Kisah hidup seseorang itu tidak selamanya berputar pada kisah cinta. Banyak kejadian yang membuat hidup itu lebih berwarna. Keluarga, sahabat, pekerjaan, impian dan masih banyak lagi. Namun, kali ini biarkan aku menceritakan pada kalian kisah cinta sederhana yang kuharap akan kalian ingat selamanya.
--------
Charisa mendesah berat. Ini sudah kedelapan kalinya dia membaca buku matematika itu namun dia benar-benar tidak mengerti. Rumus-rumus yang membuat kepalanya ingin meledak. Justin yang duduk di sampingnya masih membisu dengan buku sejarah yang tengah dibacanya seperti tak berniat untuk membantu Charisa.
"Justin, setelah rumus ini apa yang harus kulakukan?"
"Kalikan lalu bagi." sahut Justin cuek. Charisa menghela nafas. Ingin rasanya di ambilnya buku sejarah itu dari tangan Justin tapi itu bisa membuat Justin marah dan tak mengizinkannya belajar di rumah Justin.
Yah, Charisa memang sedang berusaha keras untuk membuat Justin menyukainya dengan mendatangi rumah Justin setiap hari dengan mengantarkan berbagai makanan. Tapi karena dia akan ada ujian harian besok jadi Charisa sekalian belajar. Sementara Justin tengah belajar untuk ujian kelulusannya satu minggu lagi seharusnya Charisa tak merecokkinya.
"Justin," Charisa merenggek. Justin memutar bola matanya sambil meletakkan buku sejarahnya yang tebal.
"Jika aku tak lulus aku akan menuntutmu!"
"Jangan berlebihan. Kau tidak mungkin tak lulus hanya dengan tidak belajar satu jam." degus Charisa masih menunjukkan wajah kesalnya. Justin hanya menatap Charisa tanpa minat lalu beralih menatap tulisan Charisa yang berantakan.
"Tidak pintar, tulisanmu pun jelek. Wah, kau ini memang kosong. Tak bisa melakukan apapun." ketus Justin kesal setengah mati karena tak bisa membaca tulisan Charisa.
"Setidaknya kalau tidak pintar tulisanmu harus rapi, tak perlu bagus. Cukup rapi saja. Kau ini sungguh luar biasa. Apa ada yang bisa kau lakukan?" Tanya Justin berapi-api, Charisa melotot menatap Justin yang mengatainya habis-habisan.
"Tentu saja ada!" Justin menggerakkan dagunya seakan bertanya apa? Yang langsung dimengerti Charisa.
"Menguntitmu dua puluh empat jam."
"Tentu saja itu sudah kemampuan alamimu. Kan memang hanya itu yang kau lakukan selama ini." Justin bukanlah Justin yang pendiam ketika dengan Charisa. Dia akan berubah banyak berbicara dan terus ingin mengatai gadis itu.
Dan Charisa-pun rasanya selalu kesal juga berbunga-bunga disaat yang bersamaan.
"Ish kau ini. Sudah cepat ajarkan aku. Aku hanya meminta waktumu satu jam!" sunggutnya dengan mulut komat-kamit memaki Justin dalam diam. Justin hanya membuang nafas melihat itu.
"Kau fikir mengajarimu dalam waktu satu jam cukup? Aku membutuhkan waktu seumur hidupku untuk membuatmu pintar." wah, kasar sekali. Tapi Charisa langsung tersenyum lebar.
"Dan aku akan mencintaimu seumur hidupku."
"Aku tidak perduli." Justin berdehem.
"Kau akan perduli nanti."
"Terserah. Berhenti menggodaku dan perbaiki tulisan jelekmu ini!" Charisa hanya mampu menganguk dan mulai menulis ulang rumus yang ia baca di buku. Sebenarnya, selama ini dia tidak begitu sering menghafal rumua. Ah, sejujurnya dia memang tidak hafal. Kemampuannya mengingat rumus sangatlah buruk, berbeda dengan kemampuannya mengingat segala hal tentang Justin. Eh.
"Ini." tangan kanan Charisa menggeser buku tulisnya memperlihatkan pada Justin tulisan tangannya. Justin menggelengkan kepala tak percaya.
"Aku sudah memasukkan angka-angka di soal pada rumus itu tapi hasilnya tetap tidak ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
Childish Vs. Arrogant [END]
Romance"Aku menemukan sosok pria dingin yang aku idam-idamkan! bahkan hinaannya terdengar seperti pujian untukku, apakah aku gila mengatakan hal ini?" -Charisa "Gadis itu benar-benar gila. bagaimana mungkin dia berada di dekatku 24 jam menjagaku seperti se...
![Childish Vs. Arrogant [END]](https://img.wattpad.com/cover/38297894-64-k917812.jpg)