Hari Minggu. Untuk profesi selain dokter dan perawat, mungkin hari Minggu adalah hari yang tepat untuk bersantai atau pergi berlibur bersama keluarga, mengunjungi tempat-tempat indah dan mengukir kenangan. Tapi karena posisiku sebagai dokter umum dan masih ‘baru’ di rumah sakit ini, aku tidak boleh bersantai-santai di rumah dan menonton kartun doraemon favoritku jam 9 pagi.
Sekarang saja, meskipun masih jam 8, aku harus siap-siap pergi ke rumah sakit. Demi mengikuti rapat mengenai pasienku yang akan dioperasi nanti sore dengan Departemen Orthopedi.
Ini sudah dua minggu setelah masa operasi mama. Aku sangat senang, melihat mama sehat dan terlepas dari bayang-bayang penyakit jantungnya. Dan ya, memang, aku masih terbebani dengan penyakitku. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, daripada kepalaku pusing. Aku senang melihat papa bahagia karena kesembuhan mama, juga kak Rara yang lega dan tak perlu cemas setiap waktu memikirkan mama di rumah.
Melihat mereka semua bahagia, aku merasa hidupku lengkap. Dilihat dari kondisi mama pascaoperasi, jantung barunya cocok dan dapat menyesuaikan fungsi kerjanya dengan baik. Tidak ada lagi penyakit mama yang kambuh, tidak ada lagi kepanikan karena kondisi mama yang memburuk setelah ini. Hanya saja, mama tetap perlu meminum obat hingga beberapa bulan ke depan.
Andai kalian menjadi aku, tentu kalian juga akan merasakan kebahagiaan yang sama. Saking bahagianya, bahkan aku lupa bahwa sampai detik ini aku belum mendapatkan pendonor jantung yang cocok untuk diriku sendiri. Aku bisa bertahan hidup dengan jantungku 23 tahun ini, sedangkan mama hampir 50 tahun. Aku optimis dapat bertahan dengan kelainan jantungku untuk belasan tahun kedepan karena mama.
Meskipun aku juga tidak lupa, bahwa rencana Tuhan belum tentu sama dengan rencanaku.
***
Aku keluar dari ruangan rapat, masih dengan setelan jas putihku. Hingga sebuah telapak tangan menutup kedua mataku, dan langkahku terhenti.
“Adli, lepasin gak!”teriakku tertahan. Adrian tertawa dan memutar bahuku hingga menghadapnya. “Kok kamu tahu kalo itu aku?”tanyanya ceria. Tumben-tumbenan raut wajah dinginnya berubah seceria ini. Hmm, mencurigakan.
“Aku hafal parfum yang kamu pake, sayang.”jawabku memutar bola mata. Adrian tersenyum lebar, sebelah tangannya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Inilah hal yang kusukai dari Adrian, diem-diem romantis.
“Kamu kenapa sih seneng banget? Dapet bonusan gaji ya? Hayo ngakuu.”godaku seraya menaikturunkan kedua alisku. Sontak lelaki itu menyentil keningku. “Masih kurang gajiku jadi dokter bedah saraf? Calon istriku matre juga ya, ternyata.”aku tertawa melihat ekspresinya. Mendengar kata ‘calon istri’ membuat pipiku bersemu merah.
Beneran, hari ini tuh langka. Memang sih, bukan hanya hari ini saja Adrian tampak ekspresif seperti ini. Tapi dua tahun berpacaran dengannya, aku tahu pasti. Dia tidak mungkin seekspresif ini kalau tidak ada hal yang benar-benar membuatnya bahagia.
Dan aku, seperti biasa, tidak akan menanyakan apa yang terjadi. Hanya bisa menunggu sampai dia menceritakannya sendiri padaku. Pernah sekali, aku menanyakan sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan. Dan kami perang dingin selama sebulan karenanya. Aku tahu, Adrian memiliki sifat tertutup, bahkan denganku─orang yang satu-satunya dia punya di dunia ini─walaupun aku belum menjadi keluarganya.
Sifat tertutupnya itu sama sepertiku.
“Kin, jadwal operasimu masih jam lima sore nanti kan? Sekarang, mau ikut aku ke suatu tempat?”Adrian menepuk kepalaku, menatapku penuh harap. Sumpah, hanya ada dua orang di dunia ini yang membuatku gampang luluh karena tatapan mata seperti itu. Yang pertama Rian, dan kedua Adrian.
“Selama itu bukan jurang atau sumur, aku mau kok Yan.”aku nyengir. Adrian tertawa kecil, menggandengku menuju pelataran rumah sakit. “Oh ya sayang, kamu gak perlu khawatir sama tugas pemantauan rutin pasienmu nanti siang. Aku sudah bilang Dokter Ridwan kalau kamu akan kembali ke rumah sakit nanti sore menjelang operasi.”ia tersenyum, menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran. “Segampang itu? Dan Dokter Ridwan kasih izin?”tanyaku kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) A Stupid Love
Teen Fiction[Sequel Regret]-nggak harus baca kok, monggo dibaca kalo mau- Cantik sih cantik, tapi kalo bodohnya kebangetan? Siapa coba yang mau. Kinara, gadis kecil yang selalu mendapat nilai telor di pelajaran matematikanya. Hidupnya selalu dibanding-dibanding...
