[ Fluffy]
~ Siluman Petir Mesum ~
Ruang laboratorium utama TAPOPS hanya diterangi oleh pendar kebiruan dari layar-layar hologram. Di tengah ruangan, Solar memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ia masih mengenakan turtleneck abu-abu yang dibalut dengan jas lab putih bersih. Kacamata visor kuningnya sudah tergeletak di atas meja sejak dua jam yang lalu.
Proyek Fusi Elemental akhirnya berhasil memberikan wujud fisik mandiri pada gabungan kuasa mereka. Namun, karena keberadaan wujud fusi ini masih tergolong lemah, fisik mereka saat ini tak lebih dari anak kecil yang terlihat seperti baru berusia tujuh tahun. Sebagai penyumbang energi cahaya untuk ketiga bocah fusi, Solar harus rutin memastikan resonansi energi di tubuh Taufan, Thorn, dan Halilintar tetap seimbang. Padahal, resonansi energi ini sebenarnya sangat sederhana, biasanya hanya membutuhkan kontak fisik ringan seperti saling menggenggam tangan selama beberapa jam untuk menyalurkan dan menstabilkan inti energi para fusi.
"Oke, gelombang energi Taufan pada Sopan sudah stabil, Thorn dan Sori juga tidak lagi mengisap energi berlebih..." gumam Solar parau, tangannya dengan lincah mengetik diatas keyboard virtual.
Matanya yang lelah memindai grafik fluktuasi data hologram di depannya, memantau dengan teliti tingkat energi kedua bocah fusi tersebut. Seharian penuh ia telah menguras tenaganya melakukan resonansi secara bergiliran, berjam-jam saling menyalurkan energi bersama Taufan untuk menstabilkan inti Sopan, lalu langsung dilanjut dengan Thorn demi menyeimbangkan elemen Sori. Sebuah senyum bangga yang sedikit arogan terukir di wajah pucatnya.
"Lihat itu, bahkan angin topan dan akar berduri tunduk pada presisi Cahaya. Data Sori dan Sopan perlahan mulai stabil. Kak Hali pasti ketar-ketir kalau tahu fondasi utama Supra seratus persen bergantung padaku."
Brak!
"Panjang umur'
Pintu geser otomatis laboratorium terbuka dengan kasar, tidak sempat merespons kode akses karena dipaksa mundur oleh aliran listrik merah yang merusak sirkuitnya.
Solar mendengus pelan, sama sekali tidak tersentak. Netra kelabunya menatap siluet tegap yang baru saja melangkah masuk. Hawa di dalam ruangan mendadak turun, digantikan oleh aroma ozone pekat.
Pintu tertutup kembali, dan terdengar bunyi 'klik' pelan. Pria itu baru saja mengunci lab dari dalam.
"Pintu itu harganya lebih mahal dari gajimu sebulan, Kak Hali," sindir Solar, menyilangkan kedua tangan di depan dada, jas lab putihnya sedikit berkibar.
"Kalau kau kesini tengah malam hanya untuk menantangku adu tembak di ruang simulasi karena tidak terima skor tempurku lebih tinggi hari ini, jawabannya tidak. Aku lelah mengurus Taufan, Thorn, dan anak-anak fusi itu."
Halilintar tidak menjawab. Wajah tampannya terlihat sangat datar dan dingin, namun rahangnya mengeras tajam. Urat halus tampak menonjol di lehernya. Langkah kakinya yang berbalut sepatu bot terdengar menggema, perlahan tapi pasti mengikis jarak di antara mereka.
"Apa?" tantang Solar, mengangkat dagunya sedikit, menolak untuk terlihat terintimidasi.
"Kau mau adu tatap mata denganku? Kau tahu refleksku jauh lebih ce—"
Halilintar terus maju hingga menabrak ujung meja kerja Solar. Dengan satu gerakan kilat yang bahkan tak sempat diantisipasi oleh insting Cahaya milik Solar, Halilintar menarik kursi beroda itu, memutar tubuh Solar hingga menghadapnya, lalu meletakkan kedua tangannya di sandaran lengan kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teaser Star - Halisol
FanfictionKarena tidak peduli apa kata astrologi-bagi Halilintar, hanya satu bintang yang menggoda cukup dalam untuk menghancurkannya. Dan itu adalah Solar. Disclaimer - Oneshoot - bxb - Ship Halisol -🍋🔞
