Shin Minhyo mematung di tempatnya. Gadis itu berbalik dengan tenaga yang ia yakini hanya seujung kuku. Dari jarak seperti ini ia dapat melihat wajah lelaki di hadapannya. Wajahnya sedikit gelap karena tak ada penerangan. Wajahnya sedikit meremang dan ia hanya dapat melihat rambut berantakan Sehun yang terkena sorotan lampu yang tak sengaja mengenai belakang kepalanya.
"Bisakah kau membukakan pintu ini untukku?" Gadis itu membuka suaranya takut-takut. Nada suaranya bahkan terdengar seperti cicitan anak ayam. Ia seolah menciut. Sungguh. Ia tak tahu apa jadinya jika Sehun melihatnya seperti ini. Apakah ia juga akan di pecat dari pekerjaannya sebagai sekertaris sementara lelaki itu? Ia berharap Sehun tak akan sejahat dan setega itu padanya. Semoga saja.
Lampu akhirnya menyala. Tentu saja lelaki itu yang menghidupkan lampu. Tangannyapun masih berada diatas tempat yang ia yakini adalah saklar lampu. Dari jarak seperti ini mereka sama-sama berpandangan. Saling menatap satu sama lain. Gadis itu tak tahu kenapa ia harus segugup ini ketika berhadapan dengan Oh Sehun. Tak mungkinkan jika ia mulai menyukai lelaki itu? Tidak. Itu tidak boleh terjadi!
Sehun tersenyum lembut. Matanya menatap lekat wajah gadis di hadapannya. Senyumnya benar-benar membawa angin yang menyejukkan. Gadis itu akui. Sehun mempunyai senyuman yang mempesona bukan main. Senyum tipisnya benar-benar membuat dirinya seolah tak bisa menggerakan persendiannya. Ia hanya dapat terpaku di tempatnya saat ini. Minhyo tak tahu kenapa Oh Sehun tersenyum seperti itu. Jangan tertipu! Itu hanya topengnya saja. Gadis itu berujar dalam hatinya. Menarik nafasnya kembali lalu tersenyum kaku. Lagi.
"Ada apa dengan pakaianmu?" Lelaki itu bertanya padanya. Lagi. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang saat ini. Bukan karena ia melihat lelaki itu, tetapi karena dirinya tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang lelaki itu lontarkan padanya.
"Tentu saja aku akan bekerja. Bisakah kau bukakan pintu ini untukku?"
Lelaki itu menatap gadis di hadapannya dari atas rambut hingga ujung kaki. Tatapan matanya begitu intens dan tajam. Sementara gadis itu semakin merasa tak nyaman karena pandangan Sehun yang melihatnya. Apakah ada yang salah dengannya? Entahlah ia tak tahu kenapa Sehun melihatnya seperti itu.
Lelaki itu menjilat bibir bawahnya. Menahan gemuruh dadanya yang seperti ombak laut yang menghantam batu karang dengan kerasnya. Udara terasa memanas dalam tubuhnya. Sehun melangkahkan kakinya mendekati seorang gadis yang tengah memeluk tas tangan yang menutupi bagian dadanya. Takut-takut jika Sehun akan melakukan hal aneh yang di luar dugaan.
Lelaki itu kini tepat berhadapan dengan gadis tersebut. Kembali menatap intens seorang gadis yang sepertinya tengah menahan ketakutan. Minhyo terus mencengkram tas tangan yang berada didepan dadanya. Ia kembali merasakan firasat buruk sekarang. Sehun mengelus wajah gadis itu lembut. Wajahnya benar-benar lembut dan masih sama cantiknya seperti dulu. Lelaki itu tersenyum simpul. Sementara Minhyo hanya dapat menundukan kepalanya dalam-dalam. Ia tak ingin terbuai oleh pesona Oh Sehun yang memabukkan ketika ia memandangnya. Tolong hentikan dan biarkan ia pergi dari sini!
