Zidan yang sudah puas menertawakan abang-abangnya dalam hati pun mengajak ketiga temannya untuk segera pergi. "udah deh, kita langsung pesen aja" ajak Zidan.
"siap bos!" jawab mereka serentak.
di depan deretan stan makanan, Zidan melihat ke sekelilingnya dengan bingung karena tidak tahu ingin membeli apa. "gw pesenin aja sama kayak lu Haikal" ungkap Zidan.
"wokehhh, ada request gak?" balas Haikal yang sedari tadi sudah melihat-lihat dan tahu persis apa yang ingin dia beli.
Zidan terdiam sejenak, memikirkan apa yang ingin ditambah, "um... es jeruk, sama tolong beliin susu uht yang 750 ml ya!" ujarnya dengan mata berbinar senang.
mata Haikal langsung membelalak terkejut mendengar ukuran susu yang diminta temannya itu. "et dah bujuk buset, belinya yang gede banget, tapi gak bikin lo tinggi-tinggi" ungkap Haikal dibarengi candaan.
Zidan hanya memutar matanya malas. ia sama sekali tidak berminat meladeni candaan Haikal saat ini. Zidan merogoh saku celananya, mengambil beberapa lembar uang, lalu memberikannya kepada mereka. "nih uangnya 400 ribu yah, masing-masing 100 ribu."
mereka semua mengangguk paham menerima uang tersebut.
Zidan mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang padat, lalu ia menemukan satu meja kosong yang sesuai. "gw duduk di sana ya?! awas jan ampe salah meja lo pada, paham?" ucapnya sambil menunjuk ke arah meja tersebut.
"hahh.. oke okehh, mohon tunggu yahh kanjeng ratuu~" sahut Raihan bergurau.
Zidan mengangguk lalu berjalan santai menuju meja yang ditunjuknya tadi. sementara itu Haikal, Raihan, dan Samuel segera berpencar untuk membeli makanan yang mereka inginkan.
cukup lama Zidan menunggu mereka kembali. suasana kantin yang riuh ditambah perutnya yang lapar bahkan sampai membuatnya sedikit mengantuk.
"Zidan! yuhuuuu~" panggil Haikal dari kejauhan, memecahkan rasa kantuk Zidan.
mereka semua akhirnya kembali ke meja dengan nampan yang penuh. makanan yang dipesan setelah mengantre panjang.
Zidan menatap hidangan di depannya, selera makannya langsung bangkit seketika. di sana sudah tersedia semangkok bakso dan semangkok mi ayam yang dipesankan oleh Haikal, lengkap dengan es jeruk dan sekotak besar susu uht permintaannya. "wuihh, enak-enak yah. mat makan ges!"
"selamat makann!" ujar mereka bertiga serentak, lalu mulai menyantap makanan masing-masing dengan lahap.
namun, saat Zidan sedang asyik-asyiknya mengunyah makanan, tiba-tiba saja dari arah belakang ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya cukup keras.
Zidan terperanjat kaget, refleks membuat tubuhnya sedikit bergidik karena sentuhan itu. ia buru-buru menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang melakukannya, seorang pria tinggi yang seragamnya tampak rapi. Zidan mengernyitkan dahi, merasa tidak asing karena sepertinya Zidan sudah pernah melihatnya.
"EH KAMU TADI YANG GAK SENGAJA KU TABRAK YAH!?" kaget Zidan begitu mengenali wajah di hadapannya.
pria tinggi itu tidak langsung menjawab, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"ehh duduk sini, dudukk" ajak Zidan sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya. namun pria itu tampak tidak mengerti maksud gerakan tangan Zidan dan hanya memiringkan kepalanya bingung.
"kamu tadzi tidaks apa-apa?" tanya pria tersebut.
alis Zidan seketika mengernyit. ia menatap pria tersebut dengan bingung sebelum akhirnya buru-buru menyenggol lengan Samuel. "huh?? eh, google translate cepettt google! orang luar keknya deh." Zidan lalu beralih kembali menatap pria tersebut. "uh.. wait yah, wait."
KAMU SEDANG MEMBACA
PERAN
Fiksi UmumDALAM TAHAP REVISI bab yang sudah di revisi: ✔️ Andrea Zidan Prasmana, seorang remaja SMA yang hidupnya berubah drastis setelah membaca sebuah novel. Novel berjudul With My Star Sela itu membuatnya kesal karena tokoh antagonisnya memiliki nama yang...
