(4) Sulit Merelakan

611 63 7
                                        

Happy reading ^^

"Aku pengen ketemu mama, Zaf. Nggak usah lebay gini juga kali. Aku nya udah gapapa kan."aku masih memberontak, berusaha membujuk Zafran agar aku diizinkan keluar ruangan menengok mama. "Nanti. Setelah detak jantungmu membaik."jawabnya singkat.

Hening. Masing-masing dari kami diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya berdua dengan Zafran di satu ruangan sepi seperti ini...tentunya aneh. Berasa pengen keluar, terus lari sejauh mungkin.

Hingga 5 menit kemudian. Tanpa diduga, ia meraih tanganku yang bebas dari infus. Aku menatapnya bingung, kesambet apaan ini bocah. Tatapannya menyiratkan penyesalan. Bau-baunya nih, aku bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya.

"Aku minta maaf, Kin. Buat semua kesalahanku di masa lalu. Aku bener-bener brengsek, bisanya cuma menghina dan menyakiti cewek yang jelas-jelas cin-"

"Aku udah maafin. Sejak lima belas tahun yang lalu. Di hari keberangkatanku ke Jerman."aku menatapnya datar. Entah kenapa di posisi saat ini, jantungku berdetak kencang, melebihi kondisi normal seharusnya. Padahal tadi sempet lemah. Untung, si elektrokardiogram belum dipasang. Hahaha bisa ketauan dong detaknya cepet.

"Aku tahu. Tapi bukti-buktinya kamu masih belum maafin aku sepenuhnya, Kin. Aku ngerti itu susah banget dilupain, tapi plis. Aku mohon. Kita mulai semuanya dari awal."

Aku menyeringai tipis. "Apa yang perlu kita restart, Zaf? Kita nggak punya hubungan apapun sebelumnya. Bahkan berteman aja kita enggak."jawabku tajam. Syukurin, kena kan lo.

Ia mengacak rambutnya frustasi. "Aku kudu gimana, Kin? Aku harus ngapain biar kamu bener-bener maafin aku dan kita mulai berteman setelahnya."

Kali ini aku tersenyum kecil. Meskipun begini tampangnya, aku ikhlas kasih senyumnya. "Kamu nggak perlu ngapa-ngapain. Tunggu aja waktu yang pas. Nanti juga aku bakalan baik-baik sendiri."

Aku menaikkan alisku. "Toh aku nggak pernah jahatin kamu, kan?"tanyaku kalem. Dia menghela napas, lalu mengangguk.

Baru kali ini kami mengobrol dengan durasi cukup lama. "Kamu nggak minta maaf dalam rangka minta restu buat tunangan sama kakakku kan?"aku tertawa. Kalo iya, wuih langsung nggak direstuin.

Dia tertawa. Menggeleng cepat. "Jelas enggaklah. Mau dapet restu atau enggak dari kamu, itu nggak penting."sindirnya sambil masih tertawa. Udah gede masih kurang ajar juga ini orang.

"Jahat! Ya meskipun bener sih. Pasti kalian udah siapin acara itu jauh-jauh hari. Kalian pacaran udah berapa lama?"

"Satu tahun."

Aku manggut-manggut. Baru setahun doang aelah, dan udah mau tunangan. Nah gue udah dua tahun, gini-gini aja gak ada perkembangan. Padahal di usianya ke-27, Adrian sudah sepantasnya menikah. Toh juga udah mapan, sukses karir. Cita-cita jadi dokter saraf udah tercapai. Apalagi yang perlu dikejar coba.

Atau mungkin...

Penyebabnya aku?

"Kalo kamu, pacaran sama Dokter Adrian udah lama ya?"

"Satu tahun lebih lama dari umur hubunganmu."

"Hmm. Lumayan. Kenapa nggak dilanjutin?"

Aku pasti tahu maksudnya. "Mungkin masing-masing dari kami belum siap."jawabku, tersenyum tipis. Lalu mengalihkan pembicaraan mengenai sekolah-sekolahnya dulu dimana saja, hingga sampai pada pembicaraan itu.

"Alasan kamu ambil spesialis jantung, karena dirimu sendiri?"

"Sebenernya bukan. Aku ngelakuin ini semua buat mama. Dulu mama yang punya cita-cita jadi dokter jantung. Tapi karena perusahaan kakek harus dipindahtangankan ke mama, jadinya mama nggak bisa kuliah kedokteran."

(Not) A Stupid LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang