sembilan

2.6K 150 8
                                    

Hai! Ketemu lagi. Aku mau update sekalian ngucapin mohon maaf lahir&batin yaaa.

Makasih juga yang udah baca sampai part ini walaupun dikit tetap buat seneng kok :3

Happy reading!

===

Handphone ku bergetar dimeja, tanda voice mail masuk untuk kesian kalinya. Aku tetap tak menggubris benda tipis itu, dan menyibukkan diri melihat pakaian pilihan Mbak Tika dari sejam yang lalu.

"Ada pesan, tuh." Tegur Mika, seorang tata rias disini yang duduk di ujung sofa sama denganku.

"Biarin aja, dari orang asing."

Mika mengangguk, melanjutkan membaca majalah Fashion.

Aku meraih handphone, ketika satu pesan masuk lagi. 20 panggilan ditolak dari nomor tak bernama. Tidak perlu dibuka aku sudah tau siapa yang meneleponku sebanyak itu.

"Heh, handphone lo di silent. Geter-geter melulu, ngeganggu." Ucap Pani, menunjuk ruang tata rias yang lumayan ramai.

Aku menurut tanpa mengomel, menonaktifkan sinyal menjadi airplane, lalu lanjut kembali membaca majalah. Tanganku sibuk membalikan tiap halamannya, tetapi pikiranku masih tak terkendalikan.

Aku meraih handphone kembali, membuka aplikasi kalender, memastikan bahwa perkiraanku tidak salah.

"Masih ada jadwal, Pan?" Tanyaku.

Pani menoleh dari buku Sakti-nya, mengingat sesuatu kemudian menggeleng. "Gak ada. Kenapa?"

"Temenin gue kebengkel. Ngambil mobil."

"Boleh. Tapi gue cuma bisa ngantar, mau nemenin Nyokap check-up."

"Yaudah, sekitar 15 menitan lagi kita cabut."

Pani mengangguk patuh, lanjut membaca buku, sementara aku keluar dari ruangan tata rias untuk menemui Mbak Tika.

===

"Sorry, gue gak bisa temenin."

"Nope. Thanks, ya."

Aku melepas seat belt, mencubit pipi Pani sebelum turun dari mobilnya. Aku masuk kebagian resepsionis, menanyakan kabar mobilku, dan sekitar sejam an sudah akan bisa diambil.

Aku menunggu di kursi panjang samping meja resepsionis yang tak terlalu ramai pengunjung. TV yang sengaja disiapkan tergantung didinding, menarik perhatianku selama mobilku diselesaikan. Hingga seseorang menyela.

"Bi."

Kaget, tentu saja. Aku menelan saliva melihat bayangan Aldric disini. Seperti mengelak, aku langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Namun, tangannya lebih dulu mengamitku.

"Saya mau bicara sama kamu." Ucapnya tanpa melepaskanku.

"Bicara apa?" Tanyaku langsung.

"Tidak disini."

Aku tidak memberontak ketika Aldric menarik tanganku keluar dari lobby, menuju mobilnya terparkir. Lewat tatapan, dia menyuruhku masuk kedalam mobilnya yang lagi-lagi membuatku menurut.

"Kenapa kamu memblokir nomor saya?" Tanyanya, setelah kudengar dia mengunci semua pintu mobil.

Aku membuang muka kearah jendela. "Itu gak penting."

"Penting."

Kudengar Aldric menghela nafas, seperti menahan emosinya atau memang ia tidak bisa marah sama sekali.

Mistake On RopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang