Anna baru saja sampai di kelasnya ketika seseorang segera menarik lengannya. Dia, Nanda. Cewek manis ini dengan cepat menariknya pada kursi mereka. Menghentakkan Anna untuk sesegera mungkin duduk di sampingnya.
"Ada apaan, sih?"
"Gue cuman pengen lo duduk di samping gue," jawabnya singkat.
Cewek ini menghembuskan napasnya lega saat seorang cowok masuk dan menoleh ke arah mereka. Memasang wajah kecewa ketika tahu sudah ada orang lain yang duduk di kursi cewek incarannya.
Anna mengangguk paham. Jadi Nanda cepat-cepat menariknya untuk duduk berdampingan karena dia tak mau Gio--atau lebih terkenal dengan sebutan batu Giok--duduk di sampingnya.
Nanda masih saja mengatur napasnya. Sejak sampai di sekolah, dia berlari cepat saat tahu Giok sudah menunggunya dan ingin duduk bersama dirinya. Padahal cewek ini sudah dengan terang-terangan menolak cowok polos yang entah kenapa terus-terusan mengatakan kalau Nanda adalah wanita masa depannya.
"Bisa stres gue kalo kayak begini mulu," Keluh Nanda. Anna hanya bisa menahan tawa di sampingnya.
Sungguh, dia sebenarnya tidak tega melihat nasib malang Nanda--teman pertamanya di sekolah ini. Tapi melihat Giok yang sepertinya tak pantang menyerah untuk mendapatkan Nanda, serta bagaimana Nanda yang terus menghindar dan bersikap acuh pada Giok, membuat semuanya terlihat lucu di mata Anna.
"Ketawa, lo," sindir Nanda. Cewek ini juga tak bisa marah ketika tahu Anna sudah terkikik pelan di sampingnya.
"Ya ... maap. Lagian kalian itu kok bisa lucu banget?"
Nanda segera melemparkan death glare-nya pada Anna. Bagaimana bisa Anna berpikir bahwa seluruh penderitaannya ini lucu?
"ANNA!"
Hampir saja Nanda akan memukul bahu teman barunya--seperti yang biasa mereka lakukan ketika sedang kesal--ketika kehadiran Lio di depan pintu membuatnya terpaku dan gagal melakukan niatnya. Cowok tampan itu melirik ke seluruh ruangan dan berhenti ke arah mereka. Bahkan Nanda bisa merasakan kalau jantungnya terasa akan runtuh ke perut karena menyadari senyuman dan langkah seorang Adelio Cetta terarah padanya.
Cowok itu melambaikan tangan padanya, lalu beralih menatap pada Anna. Ada senyuman di wajah Lio. Diusapnya puncak kepala Anna, lalu mengambil kursi kosong di depan sang adik.
"Ternyata kamu di sini," ucapnya setelah berhasil duduk dan menghadap pada Anna dan Nanda. Lio menatap cewek di samping Anna, lalu memberikan senyuman pada cewek itu. "Hai," sapanya.
Nanda seolah tersedak air liurnya sendiri. Dia tak pernah tahu kalau efek sebuah sapaan dan senyuman manis dari Lio bisa membuatnya kehilangan kemampuan berbicara.
"H-hai," balasnya gugup. Lio masih menatap padanya dengan senyuman manis yang sukses membuat Nanda menatap cowok itu dan memujanya lebih dalam lagi. Hati kecilnya menjerit, begitu beruntungnya dia hari ini.
"Nama kamu?"
"Nanda." Dengan cepat Nanda menjawab.
Lio menopang dagunya dan malah menatap Nanda lebih dekat lagi. Cowok ini sedikit menahan tawanya. Lucu melihat tingkah Nanda yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan padanya.
"Kamu udah punya pacar?"
"Kak!"
Anna segera mengalihkan perhatian sang kakak. Oh tentu saja, dia tak ingin kakaknya ini menggoda teman barunya seperti apa yang telah Lio lakukan sebelumnya pada teman-temannya saat di SMP dulu.
"Bercanda kali, An."
Lio bangkit dari kursi. Mengusap kepala Anna lembut dan dengan santainya mengecup puncak kepala Anna. Itu sukses membuat orang-orang di sekitar mereka--terutama untuk para cewek di kelas--membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa Lio bertingkah seperti itu di sekolah? Ditambah juga dengan fakta kalau orang-orang satu sekolah sudah tahu bahwa Anna adalah adik dari si kembar Cetta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sister Complex
Teen FictionSister complex? Mungkinkah hal seperti itu benar-benar nyata? Namanya Anna Gerenia Pramutja. Cewek 16 tahun yang sukses membuat teman-teman di sekolah merasa iri dengannya. Bagaimana tidak? Hidup satu atap dengan cowok-cowok keren yang menjadi id...
