Dedicated to:
Salsa, Briana dan Nabila
_______________________________________
Lagi-lagi ayah tidak bisa pulang kesini menemaniku.
Tour, tour dan tour selalu saja hal itu yang dilakukannya.
Tidak sadarkah dia kalau berada di rumah sakit seharian untuk waktu yang sangat lama terasa sangat menyebalkan?
Hanya ada tante Lauren, adik ayah dan juga Camila, kekasihku yang diam-diam sudah ku pacari sejak sekolah dasar tanpa sepengetahuan ayah.
Memangnya aku cupu dan cemen seperti ayah?
Huh, sorry.
Shawn Irwin adalah cowok populer pujaan hati seluruh gadis di sekolah.
Hanya saja kata tante Tay Jardine, istri dari paman Alex All Time Low yang sekaligus teman junior high school ibu, ayah adalah orang yang sangat pemalu dulu.
Tapi kedoknya yang cemen tertutupi karena dia berteman dengan paman Andy, paman Matty dan paman Frank yang bandel.
Ayah tidak tahu bahwa selama ini aku berteman dengan tante Tay lewat skype, snapchat dan apapun aplikasi media sosial yang bisa dipakai untuk video call. Dia bahkan sering menceritakan bagaimana ibu bercerita padanya tentang ayah.
Tante Tay juga berada dalam band, namun dia tidak sesibuk ayah.
Ku rasa ayah memang manusia sok sibuk.
Sudah tau anaknya sekarat di rumah sakit, dia tetap saja melaksanakan tour.
Yah, walaupun disini aku ditemani kakek, nenek, tante Lauren dan paman Harry. Tapi tetap saja rasanya benar-benar berbeda jika tidak ada ayah.
Ayah selalu bohong padaku bahwa dia bercerai dengan ibu.
Tapi aku sudah tau bahwa ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Entah mengapa aku bisa merasakannya. Tanpa seseorang memberitahu ku, sejak 5 bulan yang lalu aku masuk ke rumah sakit dan mulai hidup disini, aku sadar bahwa ibu tidak bercerai dengan ayah.
Tapi ibu meninggalkan ayah.
Dia sudah pergi ke surga.
2 bulan terakhir, aku merasa bahwa perjuanganku sia-sia.
Aku merasa tidak ada harapan lagi untukku.
Bahkan puluhan e-mail yang ku kirimkan pada ayahpun tak ada satupun yang dibalas.
Padahal semua e-mail yang ku kirimkan memiliki isi yang sama, bagaimana kisah cinta ayah dan ibu dulu, mulai dari mereka bertemu pertama kali sampai akhirnya bercerai seperti yang ayah dustakan padaku.
Hey Ashton Irwin kriting, kau fikir aku tidak tau kalau selama ini kau membohongiku? Cih.
"Shawn, ayo saatnya melakukan kemoterapi."
Camila datang bersama tante Lauren dan beberapa petugas rumah sakit, salah satu diantara mereka membantuku bangkit dan meletakkanku di kursi roda untuk dibawa ke ruang kemoterapi.
"Cam, apa ayah sudah membalas e-mailku? Jangan-jangan dia lupa ulang tahunku?" tanyaku pada kekasihku yang saat ini berjalan disamping kursi rodaku.
"Perbedaan zona waktu. Disini tanggal 10 jam 5 pagi, di Amerika masih jam 1 siang tanggal 9 Shawn. Ayahmu tidak akan lupa, dia pasti akan membalas seluruh e-mailmu. Kau hanya perlu bersabar." Inilah yang ku sukai dari Camila.
Dia selalu menguatkanku.
Camila Cabello adalah kekuatanku.
Sedangkan Ashton Irwin? Ayah macam apa dia masa hari ulang tahun anaknya sendiri tidak ingat.
Aku tau ayah bekerja keras untuk membayar semua biaya pengobatanku.
Tapi tidak bisakah sekali saja di hari ulang tahunku dia singgah?
Bahkan membalas e-mailku saja dia tidak bisa.
Aku melepaskan hoodie yang menutupi kepala botakku. Tetap duduk di atas kursi roda sambil menghadap cermin yang ada di ruangan tempat biasa aku dikemoterapi.
Semakin hari bibirku semakin memutih, bahkan tidak ada lagi rambut yang menghiasi kepalaku.
Aku sudah menjadi seperti mayat hidup, botak, jelek dan bau.
Tapi Camila tetap masih setia di sampingku.
Seharusnya dia meninggalkanku yang memang tidak akan berumur panjang ini.
Tapi dia tidak melakukannya dengan satu alasan bodoh, dia mencintaiku.
Tentu saja aku juga sangat mencintainya.
Setelah melakukan kemo, aku memaksa tante Lauren untuk memberikan iPhone ku. Padahal aturannya adalah tidak boleh kontak dengan gadget apapun setelah kemo.
Setelah melalui fase muntah-muntah luar biasa seperti biasanya, aku ngotot meminta iPhone ku pada tante Lauren. Dengan nafas terengah-engah aku berbaring sambil mencoba mengunlock screen iPhone ku, tapi rasanya berat sekali. Lemas.
Tanpa ku minta, Camila dengan wajah sedihnya merebut iPhone itu dariku, ia mengunlock screen nya dan mengecek e-mail.
Dia selalu bisa membaca fikiranku dan tau yang akan ku lakukan.
Ayah sudah membalas e-mailku. Aku tersenyum senang karenanya, mencoba membacanya sendiri, namun Camila melarangku.
Jadilah dia yang membacakan seluruh isi e-mail balasan ayah dengan air matanya yang berlinangan di saat-saat terakhir.
"Jangan menangis," Aku meraih pipinya dan menghapus air mata yang membasahinya dengan jemari tangan kananku. Tangan yang terpasang beberapa selang yang dimasukkan dan menyambung ke dalam pembuluh darahku.
"Shawn, aku juga takut kehilanganmu," Camila pun langsung memelukku masih dengan keadaanku yang berbaring lemas.
"Tante Lauren," panggilku pada tante Lauren tanpa melepaskan kedua tanganku yang merengkuh tubuh Camila.
"Ya Shawn?" Aku bisa melihat air mata tante Lauren menetes terus-menerus saat itu, ia mencengkeram tepian tempat tidur, tempatku berbaring di ruangan intensif khusus penderita kanker ini. Sambil sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Kalau ayah pulang, katakan padanya aku menyayanginya, dan terima kasih telah jujur atas semuanya."
Setelah mengucapkan itu, Camila semakin menangis tersedu, namun suaranya semakin melemah dan tak terdengar telingaku.
Aku mulai tidak bisa merasakan kakiku.
Rasa dingin luar biasa merayapi tubuhku, dari kaki hingga menuju ke perut dan dadaku.
Aku kesulitan menghirup oksigen, meskipun selang-selang oksigen terpasang di hidungku.
Mataku sangat berat, nafasku tertahan, tubuhku dingin mulai membeku.
Sayup-sayup aku melihat seorang perempuan memakai pakaian putih berdiri di belakang Camila.
Ibu.
"Shawn, waktunya pulang nak."
"Ibu, akhirnya aku bisa bersamamu."
THE END

KAMU SEDANG MEMBACA
Terrible Things
Cerita Pendek[3/4 5SOS serial] Hai Shawn, bagaimana kabarmu nak? Ini ayahmu, Ashton Irwin. [inspired by: Mayday Parade - Terrible Things] Copyright © 2016 Todos los Derechos Reservados por: JOSIE