Sepuluh

499 28 0
                                    

hai... I'm back. setelah dua bulan lamanya menghilang dari dunia orange ini akhirnya bisa kembali lagi.

Adakah yang merindukan Bara dan Rea disini? *author lagi kepedean haha...

tapi walaupun nggak ada yang kangen sama Bara dan Rea, author akan tetep update kok karena sejujurnya author lagi kangen sama mereka setelah dua bulan menghilang haha...

udah ah, kebanyakan ngomong malah bikin yang baca sebel ntar. so check this out, bara and rea...

*


Rea menghilang.

Itulah yang Bara sadari saat Bara tak bisa menemukan Rea dimanapun. Tidak dirumah Rea ataupun dirumahnya, dan bahkan Bara tak tahu lagi kemana harus mencari Rea. Meski selama lebih dari sebulan ini ia cukup dekat dan bahkan cukup mengenal Rea, rupanya Bara masih belum cukup mengenal Rea. Belum cukup mengenal untuk tahu tempat persembunyian perempuan itu disaat kalut seperti ini. Saat ini yang bisa dilakukan Bara hanyalah menunggu. Ya... menunggu anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari Rea memberikan kabar padanya, sementara Bara berada disini, dirumah sakit, duduk dalam diam disamping Helen yang sama diamnya sedari tadi.

"Maaf," ujar Helen pelan, kelewat pelan hingga andai saja koridor rumah sakit tidak sedang sepi, Bara tak akan mendengar ucapan Helen.

"Ya," sahut Bara pelan. Satu-satunya alasan Bara masih ada disini karena ia ingin ketika bertemu Rea nanti Bara bisa memberikan kabar mengenai Gwen, karena Bara tahu, Rea begitu peduli dan merasa bersalah pada Gwen.

"Kalau boleh tahu, anda siapanya Rea?" tanya Helen hati-hati. Ya... sejak Rea muncul dirumah sakit bersama lelaki ini yang Helen ketahui bernama Bara, pertanyaan itu sudah menganggunya sedari tadi. Namun baru sekarang lah Helen menemukan saat yang tepat untuk menanyakannya.

"Anda sendiri... siapanya Rea?" balas Bara yang membuat Helen terdiam selama beberapa saat. Sejujurnya Bara tahu siapa Helen. Rea sudah menceritakan nyaris semua masa lalunya padanya.

"Saya kira... saya sahabatnya, tapi ternyata bukan," jawab Helen yang tampak begitu terluka dan marah disaat yang bersamaan. "Dan anda?" tanya Helen lagi.

"Saya tunangannya Rea,"

Jawaban Bara sukses membuat Helen membelalakkan matanya, sementara Diandra yang duduk disebelah Helen masih terdiam bak patung. Tadi usai menampar dan mengatai adiknya sendiri sebagai wanita murahan, Diandra merasa begitu menyesal. Tapi tak ada yang bisa dilakukan, karena Rea sudah terlanjur menghilang.

"Tunangannya? Bagaimana mungkin?" tanya Helen sangsi. "Kalau anda tunangannya, tentu anda tahu hubungan Ben dan Rea bukan?" tanya Helen lagi.

Bara tersenyum kecut. "Tentu saja saya tahu," jawab Bara mantap.

"lalu..."

"Kenapa saya masih mau menjadi tunangan Rea?" tanya Bara terlebih dulu. Helen mengangguk. Rea... wanita yang ia kira adalah sahabatnya. Wanita yang ia kira telah ia kenal selama bertahun-tahun. Tapi rupanya Helen sama sekali tak mengenal Rea.

"Karena Rea tak sebrengsek dan semurahan yang anda pikir,"

*

Brakkk!!!!

Untuk kesekian kalinya Rea membanting pintu mobilnya didepan Ben yang terus saja mengejarnya dan mengemis-ngemis cintanya padahal saat ini lelaki itu telah berstatus sebagai suami orang. Rea menelungkupkan wajahnya diatas setir mobilnya dan menghela napas panjang beberapa kali agar tangisnya tidak pecah. Rea masih ingat betapa hancur hatinya saat ia datang ke acara resepsi pernikahan Ben beberapa minggu lalu bersama dengan keluarganya. Andaikan Rea bisa tidak datang ke acara terkutuk itu tanpa membuat keluarganya curiga, Rea pasti dengan senang hati melakukannya. Tapi Rea tidak bisa. Rea tidak bisa membuat keluarganya curiga, tidak juga membuat dirinya tampak lemah. Karena itulah, sambil menggandeng Nathan, Rea datang ke resepsi pernikahan Ben dengan seorang perempuan bernama Gwen dan memberikan selamat pada mereka, meski saat itu hati Rea remuk redam.

Her MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang