Kuatkan hati!
.
.
.
.
SASIKIRANA
Mataku memicing saat merasakan gelap di sekitarku. Pekat dan membuatku sesak napas. Aku tidak suka kegelapan. Aku takut kegelapan. Kakiku melangkah gontai dengan sendirinya di tengah gelap yang semakin mengurung walau dengan susah payah kuredam detak jantungku yang bertalu. Kuedarkan pandanganku yang jelas tidak menangkap apa-apa kecuali hitam.
Tapi saat bola mataku menatap ke satu arah, ketakutanku pudar, tergantikan dengan air mata yang menetes di pipiku. Semua ketakutanku seakan menguap saat melihat tiga orang yang sedang berbaring di tempat tidur. Satu-satunya alasan mengapa mereka terlihat di tengah kegelapan ini adalah karena jendela yang terbuka lebar, menyorotkan fajar yang hampir terbit subuh ini. Dan angin yang berembus cukup kencang menerbangkan kain yang menggantung di kait-kait kecil atap jendela.
"Kirana ... Kirana ...."
Sontak mataku memandang sumber suara itu. Dia mengigau. Dan namakulah yang disebutnya. Aku bisa merasakan rindu yang teramat dalam dari lirih suaranya. Aku pun bisa merasakan hatiku bergetar melihatnya memeluk dua buah hati kami.
"Sasikirana ...."
Air mataku mengalir lagi. Aku tidak tahu ini perasaan apa. Bahagiakah atau sedihkah? Tapi hatiku meneriakkan kebahagiaan yang membumbung tinggi karena dia benar-benar menepati janjinya untuk menjaga anak kami.
Amanah yang kuberi padanya sebelum aku meninggalkannya.
***
Perutku terasa sangat sakit. Pegal, melilit, seperti ada sesuatu yang mengikat, menarik ulur urat-urat di sekitar perutku. Aku mencengkeram kemeja bagian belakang orang yang sedang menggendongku. Kurasakan wajahku basah, bukan karena air mataku, juga bukan karena tetes hujan. Tapi saat aku mendongak, Mas Daniel yang sedang menggendongku menatapku gusar. Kekhawatiran tergambar jelas dari wajahnya yang sudah pucat pasi. Bahkan pipinya basah karena air matanya sendiri.
Serangan sakit itu kembali mendera, membuatku mengerang dalam gendongan Mas Daniel yang berusaha berjalan cepat membawaku di lorong rumah sakit. Napasnya yang memburu dan doanya yang terlantun seiring dengan hentakan tubuhku karena langkahnya yang lebar-lebar, membuatku kembali meringis kesakitan.
Saat kemudian aku tidak merasakan lengannya lagi di lutut dan punggungku, aku mencari genggamannya. Mas Daniel menunduk sambil berusaha menyejajari laju brankar yang kini menopang tubuhku.
"Bertahanlah, sayang."
Bisikan itu masih bisa kudengar, juga suara-suara ribut beberapa orang di dalam ruangan. 'Bukaan ....', 'Sebentar lagi ....', 'Siapkan semuanya ....', 'Operasi ....', 'Normal ....' dan kata-kata lain sudah seperti bisikan lirih yang mengantarku untuk terpejam. Sakit itu memang masih terasa, bahkan semakin berdenyut dan seperti pasang surut. Sakit, mereda, sakit lagi, mereda lagi. Dan kali ini ....
Aku mengerang lagi saat merasakan sakit yang paling terasa dibandingkan kontraksi sebelumnya. Entah sudah berapa lama sakit itu pasang surut. Aku hanya memejamkan mata dan menggenggam erat tangan Mas Daniel yang sedari tadi juga tidak bersuara.
Tidak lama atau lama kemudian, aku pun tidak tahu, kudengar kata 'sekarang' dan itu membuatku membuka mata, melihat betapa besarnya ketakutan di wajah Mas Daniel. Tanpa menghiraukan sakitku, kuusap wajahnya yang benar-benar membuatku merasa bersalah. Dia ketakutan saat aku dalam keadaan akan melahirkan. Padahal aku sudah berjanji padanya untuk berjuang bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
PAIN (TERBIT) ✔
RomanceTELAH DITERBITKAN. TERSEDIA DI TOKO BUKU. Karena di mana pun cinta berada, luka akan senantiasa mengiringinya. Dan selebar apa pun luka, cinta akan selalu menyembuhkannya. -Sasikirana Arundati- Perempuan malang yang hidup dalam kekejaman dunia...
