Di mobil tidak ada percakapan, adanya hanyalah suara lagu yang mengalun tenang. Bagiku, hari ini cukup mengobati rasa sakit yang ku alami akhir-akhir ini.
Bagiku, dengan bersama Revan itu sudah cukup. Perlakuan manis yang Revan perlakukan untuk ku hari ini sudah membuat suasana hatiku menghangat.
Tiba-tiba aku tersadar sesuatu, beberapa hari yang lalu Revan membuatku terbang seperti hari ini dan esoknya ia menjatuhkan ku ke jurang terdalam.
Akankah Revan akan berlaku seperti itu lagi?
Kenyataan itu membuat senyum bahagia tipisku berubah menjadi senyuman miris, dan kemudian senyumku menghilang bak diterpa angin.
Akhirnya aku menjadi larut dalam pikiranku sendiri, berkata dalam hati "Semoga kebahagiaan ini berlangsung lama atau kalau bisa selamanya." Walau ku tahu, itu tidaklah mungkin.
Setelah beberapa jam di mobil Revan karena macetnya jalanan kota, akhirnya aku dan Revan sudah sampai di depan rumahku.
"Thanks," ucapku yang lalu ku sambung lagi, "For everything". Revan hanya melihatku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan, tetapi untuk kali ini Revan tidak menatapku dengan datar atau dingin. Entahlah, dan itu terkesan aneh.
Entah mengapa lidah ini ingin mengucapkan sesuatu hingga akhirnya aku pun berbicara, "Sekali lagi terimakasih rev, buat air mataku, senyumku, kesedihanku, serta kebahagiaanku. Thanks rev." Setelah mengucapkan kalimat itu, aku pun langsung berlari keluar mobil dan masuk ke rumah.
Aku tidak menangis lagi, tetapi entah suasana hatiku serasa mendingin lagi. Ku lihat suasana rumah sepi, jadi aku langsung menaiki tangga untuk menuju kamarku.
Badanku terasa pegal setelah beberapa jam di mobil Revan. Sesampainya di kamar, aku pun langsung memasuki kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki, dan wajah. Lalu mengganti pakaianku dan langsung menghempaskan tubuhku ke kasur.
Tiba-tiba aku teringat akan Alya, sudah 2 hari aku tidak mengobrol atau chat dengannya.
Renaya Swarnstskie: Hella Alyak!
Sapaku pada Alya lewat aplikasi chat yang logonya berwarna hijau, sebut saja dia Line. Tak perlu menunggu lama, balasan dari Alya pun datang.
Alya Azkailin: Hella Nayak!
Renaya Swarnstskie: Menurut gue, Nayak bukanlah pilihan yang bagus.
Alya Azkailin: So, can i call u Mrs. Gregions?
Renaya Swarnstskie: Big no! Gue masih perawan, umur masih 16 tahun, belum menikah. Ih gue kan ngechat lo mau curhat kenapa ngomongin yang aneh-aneh:(
Alya Azkailin: Uwh Mama Alyak terharu, kamu datangnya cuma kalau butuh ya! Cih siapa kamu?
Renaya Swarnstskie: Maaf mak! Ih beneran mau cerita nih. Yaudah kalau gamau, gapapa. Gue cari mak yang baru aje.
Alya Azkailin: Jangan dong nak! Nanti anak mak siapa lagi? Duh plis kita hentikan drama gajelas ini. Cepet ceritaa!
Renaya Swarnstskie: Okay. Kemarin ada anak baru di kelas gue dan duduk sebelah gue. Lumayan cogan sih, cuma bawelnya minta ampun. Kuping gue panas deket-deket dia.
Alya Azkailin: Ah sumpaa!? Namanya siapa? Bagi-bagi leh ugha.
Alya Azkailin: Nay jangan sider dong, ini chat bukan majalah kartini atau gadis. Ups sebut merk.
Renaya Swarnstsike: Gue masih ngetik bego. Panjang nih, sabar.
Alya Azkailin: Buruu, dan jangan lupa namanya si cogan hehehe.