"Me-menjauhlah dariku!" gertak gadis tersebut. Nadanya sedikit bergetar. Ia tak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Ketakutan selain dirinya yang merasa sendirian beberapa tahun lalu. Kejadian kelam yang tak ingin ia ingat namun terus berada di ingatannya.
Sehun mendekatkan wajahnya. Menyentuh dagu gadis tersebut dengan ujung jarinya. Membuat gadis itu menatapnya. Berhasil! Gadis itu mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Sehun dengan pandangan ketakutan. Sehun mendekatkan wajahnya. Menipiskan jarak yang membelah diantara keduanya. Sementara Shin Minhyo. Gadis itu hanya diam. Sekujur tubuhnya seolah kaku seperti sudah tercebur kedalam danau kutub yang sudah membeku beberapa tahun lamanya. Ia bahkan dengan jelas merasakan hembusan nafas Sehun yang menerpa kulit wajahnya. Begitu lembut dan kembali membuatnya mabuk. Sehun benar-benar memabukan. Gadis itu bahkan tak dapat merasakan kakinya yang masih berpijak ketika lelaki itu menempelkan bibirnya. Ia tak dapat bernafas dengan lega sekarang. Lelaki itu menarik tengkuknya. Memperdalam ciumam mereka. Gadis itu tak membalas. Ia masih merasakan terkejut bukan main. Ia tak tahu alasan kenapa Sehun menciumnya seperti ini. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya karena tak kunjung mendapat balasan dari gadis tersebut. Gadis itu meringis kesakitan. Rasa ngilu menjalari bibir bawahnya. Sial! Tanpa sadar ia membuka mulutnya. Membiarkan lidah lelaki itu dengan bebas mengabsen apapun yang berada di dalam mulutnya. Gadis itu masih tak membalas apa yang lelaki itu lakukan. Sungguh. Ia ingin memberontak namun semuanya benar-benar diluar dugaan. Itu hanya angannya saja. Karena pada dasarnya raganya malah membalasnya. Ia terbuai oleh ciuman lelaki itu. Matanya terpejam. Saling menikmati satu sama lain. Lelaki itu mengangkat tubuh gadis mungil tersebut tanpa melepaskan pautannya. Sementara gadis tersebut sedikit terkejut karena Sehun menggendongnya. Gadis itu hanya dapat merangkulkan kedua lengannya pada leher lelaki itu bila tak ingin jatuh kebawah dan merasakan sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Sehun membawanya menuju ruang keluarga yang dimana terdapat sebuah sofa besar panjang yang terlihat empuk. Gadis itu memukul punggung tegap Oh Sehun. Lelaki itu membopongnya dan menghempaskan tubuh gadis tersebut ke sofa besar. Sungguh punggung dan tubuhnya terasa seakan remuk sekarang.
"Kau gila!" Gadis itu berteriak. Ia memegangi punggungnya yang menghantam badan sofa.
"Berhenti dari pekerjaanmu mulai hari ini!"
"Kau tak berhak melarangku!" gadis itu mendesis. Ia tak berteriak. Gadis itu tak ingin seluruh penghuni rumah ini terjaga karena dirinya yang tak bisa mengontrol nada suaranya dengan baik.
Lelaki itu merogoh sakunya. Mengambil secarik kertas yang ia lipat di dalam saku celananya dan memberikannya pada seorang gadis yang tengah menatapnya dengan geram. Sehun tahu gadis itu sangat tak menyukai perlakuannya tadi. Terlihat dengan jelas. Mimik wajahnya bahkan seolah sudah siap untuk menyantap dirinya. Satu hal yang Sehun ketahui. Lelaki itu kembali menambah rasa kebencian gadis tersebut. Gadis itu tak mengambilnya. Ia hanya diam dan menatap secarik kertas tersebut sekilas dan kembali mengangkat wajahnya dan menatap Oh Sehun yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Buka saja!"
