Sebulan lebih gak update, kangen nulis ._. Happy reading ^^
Aku benar-benar gugup. Mati kutu, kicep. Rasanya aku ingin tenggelam ambles ke dalam tanah, atau kalau perlu menghilang seketika digondol burung gagak.
Zafran membahas masalah itu.
Topik yang selalu kuhindari saat pertama kali bertemu dengannya bahkan hingga detik ini.
Akhirnya, hanya pertanyaan bodoh yang terlontar. "Janji...apa?"dan aku merutuki responku yang pura-pura bego seperti ini.
Atau memang aku sebenarnya masih bego? Kalau iya, itu artinya perkembanganku bertahun-tahun kurang signifikan.
Zafran tertawa, tawa yang terdengar menyeramkan di telingaku. Oke, aku lebay. Suara tawanya khas cowok ganteng. Tapi di situasi sekarang, tawanya membuatku tegang.
Siapapun tolong selamatkan aku dari situasi ini!
"Aku tahu kamu gadis bodoh." Sialan. "Tapi aku juga tahu, kamu tidak sebodoh itu melupakan janjimu sendiri."lanjutnya, menatapku lurus-lurus. Sial, aku keder ditatap seperti itu. Nyaliku menciut apalagi sekarang, tatapannya intens ke arah wajahku yang menunduk.
"Kamu masih menyukaiku hingga detik ini?"
Pas sasaran! Pertanyaan yang kedengerannya penuh rasa ge-er ini memang yang sedari tadi kutunggu-tunggu. Bukannya aku pintar meramal, atau ahli membaca pikiran orang, tapi lelaki macam Zafran yang pedemeternya tinggi begini pasti akan menanyakan hal tidak bermutu seperti itu. Dan tentu saja, aku akan memanfaatkan pertanyaan ini untuk mengalihkan topik.
Aku mendongak, menyunggingkan senyum sebelah yang seharusnya terlihat mengintimidasi. Tapi sepertinya tidak begitu. Aku lupa, selain kepedean, Zafran adalah orang yang sulit diintimidasi. Itulah yang menyebabkan dia dipilih menjadi ketua kelas selama 3 tahun berturut-turut dulu.
"Aku bukan cewek bodoh yang mengharap cinta dari cowok sepertimu selama belasan tahun, Zaf. Apalagi setelah kejadian itu. Oke, pasti kamu mengataiku pengecut atau apalah waktu itu. Tapi aku sangat bergantung pada Rian, dan akan mengikutinya kemanapun dia berada."
Jawaban yang menggantung. Aku tidak mengatakan aku tidak menyukainya detik ini kan? Yah, aku sendiri sebenarnya bingung dengan perasaanku.
"Lalu, apa kamu mencintai Adrian?"
Aku tersentak. Apa maunya sih? "Itu bukan urusanmu."jawabku singkat. Dia malah tersenyum tipis, "Sudah kuduga, kamu tidak mencintainya."
Dasar manusia sotoy!
"Hei, kamu nggak bisa dong bilang begitu! Kamu nggak kenal aku, nggak tau apa-apa tentang aku! Kalo sampe omonganmu tadi kedengeran Adrian, bisa-bisa pulang-pulang tinggal tulang, tau?"ketusku sengit.
"Hmm... Oke oke. Aku tidak akan mengulangi perkataanku tadi. Jadi, gimana kalo sekarang kita taruhan?"tanyanya sambil menaikkan alis bergantian.
Bahaya nih. Yang begini ini, kudu diteliti bener-bener.
"Taruhan apaan? Gue nggak punya apa-apa selain mobil dan duit yang nggak seberapa. Rumah aja gue masih numpang orang tua!"
"Tenang. Taruhannya gak melibatkan harta masing-masing kok."
Wah, tambah bahaya.
"So?"
"Pertunangan gue sama kakak lo kurang tiga minggu lagi. Gimana kalo kita taruhan? Selama tiga minggu ini, kalo lo bisa buktiin janji lo waktu itu, yaitu bikin gue jatuh cinta sama lo dan bertekuk lutut di depan lo, lo boleh ngelakuin apa aja terhadap gue. Lo boleh jadiin gue pembantu kek, minta ini itu apa ajaaa asal gak minta surga, gue akan turutin. Gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) A Stupid Love
Teen Fiction[Sequel Regret]-nggak harus baca kok, monggo dibaca kalo mau- Cantik sih cantik, tapi kalo bodohnya kebangetan? Siapa coba yang mau. Kinara, gadis kecil yang selalu mendapat nilai telor di pelajaran matematikanya. Hidupnya selalu dibanding-dibanding...
