"Naya ayo pulang! Sudah mau hujan nih," kata Alya menghampiri mejaku. Aku yang melihatnya pun langsung memasukan buku-buku ku ke dalam tas. "Sebentar. Gue mau ngasih kunci ini dulu ke Bu Shinta," kataku sambil menunjukan kunci bergantungan dinosaurus kesayangan lab.IPA.
"Aduh maaf ya nay, gue gak bisa nemenin lo. Udah harus pulang nih, takut keburu hujan. Lo mah enak bawa mobil, lah gue?" kata Alya cemberut. Hahaha anak ini selalu seperti itu. "Yaudah deh gapapa, hati-hati di jalan!" kataku yang hanya dibalas dengan anggukan kepalanya.
Setelah itu aku langsung bergegas ke ruang guru untuk memberikan kunci lab.IPA, aku bergegas karena sudah lapar hehehe. Sesampainya di ruang guru, aku pun mengetuk pintu dan menghampiri meja Bu Shinta. "Ini kuncinya bu," kataku sambil memberikan kunci itu pada Bu Shinta. Ku lihat sepertinya Bu Shinta sedang sibuk sekali.
"Ibu kok belum pulang jam segini?" tanyaku pada Bu Shinta. "Iya nak, habis ngurusin tiga anak nakal sekolah kita. Mereka selalu berbuat ulah. Ibu pusing," balasnya sambil mengusap wajah. Oh ternyata karena mereka lagi, apa tidak capek ya membuat kerusuhan terus di sekolah? Setelah berbasa-basi sebentar, aku pun pamit pulang.
Saat sudah sampai di depan pintu sekolah, hujan langsung turun dengan derasnya. "Aduh, nggak bawa payung lagi. Kalau aku nekat melawan hujan adanya malah buku-buku ku yang basah, ditambah di dalam tasku ada handphone dan novel yang baru aku beli kemarin. Hm gimana ya?" ucapku dalam hati. Langsung saja mataku menelusuri sekeliling sekolah, "Ah ada payung dipojok situ!" ucapku bersemangat.
Dengan hati gembira, aku pun berlari ke arah payung tersebut dan.. Aw, aku terpeleset. "Dasar air nggak tahu diri, ngapain dia di sini? Nggak lihat apa ada orang cantik mau lewat," gerutuku pelan. Saat aku sudah berdiri, aku pun berniat untuk melanjutkan tujuanku, yaitu mengambil payung. Dan sialnya, payung itu sudah menghilang. Lalu saat itu juga, aku melihat seseorang yang berjalan dengan payung tersebut.
"Eh berhenti lo yang bawa payung!" teriak ku yang berusaha melawan suara derasnya hujan. Dan sialnya, dia tidak menoleh padaku sama sekali. "Eh lo yang bawa payung, budek lo? Itu payung gue bego, gue dulu yang lihat!" teriak ku lagi. Dan orang itu pun menoleh serta berbalik arah ke arahku.
"Sorry ya, payung ini gue dulu yang ngambil," kata orang itu padaku. Shit, ternyata itu Revan, sang panglima sekolah. Revan adalah salah satu anak yang membuat Bu Shinta pusing tadi. Aduh tapi kok dia ganteng ya, apalagi rambutnya agak basah-basah gitu. Hm fokus Naya.
"Gue tahu gue ganteng, tapi jangan sampe dipelototin gitu," ucap Revan dengan wajah datar. "Enak aja, lo itu udah ngambil payung yang gue perjuangin mati-matian dan sekarang lo malah kepedean!?" balasku dengan wajah meremehkan. Aku ahli dalam wajah itu.
"Tapi gue yang ngambil payung itu duluan Renaya," kata Revan dengan penuh penekanan pada semua kata. Baru aku ingin memarahinya tiba-tiba ada suara yang mengganggu, "Hm pe-permisi Kak Naya dan Kak Revan. Ma-maaf kak itu payung saya, dan saya mau pulang. Bo-boleh saya minta? Kalau nggak boleh nggak apa kok kak," kata seorang anak kelas 10 dengan takut-takut.
Entah angin apa yang membuat sesosok Revan memiliki hati bak malaikat, ia pun langsung memberikan payung tersebut pada pemiliknya.
Sial, sudah hujan semakin deras eh payungnya malah kembali ke pemiliknya, tragis. Dengan cemberut aku pun berdiri sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Sambil terus berharap hujan segera reda.
"Lo mau disini terus sampe lumutan?" tanya Revan datar namun hanyaku tanggapi dengan gumaman. Tiba-tiba Revan memberiku waterproof tas. "Tuh pake aja punya gue. Lo anak rajin yang gak mau bukunya basah kan? Gue mah gak ngurus, so pake aja," kata Revan dan langsung ku pakaikan pada tasku. Dan untungnya pas. Berkah anak baik mah gini hehehe.
"Udah kan? Ayo lari nembus hujan," kata Revan yang langsung berlari menembus hujan. Aku yang melihatnya langsung refleks untuk ikut berlari. Namun saat sedang berlari sekencang-kencangnya, tiba-tiba Revan langsung berhenti mendadak.
Dan aku? Aku tidak bisa berhenti dan berujung menabrak punggung Revan yang akhirnya membuat kami jatuh ke genangan air. Double sial memang.
"Eh lo gak bisa lihat apa? Lihat nih gue jatuh kan," bentak Revan padaku. "Maaf rev aku tadi lari kenceng, terus kaget lihat kamu berhenti mendadak. Jadinya nabrak kamu," kataku yang takut akan bentakan Revan. Siapa yang gak takut sama panglima sekolah coba?
Ngomong-ngomong, satu sekolah sudah tahu aku pasti akan menggunakan aku-kamu saat meminta maaf karena menurutku itu lebih sopan.
Dan tiba-tiba tangan Revan menelusuri pipiku, "Aku juga minta maaf ya nay, aku gak maskud buat bentak kamu tadi. Maafin aku," kata Revan. Aku pun yang terkejut mendengar seorang Revan mengucapkan aku-kamu mau tak mau jadi ba... eh laper.
"Hm gapapa, aku juga minta maaf," kataku sambil tersenyum padanya dan dibalas juga dengan senyuman. Ah mama aku bap...laper. Setelah itu Revan berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. "Ayo berdiri," kata Revan dan aku pun menerima uluran tangannya.
Entah pikiran dari mana, aku menarik tangan Revan dan membuat ia terjatuh lagi. Dengan langkah seribu, aku pun langsung lari dan masuk ke dalam mobil.
Saat aku melewati Revan yang sudah berdiri di samping mobilnya, aku membuka kaca jendelaku dan berkata, "Bye Revan!" Aku pun menjulurkan lidahku padanya dan tertawa, kemudian menutup kembali kaca jendelaku.
Aku kembali melihat Revan lewat kaca spion mobilku, dan ku lihat Revan sedang tersenyum. MAMA AKU BAPER.
____________________
a.n
Hai gue balik lagi!
Yah semoga chapter ini lebih bagus daripada prolog
Vomment nya ditunggu, thankyou:)
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Done
Dla nastolatkówKamu adalah sumber dari rasa sakitku. Kamu datang memberi harapan, namun pergi meninggalkan sejuta rasa sakit yang ku rasa. Aku mencintaimu, tetapi mengapa kau lukai aku? Aku selalu berjuang untukmu, tetapi kau selalu pergi dengan masa bodoh. Aku se...
