Practice

269 49 10
                                        


[ Fluffy]

~ Bocah ~


Ruang Simulasi Tempur Level 9 TAPOPS berguncang hebat. Dinding bajanya yang dilapisi perisai energi berkedip merah, merespons benturan kekuatan berintensitas tinggi yang terjadi di dalamnya.

Di tengah arena yang kini dipenuhi kawah dan puing-puing simulasi, dua kilatan cahaya melesat saling beradu dengan kecepatan yang nyaris tak kasat mata oleh mata telanjang. Satu kilatan berwarna merah pekat yang membawa suara gemuruh memekakkan telinga, sementara yang lainnya adalah perpaduan pendar neon merah dan keemasan yang menyilaukan.

BLAM!

Gelombang kejut meledak saat sepasang Kerambit Supra beradu keras dengan bilah panjang Pedang Halilintar.

"Kuda-kudamu terlalu lebar, Bocah! Kau membiarkan sisi kirimu terbuka lebar!" seru Halilintar. Netra rubynya berkilat tajam di balik bayangan topinya. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang presisi, ia menangkis kerambit itu dan melayangkan tendangan kilat tepat ke perut Supra.

Supra terlempar ke belakang, namun dengan sigap ia memutar tubuhnya di udara, menancapkan sebelah kerambitnya ke lantai baja untuk mengerem lajunya hingga memunculkan percikan api yang panjang. Ia mendongak, menatap Halilintar dengan kacamata visor yang berkedip menahan amarah. Napasnya terengah-engah, namun senyum arogan yang sangat mirip dengan sang elemen cahaya tak lepas dari bibirnya.

"Itu karena aku sengaja memancingmu untuk menyerang sisi kiriku, Pak Tua!" balas Supra berteriak.

Dalam sekejap mata, tangan kanan Supra yang bebas terangkat. Energi cahaya keemasan yang terkondensasi dengan aliran listrik merah meledak dari telapak tangannya.

"Tembakan —!"

ZRAASSH!

Sebelum tembakan itu sempat tercipta sempurna, Halilintar sudah menghilang dari pandangannya, meninggalkan kilatan petir merah di udara. Supra melebarkan matanya.

"Kau terlalu banyak bicara saat casting serangan," bisik sebuah suara berat tepat di telinga Supra dari arah belakang.

Belum sempat Supra menoleh, punggung pedang Halilintar sudah menghantam pelan bagian belakang lehernya, diikuti dengan sapuan kaki yang membuat sang elemen fusi muda itu jatuh tersungkur dengan posisi tertelungkup di atas lantai simulasi.

"Mati. Kau baru saja mati tertebas di medan perang sesungguhnya, Supra," ucap Halilintar dingin, memutar pedangnya dengan gaya arogan sebelum membiarkannya menghilang menjadi partikel listrik. Ia menatap wujud fusi tersebut yang sedang mengerang kesal di bawah kakinya.

"Kecepatan eksekusimu lambat. Kau terlalu mengandalkan daya hancur cahaya milik Solar, tapi kau lupa bahwa fondasi utama seranganmu adalah kecepatan kilat milikku."

"Ugh... brengsek," umpat Supra pelan, memukul lantai baja dengan kesal.

"Halilintar! Turunkan voltase seranganmu! Kau bisa merusak inti energinya!"

Suara tajam yang menggema dari pengeras suara ruang simulasi membuat Halilintar seketika menghentikan niatnya untuk menyetrum Supra lagi. Di balik kaca pelindung ruang observasi di lantai dua, Solar berdiri dengan jas lab putihnya yang berkibar elegan. Kacamata visor kuningnya memantulkan ribuan baris data hologram yang sedang ia ketik dengan kecepatan luar biasa.

"Dia tidak akan belajar kalau aku terus mengasuhnya, Solar," balas Halilintar santai, menatap ke arah ruang observasi.

"Musuh di luar sana tidak akan peduli pada inti energinya."

Teaser Star - HalisolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang