5

510 100 14
                                    


"Ada perlu apa Ashton?" tanya Mr. Brendon pada ayah saat ayah masih memegang gagang pintu, menampakan hanya wajah bagian depan ayah yang memasuki ruangan.

Ayah masih tetap menatap ibumu yang balik menatap ayah dengan tatapan heran. Mungkin dia heran melihat wajah ayah yang menganga lebar melihatnya seolah melihat hantu. Ia bahkan menautkan kedua alisnya sambil menatap ayah.

"Ashton?" suara Mr. Brendon membuyarkan imajinasi ayah dan langsung membuat ayah menatap ke arahnya.

"I—iya pak, kata Matty dan Andy bapak memanggil saya?" ayah pun masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu yang sedari tadi masih ayah pegangi.

"Oh, Matty dan Andy kabur rupanya," Mr. Brendon mengelus-elus dagunya sambil melihat ke wajah ayah yang hanya berdiri di depan mejanya dan di belakang kursi yang diduduki ibumu.

"Kabur dari apa pak?" ayah yang dari lahir memang punya kelebihan sifat yang selalu penasaran pun akhirnya bertanya pada guru berambut klimis itu.

Mr. Brendon pun menjelaskan pada ayah bahwa Matty dan Andy tadinya merusak kaca perpustakaan karena bermain bola, tanpa sengaja Andy terlalu kuat menendang bolanya sehingga kaca perpustakaan pun pecah karena terkena bola.

Matty dan Andy dihukum untuk membersihkan kamar mandi sepulang sekolah namun sebelum mereka keluar dari ruangan Mr. Brendon, tiba-tiba saja ibumu masuk dan mengatakan pada Mr. Brendon bahwa dia ingin mengadakan sebuah bakti sosial.

Mr. Brendon menyuruh Andy dan Matty untuk ikut dengan kegiatan positif tersebut namun yang dilakukan keduanya malah kabur dan memanggil ayah untuk segera ke ruangan Mr. Brendon.

"Baiklah, karena kamu sudah disini, berarti kamu yang akan menemani Bryana dalam kegiatan bakti sosial ini!" Mr. Brendon pun memutuskan seenaknya.

Ayah ingin protes, tapi ketika ibumu menatap ayah dan tersenyum, suara ayah tiba-tiba saja tidak bisa keluar.

"Hai Ashton, namaku Bryana, kelas 7A, salam kenal." Ibumu mengulurkan tangannya pada ayah mengajak berjabat tangan.

Ia adalah orang yang tanggap. Ibumu langsung tahu siapa nama ayah karena ia mendengarkan Mr. Brendon memanggil ayah sejak pertama kali ayah memasuki ruangan.

"A—Ashton Irwin, 7F, se—senang bertemu denganmu." Ayahpun dengan kaku dan grogi setengah mati menjabat tangan ibumu.

Wajahnya terlihat selalu bahagia, dia kemudian berdiri menyamakan posisi dengan ayah. Waktu itu tingginya lebih tinggi 5 cm dari ayah. Ayah merasa sangat kerdil ketika berdiri di dekat ibumu.

"Ku harap kau bisa membantuku Ashton, karena Mr. Brendon sudah memberi izin maka kita bisa memulainya besok." Itulah yang dikatakan ibumu pada ayah, dan kau tau nak?

Suaranya sangat lembut.

Terrible ThingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang