CHAPTER 6 - Jadi Pacar?

24.8K 1.4K 32
                                        

Apa seperti ini tingkah anak SMA yang sebenarnya?

Anna menyapukan pandangannya pada seluruh isi kantin. Mendapati beberapa kumpulan laki-laki remaja yang salah satunya ada Lio di dalamnya. Lelaki di sana yang berisiknya bukan main. Bahkan salah satu yang memainkan gitar sangat mengganggu suasana kantin.

"Kamu kenapa?" Seseorang datang dan langsung duduk di hadapan Anna. Dia Dion, satu-satunya laki-laki yang berhasil diizinkan untuk dekat dengan Anna. Siapa lagi yang melarang kalau bukan para kakak laki-laki Anna.

"Berisik banget, Yon," keluh Anna.

Dion menatap sahabatnya itu. Melirik ke arah yang Anna maksud. Dan pandangannya jatuh pada Lio yang lagi nekat dekat-dekat gadis lain. Ketua cheers yang sekarang sedang populer di kalangan para siswa di sekolah.

"Kamu kesel karena berisik atau karena Bang Lio yang deket-deket cewek lain?" Dion berucap asal. Menyadari kalau Anna mendelik tajam padanya. "Apa?" tanyanya polos tanpa dosa. Dia sendiri merasa tak terima ditatap seperti.

"Kamu yah, makin kemari makin ngeselin." Anna segera mencubit kuat pipi chubby milik Dion. Laki-laki setengah oriental ini mendelik kesal.

"Kamu sendiri juga gak sadar yah kalo sama ngeselinnya." Dion juga mengikuti gerakan Anna. Menggapai pipi gadis di hadapannya, lalu mencubitnya kuat, seperti bagaimana Anna melakukannya tadi.

Sedangkan di sisi lain, Lio mendelik pada Anna tajam. Memperhatikan segala tindakan yang dilakukan sepasang pria dan wanita itu. Hanya sekedar memastikan kalau kedekatan itu bukanlah hal yang spesial.

Tapi selang beberapa menit, ketika Anna bangkit, Dion juga mengikuti Anna. Mereka berjalan beriringan. Awalnya tak ada yang membuatnya merasa aneh, tapi tiba-tiba dia mendapati Anna menautkan jemarinya pada Dion. Bahkan lelaki itu juga berani merapatkan tubuhnya lebih dekat lagi pada Anna.

"Gue pergi," ucapnya cepat.

Ketika ingin pergi, gadis itu, Gita, menahan tangan Lio sebentar. "Jangan lupa sama janji, lo. Kencan bareng Astha."

Lio memberikan senyumannya pada Gita yang dibalas anggukan oleh gadis itu. "Tapi gue nggak janji dia mau apa nggak. Gue cuman janji buat ngasut dia supaya mau di ajak jalan doang. Oke!"

"Serah lo dah, Yo. Yang penting mah Astha buat gue."

Keduanya tertawa sekilas. Lalu Lio melanjutkan langkahnya. Bukan untuk mengintai Anna. Dia sudah ketinggalan jauh dari kedua orang itu--Anna dan Dion. Sekarang yang menjadi tujuannya adalah Astha dan tempat yang harus dia datangi hanya satu, ruang OSIS.

*****

Anna baru saja akan membuka bukunya saat seseorang datang menghampirinya. Seorang yang dia kenal saat sedang di ospek beberapa hari lalu. Laki-laki yang dia berikan surat cinta karena paksaan dari pengurus OSIS. Dan Anna juga tak ingin memilih Astha sebagai korban surat cintanya karena tak ingin ambil risiko.

"Ada apa, Kak?" tanya Anna langsung saat lelaki itu sudah berdiri di hadapannya. 

Lelaki bernama lengkap Rama Ardi Laksmi ini menatap pada Anna ragu-ragu. Sepertinya masih bimbang antara mengatakannya pada Anna atau tidak.

"An ... kamu nanti ... sibuk?"

Anna berpikir sebentar. Nanti kapan? Jika yang ditanya nanti pulang sekolah, tentu saja dia sibuk. Dia akan memulai untuk melakukan aksinya membuntuti Astha seperti biasa. Tapi jika nanti jam istirahat kedua, mungkin selain Dion, tak ada orang lain yang akan menyibukkannya. Kecuali jika Lio berniat untuk menganggunya hari ini.

"Nanti kapan ya, Kak?" tanyanya memastikan. Dia hanya tak ingin terjadi miss communication dengan Rama.

Lagi, dia bisa melihat wajah Rama yang terlihat bimbang dengan kalimatnya. "Nanti pulang sekolah ..." Rama menarik nafas lalu melanjutkan, "kamu bisa, kan?"

Sister ComplexTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang