukan tanah yang masih basah, dendam itu lahir. Lengkap. Utuh.
Diam-diam, gelap mulai menandai jalan hidup seorang anak bernama Samudra Aglax Kailand.
•••
"Ya pantas aja Papa buang lo. Nyusahin," suara dingin terdengar dari belakang.
Galaxy menoleh—itu Ragal, adiknya yang lain. Alih-alih simpati, Ragal menatapnya dengan jijik sebelum berjalan pergi tanpa peduli, bergegas sebelum matahari tenggelam.
Sudah terlalu banyak kebencian yang Galaxy terima. Dari keluarga, dari lingkungan, dari takdir. Yang datang padanya hanya rasa sakit—tanpa jeda.
Waktu berlalu.
Di tengah kepedihan itu, Galaxy akhirnya bertemu seseorang yang wajahnya begitu mirip dengannya. Terlalu mirip, sampai-sampai dia sendiri ragu apakah dirinya benar-benar Galaxy yang asli.
Hanya saja—satu tatapan dari pemuda itu cukup untuk membuat siapa pun bergidik. Tajam. Menusuk. Seolah bisa melumpuhkan siapa saja hanya dengan sorotan matanya.
Namanya Samudra Aglax Kailand.
Meski wajah mereka bagaikan cermin, sifat keduanya bertolak belakang.
Galaxy penuh ketenangan—lembut, tutur katanya terjaga, dan selalu menahan diri.
Samudra… kebalikan total: arogan, berwibawa dalam cara yang mengintimidasi, dengan aura yang membuat orang enggan mendekat.
Saat pertama kali melihatnya, Kai sempat yakin Samudra adalah kakaknya. Kakak yang dulu hangat, perhatian, dan tak pernah membentak.
Namun waktu perlahan membuka kebenaran.
Yang berdiri di dekatnya bukan sang kakak.
Bukan pula Galaxy yang ia kenal.
Tanpa sadar, Kai menjauh.
Bukan karena dia ingin, tapi karena Samudra bukan seseorang yang bisa ia dekap seperti dulu.
Samudra sendiri tidak peduli. Fokusnya hanya satu: menghancurkan seluruh keturunan dan orang terdekat Kavello.
Itulah tujuan hidupnya—dendam yang ia genggam erat bertahun-tahun.
Yang tidak ia sadari… ketika semua itu berakhir, ketika ia berdiri sendirian tanpa arah, seseorang yang dia butuhkan selama ini—yang ia pikir hilang—masih hidup.
Galaxy masih hidup.
TBC
Stay tune guyss masih ada beberapa chapter lagii hihihi....
KAMU SEDANG MEMBACA
[SUNOO] Galaxy Life
Cerita Pendek"aku tidak berubah, hanya saja kalian yang tidak mengenal ku." @_kasaaaa
![[SUNOO] Galaxy Life](https://img.wattpad.com/cover/366121861-64-k74695.jpg)