Kesebelas

36 3 3
                                        

Aku suka biru langit siang, berkelipnya langit malam.

Aku Roy, seorang akuntan muda di perusahan kelas menengah. Jika kau melihat ada segelas kopi di mejaku, itu bukan milikku. Aku tak terlalu suka minum kopi, mungkin teh lebih nyaman.

Seseorang yang selalu membuatnya untukku ada dilantai atas. Seorang sekertaris perusahaan.

Aku tak pernah meminum kopinya, namun jika ia kembali gelas itu sudah kosong. Aku tidak membuangnya, Adji yang melakukan itu. Maksudku meminumnya. Ya, aku tahu dia naksir berat pada sekertaris cantik seperti Diana.

Aku yakin sudah lama pula Adji menahan rasa cemburunya padaku. Hampir 2 tahun kami bekerja bekerja bersama, mungkin selama itu juga ia menyembunyikan semuanya. Namun aku tahu, karena aku teman baiknya.

"Ayo pulang, Roy... kerja terus. Ngga capek apa?" Ajaknya sore itu.

"Maaf ji... kayaknya gua belakangan lagi pulangnya." Sambil menunjuk tumpukan tugas.

"Lembur terus... gua aja ga pernah dikasih lemburan sama atasan, bentar lagi putus kontrak kali," jawabnya.

"Jangan ngomong gitu, mungkin dia care to you." Jawabku sambil menarik kursi ke meja kerja.

"Yaudah, gua duluan." Ia membalikkan badannya dan langsung melangkah pergi.

Setelah ini, dia akan datang membawa secangkir kopi yang tak pernah ku minum. Aku mengusap wajah. Kenapa harus aku yang terjebak dalam ruang cinta antara teman-temanku?

"Roy...." Diana sudah datang.
Kulihat tetap dengan secangkir kopi seperti biasanya.

"Bos ngasih tugas banyak lagi?" Tanyanya sambil menaruh cangkir di mejaku.

"Iyaa... begitulah kira-kira." Jawabku sambil menarik nafas panjang.

"Ooh... jangan capek-capek yaa, aku udah pulang. Mau ditemenin ngga?"

"Ohh, ngga usah makasih. Kopinya aja cukup ko," jawabku cepat-cepat.

"Hmm... yaudah aku duluan ya." Lalu Diana pergi meninggalkan kantor.

Aku menghembuskan nafas. Hampir setiap sore dia menggodaku. Apa yang dirasakan Adji jika dia melihatku seperti ini?

Ku dengar langkah kaki memdekat. Diana kembali sambil mergoh tasnya, dan jalan terburu-buru. Lalu memberikan selembar tiket padaku.

"Dateng ya, jemput aku di kantor aja." Ucapnya sambil pergi terburu-buru.

Aku memandangi tiket tersebut. Sebuah tiket konser. Aku memamg suka dengan lagu-lagu dari band tersebut. Liriknya seperti, katakanlah seperti membawa perasaanmu ke awang-awang. Sore minggu ini, sepertinya aku ada acara.

Apa aku berikan saja pada orang lain? Ketimbang tiket ini sia-sia. Oh... mungkin Adji mau menerimanya. Dia juga suka band ini, dan kesempatan pergi bersama Diana tentunya. Hmm... baik, ku berikan ini besok. Gumamku dalam hati. Lalu melanjutkan pekerjaanku.

Esoknya aku tunggu kedatangan Adji. Tak biasanya dia terlambat. Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Pukul 08.37 dia belum datang juga. Tidak masuk?

Aku putuskan untuk meneleponnya, namun handphonenya tidak aktif. Aku takut jika Adji menjadi korban pembunuhan seperti yang ada di berita-berita tv lokal. Kalau begitu nanti sore aku kunjungi saja rumahnya. Baiklah, kembali bekerja, semoga hari ini tidak lembur.

Ketika HRD akan memberikan tugas lagi untukku, aku mengelak dengan alasan kondisi badanku yang tidak fit. Jadi aku ingin beristirahat. Syukurlah dia mau mengerti. Segera ku bereskan barang-barangku dan pergi ke rumah Adji.

"Permisi, Adji"

"Iya, mm... siapa ya?" Jawab seorang perempuan saat membuka pintu.

"Oh... saya temennya Adji, dia lagi di rumah ngga?" Tanyaku.

"Belum pulang dari tempat kerjanya," jawabnya.

Adji tidak masuk kerja, perempuan ini bilang kalau Adji belum pulang. Kemana anak itu? Lagipula sejak kapan ia memelihara perempuan di rumahnya?

"Oh... makasih kalo gitu, nanti bilangin aja roy dateng." Kataku sambil melangkah pergi.

"Iya... hati-hati di jalan ya bang" aku menoleh kebelakang sesaat dan tersenyum. Kemudian berjalan kembali.

Andai hati tak serumit ini

----------------

Maaf banget kalo updatenya super lama, maaf banget yaa...
Ga disengaja update dilama lamain.
Vote sama komentar ya

Langkah Pergi HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang