Charisa mendapat hukuman membersihkan toilet selama seminggu penuh dengan Justin. Seharusnya Charisa senang. Tapi entahlah, dia merasa sama sekali tidak bersemangat kali ini. Justin yang berdiri di samping Charisa masih menatap Charisa dengan wajah datarnya.
"Ini seperti mimpi." Charisa memutar bola matanya ketika Justin berbicara omong kosong seperti itu.
"Kuharap ini segera berakhir." degus Charisa mengeluh. Justin memiringkan wajahnya dengan alis terangkat, tangannya dengan jahil menyentuh dagu Charisa, gadis itu dengan cepat menepisnya.
"Don't touch me!" katanya ketus. Justin terkikik. Dalam hati dia sangat senang sampai rasanya ingin terus menggoda Charisa.
"Seharusnya kau jual mahal seperti ini dari dulu padaku, mungkin jika kau seperti ini dari dulu, sekarang kita sudah berpacaran." Ucap Justin terkekeh sambil memperhatikan wajah Charisa yang cemberut.
"Dan aku sangat bersyukur bahwa aku baru saja jual mahal padamu saat ini. Karena aku tak akan pernah bisa lagi membayangkan memiliki hubungan dengan laki-laki sepertimu." Justin memberenggut mendengar jawaban Charisa.
"Memangnya aku laki-laki seperti apa?"
"Pikir saja sendiri." Setelah mengatakan itu, gadis itu berlalu tanpa melirik kebelakang lagi. Justin menunduk menahan senyumnya. Entahlah, melihat perubahan dratis Charisa yang mengabaikannya habis-habisan justru membuatnya sangat tertarik pada Charisa.
Justin berlari menyusul Charisa untuk membersihkan toilet hari ini. Untuk pertama kalinya dia sangat bersemangat membersihkan toilet, bersama Charisa. Ah, membayangkannya saja membuat senyum Justin tak bisa menghilang.
Charisa tiba-tiba berhenti. Matanya memandang tajam kearah Justin yang berada dibelakangnya dengan senyuman lebar.
"Tentu saja karena kau bersamaku." Charisa mendengus sambil memutar bola matanya.
"Aku baru menyadari bahwa kau bisa se-sexy ini saat memutar bola matamu." kekeh Justin dengan pelan. Charisa berpura-pura hendak muntah lantas langsung meninggalkan Justin. Lagi. Laki-laki itu-pun terlihat tetap tersenyum.
*******
"Maafkan aku Justin, aku tahu aku ini sungguh kekanakan."
"Aku sungguh menyesal. Apa kau tak akan membuka pintu maaf untukku?"
Justin mengigit bibirnya, menahan tawanya agar tak pecah melihat ekspresi Anne yang menurutnya sangat lucu itu.
"Kau hanya perlu memaafkanku kau tak perlu-" Justin langsung menarik tubuh Anne kedalam pelukannya lantas memutarnya layaknya anak kecil.
"Aku sudah memafaakanmu."
"Lalu kenapa kau memelukku begitu erat?"
"Aku sangat bahagia Anne." Justin melepaskan pelukannya. Anne tersenyum, lantas mencium pipi Justin cepat. Justin membulatkan matanya berpura-pura terkejut. Lantas dia memandang tajam Anne, gadis itu mengigit bibirnya takut namun ketakutannya memudar seiring tawa kecil keluar dari mulut Justin.
Justin mengacak rambut Anne.
"Jika bisa aku pasti akan merebutmu dari Charisa." canda Anne dengan kerlingan. Justin mengernyitkan hidungnya menggoda.
"Lakukanlah karena belum tentu aku dan Charisa benar-benar berjodoh. Aku akan menunggumu untuk melakukan itu."balas Justin dengan candaan yang malah membuat Anne tertawa.
Sementara, di balik pohon tak jauh dari kedua orang itu berdiri sosok Charisa berdiri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Dave dibelakang baru saja datang langsung menepuk pundak Charisa dengan wajah sumringah. Charisa berbalik menatap wajah bahagia Dave.
"Aku telah memutuskan sesuatu."
"Hm?" respon singkat Charisa tak membuat Dave menyembunyikan kebahagiannya.
"Aku akan melamarmu pada tahun pertama kuliah. Kau tahu, namaku sudah tercantum pada saham terbesar Ayahku!" katanya dengan begitu bahagia. Charisa langsung memeluk Dave dan menangis kencang. Bukan karena terharu, tapi dia menangis karena melihat apa yang baru saja terjadi didepan matanya.
"Padahal aku baru saja akan memaafkannya. Tapi dia lagi-lagi membohongiku." gumam Charisa tak jelas. Dave terkekeh sambil mengelus rambut Charisa yang digerai itu.
