Gue lagi gabut, jadi yah... Enjoy~~
Bonus Story: Gaya Topi
Thorn berdiri di depan cermin kamarnya, memiringkan kepala ke kanan kiri. Tapi setiap kali, ia mengerutkan kening, menatap dengan kurang puas.
"Kamu kenapa? Dari tadi gaya-gayaan dimuka cermin?"
Thorn menoleh. Solar berdiri di belakangnya dengan alis terangkat.
"Solar!" Thorn berseru. "Aku lagi cobain topi aku! Tapi entah kenapa, keknya kurang pas terus."
Solar melipat tangan, Wajahnya datar, tapi sudut bibirnya sedikit naik. "Iya kah? Kamu yakin itu bukan muka kamu aja yang jelek?"
"Hmph! Muka kita sama, tau!" Thorn membusungkan pipi, membuat Solar terkekeh pelan.
"Kamu nggak suka gayanya?"
Mereka berdua menoleh. Ice berdiri di belakang Solar, menyembul dari balik pundak adiknya dengan wajah datarnya.
"Kak Ice!?" seru Thorn dan Solar hampir bersamaan.
Ice melangkah masuk, tangannya sudah terulur. "Sini, coba aku liat."
Thorn menurut, membiarkan Ice mengambil topi hijaunya. Ice memegang topi itu, menatapnya sebentar, lalu menatap Thorn. "Menurut aku sih cocok aja. Tapi kalo kamu nggak puas..."
Ia memiringkan kepala, lalu memasang topi itu di kepala Thorn. Kali ini posisinya terbalik, lidah topi itu menghadap ke belakang.
"Woah!" Thorn membelalak, langsung menatap cermin. Matanya berbinar-binar. "Jadi mirip Kak Gem!" Ia memutar-mutar kepala, tersenyum lebar.
Tapi Solar segera mengambil topi milik Thorn, mengangkat satu alisnya. "Kamu nggak cocok pake gaya Kak Gem."
"Eh?! Kenapa?!"
"Ya... vibes-nya beda. Kak Gem itu Kak Gem, kalo kamu... ya kamu."
"Hmph!"
"Kenapa sih, nggak pake gaya biasa aja?" tanya Solar.
"Bosen! Aku mau punya gaya topi yang keren! Yang beda dari yang lain!"
"Hm... Original ya?" Ice bergumam, berpikir. Ia mengambil topi itu dari Solar, lalu memasangnya kembali ke kepala Thorn. Kali ini lidah topinya menghadap ke kiri, sedikit miring ke belakang.
"Kalo gini, gimana?"
Thorn menatap cermin. Matanya membelalak. "WOAH!!"
"Itu kan cuma versi kebalikannya Kak Taufan?" komentar Solar dengan datar.
"Nggak kok. Kak Taufan miringnya cuma ke kanan. Nah, Kalo ini, miringnya ke kiri, tapi agak ke belakang. Belum ada yang pake gaya ini, kan?" Ice tersenyum, menoleh ke Thorn. "Kamu suka?"
"SUKA BANGET!"
Thorn segera memutar-mutar tubuh di depan cermin sambil tertawa kecil. "Makasih Kak Ice!" Serunya, dan Ice membalas dengan mengusap kepala Thorn dengan lembut.
Sementara Solar hanya menatap mereka beberapa saat. Lalu, tanpa suara, ia berbalik dan berjalan pergi.
~
Solar berjalan menyusuri lorong menuju ruang kokpit kapal. Tangannya memegang topi putihnya, tapi tidak dipakai, hanya digenggam erat.
Di dalam kokpit, Blaze sudah duduk di kursi pilot, memeriksa panel kontrol dengan setengah malas. Tapi begitu melihat Solar masuk, sebuah senyuman muncul di wajahnya.
"Solar! Udah siap?" Ia menatap sekitar. "Mana kakak berduamu itu?"
"Mereka udah siap, kok. Paling bentar lagi dateng." Jawab Solar datar, duduk di kursi belakang.
Blaze mengangguk. Tapi matanya tidak lepas dari Solar. Ada yang aneh. Adik bungsunya itu biasanya kalau masuk kapal langsung sibuk dengan gadget atau buku. Sekarang ia hanya duduk, menatap lantai.
"Mana topi baru kamu?" tanya Blaze santai. "Kok nggak dipake?"
"E-eh? Itu..."
"Kenapa?"
"Nggak kok..." Solar mengalihkan pandangannya, menggenggam topinya lebih erat. "Sebenernya..."
*Solar lalu menceritakan apa yang barusan terjadi*
"Hahahahaha! Jadi ceritanya kamu iri gitu?" Blaze tertawa dengan keras.
"Aku nggak iri!" Solar cepat-cepat membantah, tapi pipinya sudah memerah. "Cuma... ya.. akujugapengengayaakusendiri." Ia bergumam dengan cepat.
Blaze masih terkekeh. "Padahal menurut aku kalian keren-keren aja kok, pake gaya topi apapun!"
Solar mendengus, masih merajuk. Blaze menghela nafas, senyumnya tidak luntur. Lalu tanpa aba-aba, ia mengambil topi dari genggaman Solar.
"Eh-" Solar terkejut, tapi Blaze sudah memasang topi itu di kepalanya. Lidahnya menghadap ke depan, tapi agak sedikit dimiringkan ke kiri.
"Kayak gini aja! Gimana?"
Solar menatap kakaknya itu, lalu ke cermin kecil di samping kursi pilot.
"Kalo gini kan, bukannya malah mirip Thorn?" protesnya pelan.
"Gapapalah, kan kalian kembar?"
"Hmph."
Blaze tertawa kecil. "Tapi ada bedanya kok. Kamu bilang tadi kan punya Thorn miring ke belakang, kalo kamu miring ke depan." Ia menjentikkan lidah topi Solar pelan. "Jadi agak mirip Kak Hali!"
Solar tertegun. Pipinya merona. "Mirip... Kak Hali?"
Solar mengalihkan pandangannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Jari-jarinya menyentuh pinggiran topi dengan malu-malu.
"Ekhem..." Ia berdeham, berusaha terdengar biasa. "Kalo gitu... aku pake gaya ini aja deh."
"Hehe, iya-iya. Kamu keren banget kok~" Blaze menepuk-nepuk kepala Solar.
Solar masih berusaha menyembunyikan ekspresinya, tapi dalam hatinya, ia merasa sangat senang.
*bonus
Thorn dan Ice berjalan masuk ke ruangan kokpit. Disana, Thorn langsung menyadari gaya topi Solar.
"Woah! Solar, gaya kita mirip!?"
Solar menegakkan tubuh, berusaha terlihat biasa. "Nggak kok. Punyamu miring ke belakang, kalau aku ke depan."
"Tapi kan sama-sama miring!"
"Berbeda, Thorn."
"KEREN! Kita beda gaya tapi kek kembar!!"
"Dih. Malas banget aku dibilang kembar kamu..."
"Solar!?"
Blaze menoleh, menatap dua adik bungsu mereka yang sedang ribut soal gaya topi di kursi belakang.
Ia mendengus, menyembunyikan senyumnya. "Bocil-bocil sialan."
Ice melirik Blaze, yang sedang menyandar di kursi pilot dengan senyum puas. Mereka bertukar pandang, lalu Ice mengangguk pelan.
"Oke!" Blaze berseru, menepuk paha. "Udah pada siap semua?!"
"Siap!" Thorn mengacungkan tangan.
Ice mengangguk.
Dan Solar tersenyum dengan percaya diri.
"Baiklah..." Blaze menggenggam kemudi, tersenyum penuh semangat.
"Kita berangkat!!!"
•
•
•
End
Pendek2 aja dulu, cape gw :v
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Brother Blaze
FanfictionKakak dimana? Ini udah 4 tahun... Aku masih tetap tepatin janji aku loh, kak. Tiap hari aku berusaha keras untuk menjaga mereka seperti yang kakak minta. Semoga kakak juga tidak mengingkari janji kakak, ya. . . Big Brother Blaze Third story 🖋✨ Co...