Renaya Swarnstskie: Cogan mulu pikiran nya mba. Namanya Davian. Back to topic, terus menurut gue kayaknya dia ada masalah deh sama Revan. Kenapa? Karena setiap mereka saling pandang, beh gak woles sama sekali. Dan parahnya, Revan ngakuin kalau gue pacarnya di depan Davian dan semua anak di kantin. Uw baper lagi gue.
Terus, tadi REVAN NGAJAK JALAN GUE AL. LO HARUS TAU BEGITU EXCITEDNYA GUE. Ah sampe capslock jebol. Dan dia ngajak gue ke bukit terus ada taman dandelionnya. Yah walaupun gue berakhir bersin-bersin karena tuh bunga sialan terbang-terbang. Terus Revan ngasih gue masker al, uwhh. Terus ngasih gue bunga nya terus dia nyuruh gue bikin permohonan sebelum niup tuh bunga. Ah sweet, sampe kebanyakan kata 'terus'. AH AL, Q BAPER LAGI.
Alya Azkailin: Itu chat apa kereta api ya? Panjang amat. Uw si cogan namanya Davian, dari nama aja udah ganteng, gimana orang nya?
Renaya Swarnstskie: Ah Alya mah salah fokus. Dede sedih:(
Alya Azkailin: Super super super dede namanya!
Renaya Swarnstskie: Fix gue benci lo.
Alya Azkailin: HAHAHA MAAF SAYANG. BECANDA DOANG ELAH.
Renaya Swarnstskie: Fix gue benci lo (2)
Alya Azkailin: Iya iya. Gue ikut seneng kok kalau sahabat gue tercinta ini seneng. Tapi lo jangan menaruh semua harapan lo ke dia lagi. Boleh sih, tetapi jangan semuanya. Gue gak mau lo sedih lagi kayak kemarin-kemarin, gue ikut sedih liat lo sedih nay. Cuma mau mengingatkan, jangan bahagia terlalu tinggi nay, ntar jatuhnya sakit lagi. Kalau Revan nyakitin lo lagi, kali ini gue bakal jadi orang yang nonjok dia dan tentunya orang pertama. Uw cintah deh sama Naya<3 Jangan sedih-sedih monyet kayak kemarin-kemarin ya sayang.
Renaya Swarnstskie: Itu chat apa kereta api ya? Panjang amat (2)
Alya Azkailin: Panjangan lo bego.
Renaya Swarnstskie: Apaan nih panjang-panjang?
Alya Azkailin: Naya mesum ah.
Renaya Swarnstskie: Idih siapa juga yang mesum. Lo kali pikirannya.
Alya Azkailin: Enak aja. Gue, seorang anak tunggal dari keluarga Azkailin adalah seorang gadis yang berpikiran putih, bersih, suci, dan tak bernoda.
Renaya Swarnstskie: Idih, sok polos. But thankyou sarannya my sister yah walau gak secara biologis. Hatiku selalu bahagia bersamamu. Ku tidur dulu ya, lelah.
Alya Azkailin: Kenapa selalu lo yang chat duluan dan lo yang mengakhiri ini semua? KENAPA NAY KENAPA? Oke pikiran gue mulai ngelantur. Bhay Naya.
Renaya Swarnstskie: HAHAHA KENAPA YA? Bhay juga Alyak. Mama Alyak.
Setelah beberapa percakapan dengan Alya, moodku membaik. Dia adalah sahabatku yang paling ku sayangi.
Dia selalu mengerti aku dan menghiburku dengan caranya yang anti mainstream. Ku akui, aku cinta dengannya. Bukan bukan, aku bukan pecinta sesama jenis.
Aku masih menyukai Revan bukan? Aku mencintai Alya seperti saudaraku sendiri, dan aku berpikir betapa beruntungnya aku. Aku pun tersenyum lalu menutup mataku untuk tidur.
____________________
a.n
Hai gue balik
Chapter ini memang sesi curhat Naya ke Alya
Yah jadinya isinya chat gt, kan Alya nun jauh disana
So, vomment ditunggu
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Done
Teen FictionKamu adalah sumber dari rasa sakitku. Kamu datang memberi harapan, namun pergi meninggalkan sejuta rasa sakit yang ku rasa. Aku mencintaimu, tetapi mengapa kau lukai aku? Aku selalu berjuang untukmu, tetapi kau selalu pergi dengan masa bodoh. Aku se...
