Puna berjalan dengan santai di bawah derasnya hujan. Satu-satunya pelindung Puna ialah payung kuning peninggalan sang ayah. Wanita yang baru memasuki usia dua puluh tahun itu tampak santai menginjak air yang tergenang. Bahkan angin kencang serta petir tak membuatnya ingin cepat-cepat pulang.
"Terus turun, tanpa jeda. Ciptakan suara, tutupi kebisingan. Sembunyikan isakku, hujan." gumam Puna lalu merentangkankan tangan kirinya. Seketika air menyembur ke tubuhnya. Cukup banyak, membuat ia basah kuyup.
Puna yang tidak tahu apa-apa bahkan membiarkan matanya terbuka, dan terkena semburan air.
Puna mengedipkan matanya berkali-kali. Sebuah mobil melaju pergi. Puna merasa kesal karena sang pengemudi tak berhati-hati dan membuatnya basah. Puna yang sibuk memeras bajunya, dikagetkan dengan kedatangan mobil yang membuatnya basah kuyup. Puna menatap mobil itu seperti tak asing. Seorang pria keluar dari dalam mobil. Berlari kecil sambil menutupi kepalanya dengan jaket yang ia kenakan.
"Maaf."
Puna menatap pria itu, lalu langsung membagi payungnya. Bahkan ia membagi seluruh payungnya untuk pria di hadapannya—sebab payung tersebut cukup kecil jika digunakan untuk berdua.
"Apa yang lo lakuin?"
Puna termangu dan setia memayungi pria itu.
"Saya cuma gak mau kamu basah." kata Puna sedikit berteriak, sebab suaranya tak mungkin mengalahkan suara hujan.
"Lo bego atau gimana?"
Tubuh Puna ditarik paksa, hingga menempel sempurna pada pria itu. Mata Puna membundar, ia merasa jantungnya tidak berada di tempat. Tiba-tiba saja ia dirangkul, dan dituntun masuk ke dalam mobil.
"Tidak usah." Puna angkat bicara begitu pintu mobil dibuka.
"Jangan bawel, buruan masuk."
Tidak ada pilihan lain, Puna langsung masuk dengan kondisi basah kuyup. Sementara pria itu langsung beranjak untuk masuk ke dalam mobil—dan duduk di kursi kemudi.
"Gue benar-benar minta maaf. Gak seharusnya gue melaju di genangan air."
"Iya gak pa-pa. Sekarang saya boleh pergi?" Puna merasa tidak kuat berlama-lama bersama pria itu. Ia merasa jantungnya akan meledak.
"Jangan. Sebagai permintaan maaf, biarin gue antar lo."
Puna pun tak menolak. Ia diantar pulang ke rumah sesuai yang pria itu katakan.
"Nama lo siapa?"
"Puna Kiara, panggil aja Puna."
"Nama gue Rafa. Sekali lagi gue minta maaf."
"Iya, saya maafin. Kamu tidak mau masuk dulu? Baju kamu juga basah, jika dibiarin nanti kamu bisa masuk angin." kata Puna begitu keduanya tiba di toko bunga yang Rafa singgahi.
"Kalau lo gak keberatan, ya gue mau." Rafa yang sudah menggigil sejak tadi langsung turun dari mobil dan dipersilahkan masuk ke rumah oleh Puna. Dengan cepat Puna mengambil handuk dan memberikan Rafa pakaian bekas peninggalan sang ayah.
"Kamu bisa ganti pakaian di kamar mandi."
"Oke, lo juga ganti baju, ntar masuk angin."
Puna tersenyum dan mengangguk. Ia segera melangkah untuk mengganti pakaian, dan menyiapkan teh panas untuk tamunya malam ini.
Selang beberapa menit, Puna keluar dari arah dapur. Ditangannya sudah ada nampan berisi dua cangkir teh panas. Dengan langkah pelan Puna mendekati Rafa yang sedari tadi menunggu di ruang tamu, kemudian meletakkan teh di atas meja.
"Gue minta tolong lagi boleh gak?" tanya Rafa begitu Puna tiba. Tubuhnya gemetar. Telapak tangan saling beradu gesek untuk menciptakan kehangatan. Rafa sendiri tidak tahu kenapa ia merasa sangat kedinginan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello Nayla [TAMAT]
Novela Juvenil"Caraku mencintai bukanlah dengan memilikinya, Tapi dengan cara melindunginya, membuatnya bahagia..., tersenyum. Dan mengobati semua lukanya." - Rafabry Andika(Rafa) [ 1216 ] [ DILARANG MENJIPLAK CERITA INI! CERITA INI MURNI DARI PEMIKIRAN PENULIS...
![Hello Nayla [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/66006689-64-k719316.jpg)