Fardian berjalan tegap sembari mendengus dan tersenyum miring. Dia rasa semua ini merupakan perlajaran baru baginya. Biasa Fardian hanya mengurus masalah percintaan, kini dia harus mengurus masalah keputus-asaan manusia. Dia harus menyelamatkan seseorang dari belenggu kabar kematiannya sendiri.
Fardian pernah membaca sebuah buku, buku tersebut menerangkan soal orang yang sebentar lagi akan meninggal, orang itu dapat berubah dan memiliki dua sifat, bisa dikatakan sifat dadakan.
Pertama, mereka terjebak dalam kebimbangan, mereka tahu dirinya tidak berguna di dunia-karena alasan tertentu. Jika mereka tahu sebentar lagi mati, maka mereka memilih menunggu, tanpa mau melakukan apapun di bawah gelungan awan pekat kematian.
Yang kedua, jika mereka tahu mereka akan meninggal. Satu yang mereka akan kedepankan ialah ego. Mereka berpikir 'aku harus melakukan apapun yang belum pernah aku lakukan', misalnya pergi ke suatu tempat, atau bertemu dengan seseorang dan lain sebagainya. Dan yang ini bukan sifat Aina. Gadis itu termasuk kategori sifat yang pertama, dia merasa tidak ada gunanya hidup.
Dan inilah yang akan menyulitkan, bagaimana caranya Fardian membuat Aina tergerak untuk menjadi pribadi yang memilih sifat kedua.
Masih terjebak dalam angannya, Fardian tak menyadari kelas dia sudah tidak begitu jauh. Kemudian dia menggeleng untuk menenangkan diri sejenak. Dia melihat pintu kelasnya terbuka, seorang guru keluar dengan raut muka masam.
"Kalian ini kenapa sih? Udah seminggu kalian seperti ini. Tahu seperti itu kalian jangan masuk saja!' decak marah guru perempuan berumur awal tiga puluhan itu. Sambil mendengus, guru itu melirik ke kiri, melihat Fardian berdiri di lorong, lantas berkacak pinggang.
"Fardian, kamu sebagai ketua kelas, tolong urusi mereka. Ibu capek kalau begini terus, kenapa tiba-tiba mereka semua jadi nangis nggak karu-karuan gitu?" Ibu Guru mendesah berat lalu mengangguk. "Oke, kamu yang urus, setelah semuanya kembali baik. Baru kamu lapor ke saya. Kalau belum baik, kalian libur saja." Guru itu pun pergi meninggalkan Fardian dengan mulut setengah terbuka.
"Ada apa sih?" Fardian, sepeninggal guru perempuan tadi langsung bergegas masuk ke kelas. Dia mendobrak pintu agak kasar, saking khawatir ada apa-apa. Ternyata memang benar. Ini tidak bisa di bilang tidak ada apa-apa.
"Kalian kenapa, woy?" sentak Fardian sembari menutup pintu kelas kembali, tetap bergeming memandang teman- teman sekelasnya.
"Huwaaa!" Reksa meraung tangis begitu serius. Tangannya mengucek mata yang sembab. "Aku tidak menyangka bakal seperti itu hidup Aina, kasihan sekali. Huwa!"
Fardian baru membuka mulut hendak bicara, saat seoran dari mereka ternyata melolong tangis lebih keras, mulut Fardian pun menutup lagi.
"Gila, aku nggak sanggup, Far." Pemuda berbadan tegap penuh otot itu berguling di bawah-di samping bangkunya, dia memeluk tas miliknya sambil meneriakkan kesedihan. "Mulai sekarang aku nggak bakal main-main lagi sama perempuan, aku mau serius!"
Kelereng mata Fardian nyaris melompat melihat pemuda yang biasanya tega nan kuat itu melolong tangis. Dia baru ingat kalau Kenan tadi berusaha melaksanakan misi menaklukkan hati Aina. Jika dia sekarang kondisinya seperti ini, berarti....
"Mati." Reza membentak, lebih ke dirinya sendiri. "Aku mau mati rasanya, Far. Aku udah banyak mainin perasaan cewek, aku nggak guna, Far. Huwaa...."
Fardian mendesah. Ok! Sudah jelas karena apa mereka bisa seperti ini. ini semua berkat Aina.
Fardian menoleh ke atas meja Reksa, di sana terdapat laptop yang maish menyala. Buru-buru Fardian mengecek laptop tersebut, tertera di dalamnya sebuah rekaman yang baru saja diputar. "Reksa, kau mneyadap ponsel Kenan, lalu mendengarkan juga pembicaraan mereka?" tanyanya seketika.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lovable (END)
RandomTiga pemuda ini jagonya masalah cinta. Tiga pemuda ini ahlinya menyatukan hati. Tiga pemuda ini Eyang Comblang sejati. Tetapi, ketika gadis itu datang dan pemintaannya ia utarakan. Entah rencana seperti apa yang bakal Tiga Pemuda ini pakai. "Tolong...