Enjoy~
POV Ice
Sejak dulu, aku selalu membenci Blaze.
Dia itu kakak keempatku, dan sifatnya beda jauh banget dari tiga kakak tertua kami.
Padahal jarak usia kami cuma dua tahun. Tapi jujur? Kami sangat berbeda.
Hiperaktif, jahil, dan selalu saja berhasil bikin aku kesal. Kak Blaze punya pemikiran yang terlalu simpel, gampang ditebak, dan kadang bikin orang geleng kepala.
Sejauh yang aku ingat, aku dan dia hampir nggak pernah akur. Walaupun aku sadar dia tetap kakakku, usahaku buat memahami caranya berpikir sering kali sia-sia.
Apa pun yang dia buat, entah kenapa, selalu saja berakhir berantakan. Rasanya dia itu terlalu kekanak-kanakan, sangat susah diajak serius, apalagi kompromi.
Aku sudah lama pasrah dengan sikapnya itu. Tapi... sekesal apa pun aku dibuatnya, pada akhirnya tingkahnya selalu berhasil bikin rumah ini terasa hidup. Riuh, penuh canda, dan hangat.
Tapi semua itu berubah empat tahun lalu.
Tiga kakak kami dinyatakan menghilang dalam misi.
Dan yang paling berubah... adalah Kak Blaze.
Hari itu, berita yang dibawa Kak Fang membuat dunia kami runtuh seketika.
Itu adalah pertama kalinya aku benar-benar merasa takut.
Aku masih ingat jelas, tanganku gemetaran saat itu, aku tak tau harus berbuat apa. Jadi, aku hanya bisa menggenggam tangan Kak Blaze erat-erat.
Wajahnya saat itu... aku bisa lihat dia juga bingung. Sama putus asanya denganku. Tapi meski begitu, dia mengusap air mataku, lalu duduk di lantai. Dia meraih Thorn yang masih terisak keras, dan Solar yang hanya bisa terdiam kaku.
Dia merangkul kami bertiga dalam sebuah pelukan yang erat. Aku menatap wajahnya, dia tersenyum, senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan.
"Jangan khawatir, ya! Kakak ada disini!
Kakak bakal cari solusi untuk kita semua!"
Kak Blaze, yang saat itu baru berusia 13 tahun, mengambil tanggung jawab yang besar untuk kami.
Sejak hari itu, kami semua harus belajar hidup mandiri, dengan Kak Blaze yang menuntun kami.
Kak Blaze berjuang mengelola kedai Atok demi memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Kakak juga bergabung dengan Tapops, dalam pencarian ketiga kakak sulung kita yang menghilang.
Ini membuat kak Blaze menjadi sangat sibuk, berjuang untuk menjaga keseimbangan antara sekolah, pekerjaan, dan juga perannya sebagai 'pahlawan' di Pulau Rintis. Tapi tak peduli seberapa sibuknya, kakak selalu punya waktu untuk di luangkan bersama kami.
Dan Kak Blaze, dia berubah.
Dia berhenti jadi kakak cerewet dan jahil yang selalu membuat aku kesal.
Sebaliknya, dia jadi lebih pendiam, wajahnya sering terlihat serius, matanya sering kosong, menatap langit malam terlalu lama. Kadang masih ada tingkah usilnya, tapi senyumnya... terasa lain. Senyum itu nggak lagi hangat dan polos seperti dulu—lebih seperti topeng, sekadar untuk menenangkan kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Big Brother Blaze
Fiksi PenggemarKakak dimana? Ini udah 4 tahun... Aku masih tetap tepatin janji aku loh, kak. Tiap hari aku berusaha keras untuk menjaga mereka seperti yang kakak minta. Semoga kakak juga tidak mengingkari janji kakak, ya. . . Big Brother Blaze Third story 🖋✨ Co...