"Aku tidak tahu bahwa kau sebahagia ini saat aku mengatakan bahwa aku akan melamarmu."
******
"Charisa! Apa yang katakan Dave benar?" Maddi bertanya dengan mata melotot karena sangat terkejut.
"Memangnya apa yang Dave katakan?"
"Kau menerima lamarannya."ucapan Maddi yang begitu keras mengundang tanya dari teman kelasnya. Charisa melirik Maddi putus asa.
"Iya." Charisa langsung berdiri dan berlalu tanpa mengubris pertanyaan beruntun dari Maddi. Dia berjalan disepanjang koridor, beberapa orang menatapnya sambil berbisik. Sepertinya gosipnya beredar dengan sangat cepat. Charisa berhenti ketika Justin yang berlari dari kejauhan dan mendekatinya dengan nafas terengah
Justin membuang nafasnya. Menatap sosok gadis di depannya dengan tatapan kesal luar biasa.
"Apa kau menerimanya?" gadis itu bergeming. Menatapnya dengan tatapan menerawang jauh, mencari titik kebenaran dari lensa Hazel yang menatapnya penuh amarah itu.
Lensa itu masih sama.
Masih membuat dadanya berdesir.
Masih membuatnya merasa hangat ketika menatapnya walaupun kali ini sangat sakit dan sulit.
"Iya." mulutnya bergetar, menahan tangis yang sejak tadi ia tahan.
Ini adalah keputusan akhirku.
"Apakah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia menyukaimu, kau akan menyukainya?" tanya Justin ketus. Gadis itu melepaskan tangan Justin yang mengengam pergelangan tangannya erat.
"Aku menghargai perasaannya, aku tak mungkin membuatnya menunggu selama itu. Aku tidak sepertimu." Tekannya telak. Matanya terus mengeluarkan cairan bening yang Justin benci.
"Kau munafik! Kau hanya menyukaiku, kau bahkan mencintaiku. Kau hanya boleh memandang kearahku!" teriak Justin marah. Gadis itu membuang pandangannya, jika melihat Justin lagi, dia pasti akan luluh. Tidak, tidak lagi.
"Cih. Dasar sialan! Apa kau sedang cemburu sekarang?!" balasnya setelah mencoba mengatur detak jantungnya yang hampir meledak karena gugup sekaligus kesal.
Justin mencibir.
"Apakah aku salah, katakan. Apakah kau sudah berhenti menyukaiku?" kali ini suaranya merendah, menandakan dia ingin memastikan masih ada rasa yang tersisa untuknya dari gadis dihadapannya ini.
Mereka saling memandang. Lama, perasaan hangat itu kembali menguar bak bunga yang bermekaran.
"Kau-"
"Kau masih mencintaiku." justin menakan di setiap katanya. Mengungkapkan keseriusannya. Gadis itu memejamkan matanya.
"Kau tak akan bisa melepaskanku, Charisa. Tidak bisa." bisiknya semakin menjadi.
"Iya sialan! Iya aku masih menyukaimu, bahkan setiap kau berbicara jantungku akan meledak. Lalu, kau mau apa? Kau mau terus membuatku memgemis cintamu yang begitu mahal itu?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Charisa." mengambil jeda, Justin mencoba menarik tangan Charisa namun gadis itu menepisnya cepat.
"Aku harus bagaimana? Aku hanya laki-laki 18 tahun yang baru jatuh cinta. Aku takut untuk memulai, aku takut untuk mengungkapkan perasaanku ini. Aku takut ini hanya perasaan sementara. Aku hanya laki-laki pengecut yang tak berani mengungkapkan perasaannya." jelas Justin perlahan.
Charisa menyusut air matanya.
"Kau bukan hanya pengecut, kau juga brengsek." ralat Charis cepat. Dia berbalik arah, hendak melangkah pergi.
"Tak bisakah kau tetap bersamaku?"
Langkah Charisa terhenti. Tanpa berbalik Charisa bertanya.
"Berikan aku satu alasan mengapa aku harus tetap bersamamu?" terdengar seperti gumaman. Tapi, Justin mendengarnya.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Charisa, Justin menjawab.
"Karena aku mencintaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Childish Vs. Arrogant [END]
Romance"Aku menemukan sosok pria dingin yang aku idam-idamkan! bahkan hinaannya terdengar seperti pujian untukku, apakah aku gila mengatakan hal ini?" -Charisa "Gadis itu benar-benar gila. bagaimana mungkin dia berada di dekatku 24 jam menjagaku seperti se...
![Childish Vs. Arrogant [END]](https://img.wattpad.com/cover/38297894-64-k917812.jpg)