[ Romance ]
~ Persetan dengan Central ~
🔞🍋
Kamar pribadi Kapten Petir malam itu benar-benar terisolasi dari dunia luar. Lampu utama telah dimatikan, menyisakan pendar redup berwarna keemasan dari lampu tidur di sudut ruangan. Udara di dalam kamar terasa sangat panas, dipenuhi oleh aroma ozone yang pekat bercampur dengan wangi manis yang menguar dari tubuh elemen cahaya.
Satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu hanyalah decitan ritmis dari ranjang King Size, gesekan kasar kain seprai yang sudah kusut masai, dan suara napas yang memburu putus asa.
"Nnggh... Ha-Hali... pelan... ughh!"
Solar melengkungkan punggungnya, jemarinya yang lentik mencengkram erat seprai putih di bawahnya hingga buku-buku jarinya memucat. Matanya yang tak terhalang kacamata visor tampak sayu dan berair, menatap tak berdaya pada sosok dominan yang mengungkungnya dari atas.
Halilintar menggeram rendah, sebuah suara bariton serak yang menggetarkan dada Solar. Pria itu menopangkan sebelah lengannya di sisi kepala Solar, sementara tangannya yang lain merengkuh pinggang pasangannya dengan posesif. Tubuhnya yang dipenuhi peluh bergerak dengan ritme yang dalam dan konstan, menuntut seluruh atensi dan kewarasan sang elemen cahaya.
"Tadi siang kau cerewet sekali saat rapat," bisik Halilintar tepat di telinga Solar, menggigit pelan daun telinga yang sudah memerah itu sebelum memberikan dorongan yang lebih dalam, memancing pekikan tertahan dari bibir Solar.
"Sekarang kenapa kau kehabisan kata-kata, hm, Sweetheart?"
"B-bajingan... ahh! K-kau..." Solar mencoba memaki, namun suaranya hancur menjadi desahan panjang saat Halilintar dengan sengaja mengenai titik sensitifnya. Tubuh Solar bergetar hebat, sepenuhnya tunduk di bawah kendali sang badai petir.
Halilintar menyeringai puas. Ia menunduk, bersiap meraup bibir merah Solar yang setengah terbuka untuk memperdalam ciuman mereka, dan membawa mereka berdua menuju puncak pelepa—
BEEP! BEEP! BEEP!
Suara alarm berfrekuensi tinggi yang sangat nyaring tiba-tiba meledak dari jam komunikator di pergelangan tangan kiri Halilintar yang menumpu di kasur. Cahaya merah darurat berkedip-kedip brutal, merusak suasana intim di ruangan itu dalam sekejap.
Gerakan pinggul Halilintar seketika berhenti.
Hening yang luar biasa canggung turun menyelimuti mereka, hanya disela oleh suara BEEP yang terus berteriak minta diangkat.
Urat kekesalan yang sangat besar langsung tercetak jelas di pelipis Halilintar. Netra rubynya yang tadi dipenuhi kabut gairah kini menyipit mematikan. Rahangnya mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi. Aura petir merah meledak-ledak liar di sekitar tubuhnya, siap menghanguskan siapa pun yang berani-beraninya menekan tombol panggilan darurat di jam istirahatnya.
Di bawahnya, Solar meraup oksigen dengan rakus. Wajah pucatnya masih semerah kepiting rebus. Ia melirik jam komunikator itu dengan sisa-sisa kewarasannya.
"H-Hali... angkat... itu panggilan darurat dari Central..." engap Solar susah payah, mencoba mendorong dada Halilintar agar pria itu menyingkir sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teaser Star - Halisol
FanfictionKarena tidak peduli apa kata astrologi-bagi Halilintar, hanya satu bintang yang menggoda cukup dalam untuk menghancurkannya. Dan itu adalah Solar. Disclaimer - Oneshoot - bxb - Ship Halisol -🍋🔞
