[ Time Travel ]
~ Persetan dengan Central ~
🔞
Planet gurun tempat mereka menjalankan misi kali ini benar-benar membuat mood Halilintar berada di titik terendah. Udara yang panas, debu yang menempel di jaketnya, ditambah lagi... ia harus dipasangkan dengan elemen yang paling tidak ingin ia lihat wajahnya hari ini.
"Minggir, landak! Sinarmu yang norak itu menghalangi bidikanku!" seru Solar, melepaskan tembakan laser keemasan bertubi-tubi ke arah robot alien berbentuk kalajengking raksasa di hadapan mereka.
"Kau yang lambat, narsis!" balas Halilintar tak kalah sengit. Ia menebas capit robot itu dengan Pedang Halilintar, memunculkan percikan api yang menyilaukan.
"Kalau saja kau tidak sibuk bergaya sebelum menembak, robot rongsokan ini sudah hancur dari tadi!"
Masa ini adalah masa di mana Fusi Elemental belum ditemukan. Tidak ada Supra. Tidak ada resonansi energi. Yang ada hanyalah tujuh elemen yang terpisah permanen dengan ego masing-masing yang setinggi langit—terutama Petir dan Cahaya. Rivalitas mereka adalah rahasia umum di TAPOPS. Keduanya selalu berlomba untuk membuktikan siapa yang paling jenius, paling kuat, dan paling mematikan di medan tempur.
"Oh, maaf saja kalau presisi dan keanggunanku tidak bisa diimbangi oleh gaya bertarungmu yang bar-bar dan mengandalkan otot itu, Tuan Petir!" sindir Solar tajam. Kacamata visor kuningnya berkilat sombong.
"Bar-bar kau bilang?!" Urat kekesalan muncul di dahi Halilintar.
Mengabaikan robot kalajengking yang sedang mengisi ulang energi lasernya, Halilintar berbalik. Dengan Gerakan Kilat, ia langsung berdiri tepat di hadapan Solar. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan hitam langsung mencengkeram erat kerah kemeja putih Solar.
"Tarik ucapanmu, Cahaya, atau kusetrum otak jeniusmu itu sampai hangus," desis Halilintar dengan netra ruby yang menatap tajam, menantang.
Solar sama sekali tidak gentar. Ia justru balas mencengkeram kerah jaket merah-hitam Halilintar dengan kedua tangannya, menarik wajah elemen petir itu mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Coba saja kalau berani! Akan kubuat kau buta dengan—"
BZZZZTT!
Tepat saat mereka berdua sedang sibuk saling mengancam dengan napas memburu karena amarah, robot kalajengking di belakang mereka menembakkan sebuah sinar laser aneh berwarna ungu neon. Sinar itu tidak bersuara, tidak meledak, namun melesat lurus dan menelan tubuh Halilintar dan Solar yang sedang berdempetan.
Solar memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan sakitnya kulit yang terbakar laser. Halilintar secara refleks memeluk tubuh Solar untuk melindunginya, menahan napas untuk dampak ledakan.
Satu detik. Dua detik.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ledakan. Hanya ada sensasi seperti tubuh mereka ditarik melewati tabung hampa udara, membuat perut mereka mual bukan main.
Bruk!
Keduanya mendarat dengan bunyi debuk teredam di atas permukaan yang... sangat empuk?
Anehnya, posisi mereka sama sekali tidak berubah dari sebelum kilatan laser itu menelan mereka. Tangan kanan Halilintar masih mencengkeram erat kerah kemeja putih Solar, dan kedua tangan Solar juga masih meremas jaket merah-hitam Halilintar dengan agresif. Hidung mereka masih nyaris bersentuhan, napas mereka menderu karena amarah yang tertunda. Hanya saja, mereka kini mendarat dengan posisi setengah berlutut dan saling menantang di atas sebuah karpet.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teaser Star - Halisol
Hayran KurguKarena tidak peduli apa kata astrologi-bagi Halilintar, hanya satu bintang yang menggoda cukup dalam untuk menghancurkannya. Dan itu adalah Solar. Disclaimer - Oneshoot - bxb - Ship Halisol -🍋🔞
