32. Membagi Beban

3 1 0
                                        

Hai! Apa kabar..
Gimana kabarnya?
Semoga baik-baik saja, yah..
Jangan lupa vote dan komen, semua!
Happy Reading :3

888

888

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

32. Membagi Beban

***
"Tidak semua harus dibicarakan, cukup ada sisinya saja."
***

"Bintang, mau kemana kamu?" tanya Mama Arum mengejar Bintang ke tempat kelasnya. Tadi ia pikir Bintang peka dengan kode yang diberi, tapi sampai ke tempat parkiran Mama Arum tidak menemukan Bintang di belakangnya.

"Ngapain Mama ke sini?" sensi Bintang.

"Ngejar kamu." jawab Mama Bintang. "Kenapa tadi nggak ngikutin Mama? Kan Mama udah tekan perkataan Mama untuk ikut ke parkiran."

"Apa baiknya Bintang ikut Mama? Emang kita ada sesuatu yang baik untuk dibicarakan?"

"Ada."

"Seingat Bintang, nggak ada." Bintang menjauhi Mama Arum.

"Dengerin dulu, Mama ada sesuatu untuk diomongin ke kamu."

Bintang terhenti. Bintang akui, ia masih berharap secercah harapan kepada Mama Arum. Bagaimanapun juga, dia orang yang melahirkan Bintang. Sudah lama Bintang tidak saling bertemu, Bintang rindu.

"Bintang," Mama Arum memutar balik badan Bintang ke belakang. "Mama ingin kamu agar merahasiakan semua yang kamu ketahui sekarang tentang kehidupan Mama kepada siapapun."

"Semua yang Bintang ketahui?" Bintang mengerutkan dahinya. "Maksud Mama hubungan antara kita?"

Mama Arum mengangguk.

"Dan kepada siapapun, maksudnya Kai?"

Mama Arum mengangguk lagi.

"Ma, Mama serius ngomong kayak gini sama Bintang? Jadi ini sesuatu obrolan itu." kecewa Bintang.

"Ini penting bagi kehidupan Mama sekarang, Mama nggak mau apa yang Mama bangun selama ini hancur karena kamu gitu aja." ungkap Mama Arum. "Mama ngrasa cemas sekali jika kamu membocorkan apapun rahasia itu, apalagi kepada Kai. Dia anak yang penurut dan baik, Mama nggak mau nyakitin hati dia."

Bintang menyugar rambutnya mencoba untuk mencerna semua perkataan Mama Arum. Harapan Bintang pupus.

"Bintang, kenapa diam aja?" Mama Arum memohon-mohon dengan mengambil tangan Bintang. "Jawab, Bintang. Kamu bisa, kan?"

"MAMA!" bentak Bintang kencang membuang tangan Mama Arum begitu saja.

Disatu sisi, Langkir yang sedang mencari keberadaan Bintang jadi tahu letak posisi sebenarnya. Ia lantas mengikuti jejak suara Bintang berasal.

"Coba Mama lihat siapa yang ada di depan Mama sekarang." Bintang menangis memelas sembari mengambil kedua bahu Mama Arum. "Ini Bintang, Ma. Bintang Rumanala, anak bungsu Mama. Anak kandung Mama sendiri. Anak yang keluar dari rahim Mama sendiri. Ini Bintang, Ma."

LANGKIR (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang