[ Spoiler ]
~ Ingat insting membunuh yang kau rasakan tadi ~
Langit di luar reruntuhan markas tidak lagi memancarkan cahaya bintang. Hanya ada warna merah darah yang pekat dan awan abu tebal yang menutupi atmosfer, tak ada lagi sinar matahari untuk menyentuh permukaan bumi yang telah mati. Udara berbau menyengat—kombinasi memualkan dari besi berkarat, ozon yang terbakar, dan anyir darah yang tak pernah benar-benar hilang dari indera penciuman. Angin berhembus membawa suara rintihan distorsi dimensi dari kejauhan, sebuah pengingat konstan bahwa akhir dari segalanya sedang mendekat.
Di dalam ruangan yang dulunya merupakan aula utama fasilitas bawah tanah TAPOPS, sebuah pertarungan yang sangat tidak seimbang sedang terjadi.
BZZZTT—CRANK!
Tubuh Supra terhempas dengan kecepatan peluru, menghantam pilar beton penyangga yang sudah retak hingga membuatnya hancur berkeping-keping. Debu tebal mengepul ke udara. Remaja fusi yang memiliki siluet dan rupa persis seperti Halilintar Solar itu memuntahkan darah segar dari balik kacamata visor-nya yang retak sebelah. Topi putih-merah bercorak fusinya sedikit miring, sementara jaket putih dengan corak emas merah dan turtleneck hitamnya kini koyak dan dipenuhi debu. Ia terbatuk hebat, memegangi tulang rusuknya yang serasa bergeser dari posisinya. Sensasi ngilu menjalar dari dada hingga ke ujung saraf tulang belakangnya.
Namun, belum sempat ia meraup oksigen masuk ke dalam paru-parunya yang meradang, sebuah kilatan merah menyambar menembus kepulan debu.
Sebilah pedang berlapis petir merah tua menancap tajam ke lantai beton, tepat dua sentimeter di sebelah leher Supra. Hawa panas ekstrem dari bilah itu langsung melepuhkan kulit lehernya, mengirimkan gelombang kejut yang membuat tubuh remajanya kejang sesaat.
"Bangun." Suara Halilintar terdengar sedingin es, hampa tanpa emosi, menusuk lebih dalam dari pedangnya.
Sepatu bot Halilintar menginjak dada Supra, menekannya ke bawah saat fusi muda itu berusaha merangkak naik.
"K-Kak Hali... ugh... tunggu..." rintih Supra, tangannya yang gemetar berusaha menyingkirkan kaki elemen petir itu.
"Musuhmu tidak akan menunggumu memuntahkan darah," potong Halilintar tanpa ampun. Sepatunya menekan lebih keras hingga terdengar bunyi retakan halus dari pelindung dada Supra.
"Entitas itu tidak akan memberimu waktu untuk bernapas. Bangun sekarang, atau kau mati di sini, di bawah kakiku!"
Supra mendongak dengan susah payah. Di hadapannya, Halilintar tidak terlihat seperti kakak sulung yang tegas namun protektif seperti yang selalu ia ingat. Jaket tempur hitam dan kaus merah pria itu robek di berbagai sisi, memperlihatkan kulit yang dipenuhi luka bakar hitam dan sayatan-sayatan dalam yang tak lagi mengeluarkan darah karena sudah mengering. Wajahnya tertutup lapisan debu tebal, namun netra rubynya menyala terang di dalam kegelapan. Mata itu kosong, tajam, dan sepenuhnya mematikan layaknya predator puncak yang telah kehilangan seluruh sisa belas kasihannya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Supra mengumpulkan energi listrik di telapak tangannya dan menghempaskannya ke kaki Halilintar. Ledakan kecil itu berhasil membuat Halilintar mundur satu langkah. Supra berguling menjauh, memaksa kakinya yang gemetar untuk menopang berat badannya. Ia terengah-engah, memuntahkan lebih banyak darah ke lantai.
Insting remajanya secara otomatis mengedarkan pandangan, mencari sosok Solar. Dalam hati kecilnya, Supra berharap elemen cahaya itu akan menghentikan kegilaan ini, atau setidaknya memberikan secercah energi penyembuh seperti yang biasa ia lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teaser Star - Halisol
FanfictionKarena tidak peduli apa kata astrologi-bagi Halilintar, hanya satu bintang yang menggoda cukup dalam untuk menghancurkannya. Dan itu adalah Solar. Disclaimer - Oneshoot - bxb - Ship Halisol -🍋🔞
