Di ruang kerja Elbert, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang intens.
clek
"loh, mana Zidan nak?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba bersandar di pintu.
"pulang bun" jawab Elbert singkat.
"sama siapa? kok gak sama kamu?" Grace berjalan masuk dan duduk di sofa depan meja kerja anaknya.
"sama kakak-kakak mereka, bunda."
"oh ya udah, syukur deh gak sama kamu" canda Grace. Elbert langsung menatap ibunya dengan tatapan datar-khas tidak suka.
Grace mengabaikan tatapan itu dan terkekeh. "oh ya, adik kamu bakal pulang loh. katanya kangen sama kamu, haha."
"alasan itu, bunda." sahut Elbert skeptis.
"haha iya sih, bunda kan cuma ngarang xixi" jawab Grace sambil tertawa.
Elbert menghentikan ketikannya dan menatap sang ibunda, "terus kenapa dia mau pulang, bun?"
"katanya udah capek tinggal di hallstatt. padahal di sana sepi dan tenang, kenapa malah gak betah ya?" keluh Grace.
Elbert hanya menggelengkan kepala. "bunda, dia udah setahun mengurung diri di sana. masih mending dia mau pulang."
Grace menatap Elbert dengan skeptis, ia tak paham dengan jalur pikiran anaknya sendiri. "loh, justru setahun itu sebentar. kalau lama itu sepuluh tahun lebih!"
"hah... terserah bunda saja. omong-omong, kapan dia pulang?"
"ihh, kangen ya sama adeknya?" goda Grace lagi.
Elbert hanya bisa menghela napas pasrah. melihat wajah datar anaknya yang langsung lesu, Grace tertawa puas. "haha, rencananya minggu depan."
Elbert mengangguk paham. "oh, nanti kusuruh orang buat jemput."
"gak usah bilang ke bunda, langsung telepon adikmu aja," ucap Grace sambil melangkah keluar. "bye, bunda mau pulang bareng ayah dulu ya!" Grace melambai-lambaikan tangan sebelum menutup pintu ruang kerja.
Elbert menghela napas lagi. ia mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Zidan.
'ay, ay, ay... i'm your little butterfly... green, black and blue...'
"hp siapa itu yang bunyi?" tanya Sean di dalam mobil.
"hp-ku, bang, hehe," jawab Zidan.
Sean mengangguk-angguk. "oh, ya udah angkat aja dulu."
bukannya mengangkat, Zidan malah langsung mematikan panggilan tersebut dan mengaktifkan mode do not disturb. "gak usah, lanjut aja. udah ku silent."
"oh, ya sudah..." jawab Sean dengan nada tenang.
sementara itu di ruang kerjanya, Elbert menatap ponselnya. ia langsung tahu teleponnya sengaja ditolak. pasti lagi sama kakaknya, atau dia udah tidur dan kakanya yang matiin, pikirnya.
"hahh... aku akan menelepon adik ku saja kalo begitu"
kring... kring...
suara dering telepon yang nyaring membuat seorang pria muda terbangun dengan kesal. "ck, siapa sih yang telepon malam-malam..." gerutunya.
dengan nyawa yang belum kumpul, ia mengangkatnya. "hello, with Matthew Flinch Moorele. resident of the historic lakeview apartments."
(halo, dengan matthew flinch moorele. penghuni apartemen Historic Lakeview).
"Matthew, jadwalkan kepulanganmu. nanti aku sesuaikan dengan jadwalku minggu ini."
"hah? iya, iya... aku kira tetangga yang telepon. jam 10 malam itu waktunya orang tidur, sialan."
KAMU SEDANG MEMBACA
PERAN
General FictionDALAM TAHAP REVISI bab yang sudah di revisi: ✔️ Andrea Zidan Prasmana, seorang remaja SMA yang hidupnya berubah drastis setelah membaca sebuah novel. Novel berjudul With My Star Sela itu membuatnya kesal karena tokoh antagonisnya memiliki nama yang...