Gadis itu mengambilnya. Membuka secarik kertas yang berisi deretan huruf yang berjajar rapih. Matanya menjelajahi setiap deretan kalimat tersebut. Sungguh. Apa maksudnya ini semua? Haruskah ia mengikuti apa mau lelaki itu?
Peraturan yang harus ditaati oleh Saudari Shin Minhyo.
1. Menjadi asisten di rumah maupun di kantor.
2. Tidak boleh membantah apa yang saudara Oh Sehun katakan.
3. Tidak boleh mencampuri pihak pertama.
4. Pihak pertama boleh mencampuri pihak kedua jika terdesak.
Tertanda.
Oh Sehun.
"Yak! Ini tak masuk akal!" Gadis itu melotot. Matanya menatap tajam Oh Sehun merasa tak setuju.
"Aku akan menggajimu lebih dari semua pekerjaanmu." Lelaki itu tersenyum. Kedua tangannya di masukkan kedalam saku celana trainingnya. Menatap gadis dihadapannya dengan pandangan yang sedikit disombongkan.
"A-apa?"
"Waktumu tinggal lima belas detik."
"Apa kau pasien rumah sakit jiwa,huh?!"
"Sepuluh detik berlalu."
Gadis itu diam. Ia berpikir keras. Tak tahu harus menjawab ya atau tidak. Ia tak ingin membuat pilihan yang salah. Bagaimana kehidupannya? Lagipula hanya menjadi asisten rumah tangga tak masalah kan? Apa ini sebuah keberuntungan baginya?
"Waktumu ha...."
"Baik. Aku terima tawaranmu!" Ucap Minhyo pada akhirnya. Sebenarnya ia tak ingin menerima tawaran itu. Namun mau tak mau ia harus menerimanya. Tawarannya sungguh menggiurkan disaat ia sedang krisis ekonomi dan tak tahu harus tinggal dimana jika tak menerima tawaran lelaki berkulit putih tersebut.
Oh Sehun tersenyum. Lalu menganggukan kepalanya. Terlihat angkuh dan gadis itu tak menyukainya. Sungguh. Ia tak menyukai Oh Sehun. Bagaimana lelaki itu bersikap padanya dan jangan lupakan wajahnya yang menipu. Wajah tampan tak mencerminkan hati yang baik pula. Sungguh. Itu adalah topeng. Topeng yang lelaki itu miliki untuk menutupi sifat aslinya. Sifat angkuh,sombong,arogan. Itulah sifat lelaki itu menurut pandangan gadis tersebut.
"Ganti pakaianmu. Kau terlihat seperti gadis jalang." Lelaki itu tersenyum sinis dan sedikit menyeringai. Tatapannya begitu tajam melihat dirinya dengan balutan pakaian seperti itu. Gadis itu menundukan pandangannya. Menatap dirinya sendiri. Dan menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka menggunakan telapak tangannya yang terbebas.
"Pria mesum!"
Ceklek!
Baik Sehun maupun Minhyo memutar kepalanya kesumber suara. Dimana terdengar bunyi pintu yang terbuka. Mereka berdua menatap pintu tersebut dengan pandangan terkejut bukan main. Menampakan seorang gadis yang tengah berdiri diambang pintu dengan kemeja putih besar yang sedikit longgar.
"Ka-kalian masih terjaga?"
TO BE CONTINUE!
Duh maafkan aku telat update ff ini. Di harapkan votement lagi ya~ dan mungkin untuk beberapa hari kedepan aku bakal update 2 hari sekali karena udah mulai masuk sekolah huft. Maaf masih banyak typo bertebaran huhuhu
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Mommy?! [ON HIATUS]
Fan-FictionApa jadinya jika seorang gadis belia yang berumur 22 tahun sudah mempunyai anak tanpa hadirnya seorang suami yang mendampinginya? Apa gadis itu akan tetap bertahan meneruskan jalan hidupnya untuk merawat dan membesarkan anak tersebut?
![Bad Mommy?! [ON HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/69822725-64-k958677.jpg)