10. Dia Seperti Salju. Dingin Tapi Rapuh

1.2K 114 7
                                        


"Loh? Mobil lo kemana?" tanya Abigail. Mobil yang dipakai Alva tadi pagi tiba-tiba tidak ada diparkiran sekolah.

"Oh ya!" seru Alva menepuk jidatnya, suatu ekspresi yang tidak pernah Abigail lihat sebelumnya.

"Tadi diambil sama yang punya. Haha.." Lanjut Alva sambil terkekeh tanpa peduli reaksi Abigail yang menatapnya dengan bingung.

"Excuse, me." Tanya Abigail dengan mendekatkan telingannya ke wajah Alva.

"Yahilah, lo. Mana punya gue mobil, motor aja ngutang" seru Alva lagi dengan santai, dia perlahan meninggalkan parkiran.

Abigail mengejar Alva, dia tidak percaya ucapan Alva. Bagaimanapun Alva adalah adik Fathir, playboy kamper yang cukup kaya apalagi Alva pemilik sekolah yang elit ini.

"Lo minta jemput aja sama supir, kebetulan gue mau naik angkot atau jalan, mungkin" ujar Alva, kedua tangannya dimasukkan dalam jaket.

Tiba-tiba lengan Alva ditarik, membuat cowok itu terdiam dan menatap Abigail. Raut wajah yang memerah karena teriknya matahari membuat Abigail seperti orang terbakar, Alva menggeser tubuhnya untuk menutupi matahari yang menerpa langsung wajah Abigail secara diam-diam.

"Lo yang bawa gue, jadi lo juga yang harus anterin gue" ujar Abigail, tatapan mata yang serius dan tegas membuat Alva terdiam.

"Gue naik angkot loh" ujar Alva meyakinkan niat Abigail untuk ikut dengannya.

"No prob"

Alva mengangkat kedua bahunya, lalu tanpa berkata lagi mereka meninggalkan sekolah dengan berjalan sampai gapura depan komplek yang kebetulan sekolah mereka berada didalam komplek yang jarang ada angkot dan cukup jauh dari jalan raya. Ia memandang Abigail yang berada disampingnya, gadis itu tengah menghindar dari matahari bahkan keringatnya mulai membasahi dahinya.

"Mana ponsel lo?" tanya Alva dengan memaksa.

Abigail mengintip dibalik buku yang menghalangi wajahnya,"buat?" tanyanya.

"Nelpon supir lo, kasian gue liat lo begini." ujar Alva tanpa memandang Abigail.

"Ga ada orang dirumah, lagi pula gue masih kuat kok." jawab Abigail yang melangkahkan kaki meninggalkan Alva. Namun tak lama, pandangannya menjadi kabur bahkan ia merasa dunia berputar cepat hingga ia tidak melihat apapun.

Alva dengan cepat menangkap tubuh Abigail yang hampir jatuh ke aspal, dia melihat bagaimana wajah Abigail merah padam dan matanya tertutup dengan rapat. Tangannya terangkat memanggil seseorang yang tak jauh dari tempatnya.

*

Abigail POV

Aku mencium bau minyak angin disekitarku, aku benci bau minyak angin. Mataku mulai mengerjap, menyesuaikan dengan pemandangan yang berada disekitarku. Aku dapat melihat sosok wanita tua menatapku penuh khawatir, dia bukan mommy ataupun nenek Luna.

"Allhamdulilah neng, akhirnya sadar" ujarnya dengan lega. Aku terdiam, menatap kesekeliling yang cukup asing bagiku.

Kamar yang dominan dengan warna hitam putih dan begitu terasa aura maskulin dapatku rasakan, tidak ada satupun foto yang berada dalam ruangan ini.

"Neng minum dulu" wanita itu kembali datang dengan segelas air putih.

"Ini dimana ya?" tanyaku seraya menerima minuman, ternyata aku haus.

"Dikamar den Alva. Bibi permisi ya." ujarnya tanpa menyadari betapa kagetnya diriku.

Bagaimana aku tidak kaget. Aku berada dalam kamar si Alvabet! si Wiro Sableng yang membawaku ke kamarnya, aku ingat bagaimana aku bisa berada di kamarnya yang begitu gelap ini.

Blank SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang