Author POV
Melody memacu mobilnya membelah jalanan kota Bandung yang sangat lengang. Jelas saja keadaan jalanan saat ini sangat lengang,mengingat saat ini masih pukul 02.00 pagi.
Matanya dengan seksama memperhatikan setiap sudut jalanan berharap ia menemukan Nabilah. Melody juga tak henti hentinya mencoba menelpon Nabilah, namun sia sia Nabilah tak mengangkatknya.
"Dek...kamu dimana?" suara Melody sangat jelas menggambarkan bahwa dirinya saat ini sangat mengkhawatirkan Nabilah
"Dedek" kini air mata Melody kembali menetes untuk yang kesekian kalinya.
Sungguh ulang tahunnya kali ini adalah ulang tahun yang penuh dengan air mata
Sudah hampir satu jam Melody mencari Nabilah, namun ia belum berhasil menemukan keberadaan Nabilah.
Jarak dengan rumahnya kini juga sudah lumayan jauh sekitar 30 Km.
Saat Melody sudah hampir putus asa mencari Nabilah, tiba tiba ia melihat Nabilah sedang duduk di emperan toko sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Dengan sigap Melody segera memberhentikan mobilnya dan segera menghampiri Nabilah.
"Dek... "
Nabilah mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia sembunyikan, kemudian ia menoleh ke arah Melody dengan matanya yang sembab, air matanya masih berlinang membasahi pipinya
"kenapa?ngapain disini?" tanya Nabilah dengan nada dingin
"Maafin kak Melody" ucap Melody lirih sambil berusaha menahan tangisnya. Nabilah tak menjawab, ia kini telah kembali menyembunyikan wajahnya, air matanya terus menetes mengaliri kedua tangannya.
Tubuh Nabilah mulai gemetar,angin malam yang berhembus seolah menusuk sampai ke tulangnya, Namun tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ia mengusap ngusap telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang merasuk raganya.
Melody merubah posisinya menjadi lebih mendekat dengan Nabilah. Ia berniat untuk memeluk tubuh Nabilah yang sudah gemetar. Namun Nabilah malah mendorong tubuh Melody dan membuat Melody sedikit tersungkur ke tanah.
"gak usah sok perduli!"
"tapi kak Melody emang perduli sama kamu dek" jawab Melody yang sedikit meringis karena lengannya terluka akibat dorongan Nabilah tadi
"Bullshit tau gak!" jawab Nabilah dengan penuh kemarahan.
Tak perduli oleh jawaban Nabilah,Melody kembali ingin memeluk Nabilah. Nabilah kembali menolak,ia berontak dalam dekapan Melody. Ia memukul mukul bahu Melody berharap agar ia mau melepaskan pelukannya.
"Lepasin...lepasin kak!!"
Melody tetap memeluk tubuh Nabilah walaupun ia harus menerima pukulan bertubi tubi dari Nabilah
"Lepasin kak!!!"
"Lepasin" tangisan Nabilah kembali pecah dalam pelukan Melody,namun kali ini ia sudah berhenti untuk berontak dan terlihat lebih tenang
"kenapa kak? Kenapa sesakit ini?"
"maaf dek....maaf" hanya itu yang bisa Melody ucapkan saat ini. Melody membelai lembut pucuk kepala Nabilah sambil sesekali ia mengecup nya. Nabilah masih diam dalam tangisnya
"Jangan nangis...maafin kak Melody yang udah buat air mata kamu mengalir" dengan rasa sesal yang menumpuk di dadanya, Melody makin mempererat pelukannya.
"disini dingin....kita masuk mobil ya dek"
Melody berhasil membawa Nabilah untuk masuk ke dalam mobilnya. Melody menyelimuti tubuh Nabilah dengan selimut kesayangannya. Tak ada reaksi apapun dari Nabilah. Ia masih terdiam dengan tatapan kosong.
