"I really love him. That is the truth."
Author's POV
Sasha meringis saat ia terbangun dengan keadaan mata sembab, bahkan tenggorokannya pun terasa sangat kering. Tubuhnya sangat susah untuk digerakkan. Dengan perlahan, Sasha bangkit dari posisi tidurnya, namun entah kenapa terasa berat seakan sesuatu menimpa tubuhnya. Sebuah gerakan yang berasal dari sampingnya, membuat perempuan itu menoleh dan mendapati wajah tenang Edgar yang masih tertidur pulas. Sasha tersenyum kecil. Tangannnya tergerak menyentuh wajah suaminya yang sama sekali tidak terusik. Matanya yang terpejam, hidung mancungnya, rahangnya yang mulai ditumbuhi rambut tipis dan berakhir pada bibir pria itu.
Bibir yang selalu membuat Sasha ingin mengecupnya berulang kali. Bibir yang hanya pernah menciumnya 2 kali saja. Ya, Sasha akui. Jika ia sangat menginginkan ciuman lembut dari seorang Edgar yang kini telah sah menjadi suaminya. Tapi lelaki ini tidak pernah peka padanya dan malah menyakitinya tepat disaat mereka baru saja memulai bulan madu. Tidakkah ia memikirkan perasaan Sasha? Apa ia pikir, Sasha akan baik-baik saja dengan pengakuannya itu?
"Ku pikir, kamu sudah mulai mencintaiku. Ternyata--" Sasha terisak saat butiran air mata kembali mengalir di wajahnya. "Ternyata kamu masih terjebak pada masa lalumu."
Suara isak tangis semakin kencang saat Sasha memikirkan kisah cintanya yang begitu runyam. Bahkan, ia tidak sesedih ini saat mengetahui mantan calon tunangannya mengkhianatinya. Sangat berbeda. Saat ini, rasanya pisau tajam menusuknya tepat di dada. Sangat sesak bahkan untuk bernapaspun sangat sulit dilakukan.
Hanya Edgar lah satu-satunya pria yang dapat membuatnya menangis semalaman dalam diam. Menurut orang mungkin masalah seperti ini terdengar biasa, namun bagi Sasha, ini benar-benar berdampak buruk disaat laki-laki yang mulai dicintainya menyakiti hatinya. Tentu saja ia tahu, Edgar tidak lagi memiliki niat seperti itu lagi. Pria itu hanya mencoba untuk jujur. Sasha kembali memandangi wajah Edgar dan menangkup pipi lelaki itu dengan salah satu tangannya. "Kamu bodoh!" desis Sasha.
Tiba-tiba tangan besar itu menggenggam tangannya yang masih berada di pipi pria itu. Menyalurkan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Maaf," Sasha tersentak kaget saat kata itu meluncur dari bibir Edgar yang masih menutup kedua matanya. Berhasil mencetak rona merah dikedua pipi Sasha. Seakan-akan rasa kesalnya semalam menguap begitu saja mendengar suara lembut dari pria yang dicintainya. Kedua mata yang tadinya tertutup rapat itu perlahan terbuka dan manatapnya lembut.
"Pagi," kata Edgar dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Sasha yang masih berada di pipinya.
"Pa--" Sasha berdeham, tenggorokannya benar-benar kering saat ini. Menimbulkan rasa perih saat Sasha memaksa untuk berbicara. "Pagi," ucap Sasha pelan dengan suara kecil, namun cukup keras untuk sampai di telinga Edgar.
Ekspresi datar kembali menghiasi wajah Edgar. "Maafkan aku, karena telah berniat untuk memanfaatkanmu," ucap Edgar dengan nada penyesalan. Tangan yang tadinya menggenggam tangan Sasha kini berpindah menyentuh wajah perempuan itu dan mengusap pelan sisa-sisa air mata yang mulai mengering.
"Apa aku membuatmu menangis? Apa aku sangat menyakitimu?"
Tentuu sajaa!! Siapa lagi yang bisa membuatku nangis sampe ingusan gini?!, batin Sasha.
Sasha mengalihkan tatapannya dan menarik tangannya menjauh dari wajah Edgar. Kesal juga mendengar pertanyaan pria itu. Bukankah harusnya Edgar mengatakan 'Maaf aku menyakitimu bahkan sampai membuatmu menangis. Aku sayang padamu'. Boro-boro mengatakan kalimat itu, Edgar bahkan rupanya masih ragu Sasha menangis karenanya. Buktinya dia bertanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Married with Boss ( PAUSED )
Romantik#120 ROMANCE [092616] "Pertama, kita harus beda tempat tidur. Kedua, ga boleh pegang-pegang. Ketiga, dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing," Pria itu menyunggingkan senyuman tipis sebelum meletakkan selembar kertas di atas meja. "Kalau be...
